"Justin!! Just! Kumohon dengarkan aku dulu! Just!!"
Felly segera meraih tangan Justin ketika pria itu sudah berada dalam genggaman tangannya. Tidak disangka pria itu menggunakan tangga darurat demi menghindari Felly. Napas keduanya terengah kuat. Felly karena kelelahan dan panik, sedangkan Justin karena kelelahan dan marah.
"Apa?! Apa yang harus aku dengarkan?! Bahwa sebenarnya cerita tentang temanmu yang kau ceritakan padaku itu adalah dirimu sendiri?! SAUDARA KANDUNG YANG SALING MENCINTAI?!" Justin meninggikan suaranya.
Felly menggelengkan kepalanya dengan cepat. Masih menegang erat tangan Justin walaupun pria itu tidak berniat untuk melepaskan genggamannya sama sekali. "Bukan seperti itu, Just. Aku hanya sekedar berciuman saja. Seperti berciuman dengan pria asing saja. Ini... ini penyamaranku. Seperti kau yang menyamar ketika menjadi paparazi."
Justin mendengus mendengarnya. "Aku sangat tahu kau wanita seperti apa, Felly! Kau tidak mungkin melakukan hal rendahan seperti itu!"
"Aku bersungguh-sungguh, Just!"
"Kalau begitu, cium aku!"
"Justin!!"
"Cium aku, Nafelly!!"
Felly tidak lagi menjawab. Mata mereka masih beradu. Saling bertatapan dengan binar berbeda. Justin menatap Felly dengan marah, sedangkan Felly menatap Justin dengan tatapan memohon. Felly lalu melepaskan genggamannya pada tangan Justin. Dia menunduk, menatapi lantai yang mereka pijaki. "Kau benar. Itu adalah aku yang kuceritakan waktu itu padamu." Bisiknya.
Justin mendengus mendengarnya. "Kau tahu itu salah? Kau tahu ucapanku padamu kala itu benar, bukan?"
Felly menggigit bibirnya, kemudian menganggukkan kepalanya perlahan.
"LALU SEHARUSNYA KAU MENCIUMKU SAJA, FEL!!" Justin kembali meninggikan suaranya. "Seharusnya kau tahu malu dan membuat kebohongan lain dengan menciumku!!"
Air mata Felly sudah menggenang. Felly tetap menunduk dan kini sudah memainkan tangannya.
"Di mana harga dirimu, hah?!! Dengan mudahnya kau mengakui di depanku!! Aku memang sahabatmu, tapi bukan berarti kau bisa mengatakan hal setabu ini dengan mudah!!! Kau sama sekali tidak punya harga diri!!"
"LALU AKU HARUS BAGAIMANA, JUST?!!" Felly ikut meninggikan suaranya, bersamaan dengan air matanya yang kini mengalir. Kepalanya mendongak, menatap Justin tepat di mata. "Yang kutahu aku hanya mencintainya! Tidak peduli dia kakakku! Tidak peduli dia mencintai wanita lain! Karena yang kutahu hanya mencintainya!! Kau pikir aku tidak tersiksa dengan perasaan ini? Setiap hari, setiap malam, aku ingin menentang dunia! Menentang keluargaku! Menentang perasaanku sendiri! Tapi aku tidak berdaya!!"
Felly menggelengkan kepalanya dengan tangis yang mengiringi. Justin hanya memandangi Felly dengan pandangan jijik. "Aku tidak berdaya, Just. Aku tetap jatuh padanya. Walaupun 9 tahun aku meninggalkannya, membiarkan diriku sendiri tersiksa, dan mencoba melupakannya. Namun, ketika bertemu dengannya lagi, rasa sakitku selama 9 tahun menghilang. Aku kembali bahagia dan jatuh hati padanya."
Justin masih menatap Felly dengan tatapan tidak percaya. Dia menggelengkan kepalanya pelan. "Kau harus menghilangkannya, Felly. Kau harus meninggalkan pria itu!"
"Aku tahu. Aku sungguh tahu," Felly mengangguk sambil mengusap pipinya yang basah. "Aku sudah mencoba, Just. Tapi semakin aku mencoba melupakannya, semakin sakit yang kurasakan. Semakin aku berpikir untuk meninggalkannya, semakin aku menangis hingga air mataku kering. Aku... aku butuh waktu, Just. Tidak semudah itu melupakannya."
"Walaupun 9 tahun sudah terlewati? Waktu sebanyak itu tidak cukup?"
Felly menggelengkan kepalanya. "Tidak ada pria yang seperti dirinya."
Kembali, Justin menggelengkan kepalanya dengan tidak percaya. "Kalau begitu, selesaikan masalahmu dengannya. Jika tidak, aku akan mengatakan hal ini pada keluargamu."
Felly menggenggam tangan Justin kembali. "Just, kau tidak mungkin setega itu!!"
Justin mengembuskan napas pelan. Dia melepaskan tangan Felly dengan perlahan. "Aku bisa setega itu jika untuk kebaikanmu."
"Just..." Tangis Felly mengencang. Bibirnya bergetar dan napasnya sudah terputus-putus. Bayangan raut wajah orangtuanya yang kecewa membuat d**a Felly berdenyut linu.
"Aku kembalikan Sam padamu. Aku tidak bisa tinggal denganmu untuk sementara ini." Kata Justin, kemudian membuka pintu darurat yang ada di pinggirnya dan keluar dari sana.
Meninggalkan Felly yang menangis di tempatnya. Tangan Felly menyentuh tembok untuk menopang tubuhnya. Tangisnya makin mengencang memikirkan kembali ucapan Justin yang merupakan sebuah kenyataan.
Hubungan mereka memang tabu.
Namun, Felly tidak dapat menahan rasa cintanya.
Walaupun hal tersebut bahkan menyakitinya sangat dalam.
***
Felly kembali ke hotelnya setelah puas menangis. Dia dapat melihat Sam dengan seorang pria, namun tentu pria tersebut bukanlah Felix melainkan salah satu anak buah Felix. Mata Felly menatap Sam yang juga menatapnya lurus-lurus. Anaknya yang dewasa sebelum waktunya itu pasti sudah mengetahui jika ada sesuatu antara Felly dengan Felix.
Felly menghela napas dan berjalan mendekati Sam. Baru saja dia sampai di hadapan Sam dan akan membuka mulutnya, dering telfon Felly nyaring terdengar.
Felly menghela napas, melirik Sam sejenak, lalu meraih ponselnya yang ada di saku celana. Nama Felix yang terlihat di sana membuat Felly menghela napasnya kembali dan mengangkatnya. "Halo?"
"Aku pergi duluan karena ada sesuatu yang penting. Orang suruhanku akan membantumu untuk pindahan."
Felly menggigit bibir bawahnya dengan kuat. Matanya kembali menatap Sam dengan ragu-ragu. "Um, sepertinya, aku tidak jadi pindah."
"Kenapa? Karena 2 orang itu? Siapa mereka? Duda 1 anak yang akan menikah denganmu?!"
Felly memejamkan matanya dengan frustasi. "Bukan urusanmu."
"Jadi benar mereka ada hubungannya dengan sebuah pernikahan?! Aku tidak merestuimu!! Bisa-bisanya kau menikahi duda atau pun anak SD itu!!"
Felly menepuk keningnya mendengar kebodohan Felix. "Intinya, bolehkah aku tidak jadi pin—"
"Tidak boleh!! Aku akan memecatmu jika kau tidak jadi pindah!!"
"Dengan senang hati, Bos!!" Seru Felly semangat. "Senang bekerja dengan Anda selama sebulan ini."
"Syalan, Felly!! Aku akan memblokir aksesmu pulang ke Indonesia!! Biar saja kau menjadi pengemis di sini!"
Felly terkekeh. "Kau sendiri yang memecatku, tapi malah kau yang mengutukku."
"Pokoknya anak buahku akan memindahkanmu. Dengan atau tanpa persetujuanmu!"
Felly menghela napas. "Baiklah. Tapi, dengan syarat kau harus mengizinkanku membawa anak SD yang kau lihat tadi," katanya sambil melirik Sam yang menaikan sebelah alisnya. Felly hanya nyengir dan memberikan 2 jarinya tanda damai. Sam hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Felly.
"Kenapa aku harus mengizinkan pria yang mengaku-ngaku calon suamimu itu untuk tinggal denganmu?!!! Bagaimana jika dia memperkosamu?!!" Felix malah membentak Felly.
Felly tertawa mendengarnya. "Yang benar saja! Memangnya, apa yang bisa dilakukan oleh anak SD?!"
"Oh, tentunya, kau tidak lupa kan, apa yang bisa kulakukan padamu saat masih High School?"
Felly terdiam seketika. Bayangan masa kecilnya saat Felix menyentuhnya di tempat pribadi ketika Felly masih kecil, membuat Felly sukses menelan ludah dengan susah payah. "Tapi kau melakukannya pada anak kecil. Aku sudah tua."
"Tidak! Pokoknya tidak!"
"Ya sudah aku minta bantuan Kiel saja!"
"Kau!!!"
"Kalau begitu penuhi syaratku!!"
Terdengar geraman kesal di seberang sana. Helaan napas kemudian terdengar. "Baiklah, kau menang. Anak syalan itu boleh tinggal dengan kita."
Felly hanya tersenyum penuh kemenangan.
***
Ruang sofa yang hening itu makin hening saat 2 pria beda generasi yang ada di sana saling tatap dengan tajam. Mereka sama-sama duduk bersila di karpet dengan posisi berhadapan, sedangkan Felly yang duduk di tengah-tengah mereka, merasa ragu untuk melerai lomba saling bertatapan itu. Felly berdeham. "Bisakah kita—"
"Kau dan Felly itu umurnya berbeda sekitar 17 sampai 18 tahun. Kau mungkin masih tidak mengerti, tapi pernikahan dengan umur yang jauh berbeda itu adalah suatu hal yang sangat dikritik oleh masyarakat." Kata Felix membuka suara. Tangannya terlipat di depan d**a, sedangkan dagunya diangkat tinggi-tinggi seolah memunculkan wibawa.
Sam memiringkan kepalanya dengan senyum miring yang bermain bersama tatapan datarnya. "Kau sangat kuno sekali."
"Apa katamu?!!"
"Saat aku umur 18 tahun, aku akan menikah dengan Felly. Saat itu, umurnya mungkin sudah 35 tahun? Di negaraku, ada banyak wanita berumur 17 tahun sudah menikah dengan pria berumur 30 tahun. Itu bukan sesuatu yang aneh zaman sekarang."
Mulut Felix menganga mendengarnya. "Kau ini!!! Kau masih kecil!! Pengalaman hidupmu—"
"Hanya anak kecil yang menganggap jika kedewasaan seseorang diukur dari umur." Sam membalas telak.
Jari telunjuk Felix teracung ke arahnya. "Kau!! Tahu apa kau soal pernikahan?!! Memangnya, kau berani menghadapi orang-orang yang akan menentangmu?!!"
"Kenapa aku harus tidak berani? Selama aku mencintainya, aku hanya harus dicintainya saja. Tidak harus orang-orang menyetujui, yang penting aku dan dia setuju untuk menempuh hidup bersama!"
Felly dan Felix sama-sama menganga mendengarnya dari anak 8 tahun itu. Jawaban yang tegas dan tepat untuk mereka berdua. Felly dan Felix sama-sama saling lirik sebelum Felix menggeram kesal dan kembali menatap Sam dengan menantang. "Kau!! Memangnya, kau tahu apa itu cinta?!"
"Cukup tahu untuk membedakan yang mana obsesi dan yang mana cinta!!" Teriak Sam, ikut kesal. "Kenapa jadi membahas tentang cinta? Tidak ada hubungannya antara pernikahan dan cinta."
"AHA!! Kau sama sekali tidak tahu menahu tentang pernikahan! Pernikahan adalah sesuatu yang dilakukan oleh 2 orang yang saling mencintai!!"
"Aku mencintai Felly! Dia melakukan segalanya untukku! Dan itu berarti Felly mencintaiku!!"
"Kau!!!"
Felix akan mencekik Sam jika saja Felly tidak menamengi Sam dengan dirinya sendiri. Felly terkekeh canggung dan memegang tangan Felix yang masih teracung. "Tenang. Dia masih kecil. Umurnya berbeda sangat jauh denganmu. Kau tidak mungkin mencekiknya kan?"
Napas Felix terengah karena emosi. Felix malah menggenggam tangan Felly dengan erat dan menatap Felly tajam. "Hanya ada 2 kamar di sini. Kau tidur denganku! Dan Anak Syalan itu tidur di tempat yang kemarin kau gunakan!"
Felly berdecak. "Anak yang kau sebut syalan itu punya nama. Dan aku tidak mungkin tidur dengan kakakku sendiri."
"Kenapa?! Dulu kita sering tidur bersama!" Felix malah membentak. "Kau ingin tidur dengannya, kan?! Kau ingin bersama dengan Anak Syalan itu, kan?!! Ini tidak boleh terjadi! Aku akan mengusirnya!"
"E-eh, tidak! Tidak! Kau ini kenapa sih?! Dendam sekali pada anak sekecil ini."
"Dia ingin menikahimu!!!"
"Dia tidak serius, Felix."
"Pokoknya, tidur bersamaku atau dia aku usir!!"
"Aku tidur di sofa saja!" Sam malah berseru. "Aku tidak sudi Felly harus sekamar denganmu!" Katanya sambil melotot pada Felix, dan Felix balas melotot lebih lebar.
"Tidak! Enak saja!!" Felly menolak, ikut melotot pada anaknya. "Kau tidur di kamar. Aku tidur dengan Felix."
Sam melotot kaget, sedangkan Felix tersenyum penuh kemenangan. "Felly!! Aku tidak setuju!!" Seru Samuel.
"Kau tidak mau menurutiku?" Tanya Felly mengancam, Sam merengut dan membuang wajahnya dari Felly. Felly mendengus geli melihatnya. Dia meraih wajah Sam, kemudian mengecup kening anaknya yang tertutupi rambut itu.
Felix melotot, sedangkan Sam tersenyum penuh kemenangan pada Felix. Sam menghilangkan senyumnya sambil berdeham pelan. "Cium pipiku juga atau aku tetap marah."
Felly terkekeh dan menuruti keinginan anaknya.
Felix menganga lebar dibuatnya. Apalagi Felly mencium Sam dengan jangka waktu yang lama.
"Aku juga mau!!! Aku mau dicium!!" Serobot Felix menghentikan ciuman Felly.
"Tidak boleh!! Enak saja! Kau sudah mencium bibir Felly di hotel!!" Sentak Sam.
"Itu tidak masuk hitungan!!"
"Felix, sudahlah! Kau ini sama saja kekanakannya seperti Sam!"
"Aku juga ingin cium, Felly!!"
"Tidak!"
"Ish!! Ini tidak adil!!"
"Dasar sinting." Komentar Sam sambil geleng-geleng kepala.
Felix melotot. "Apa katamu?!!!" Amuknya sambil mencoba meraih tubuh kecil Sam namun dapat Sam hindari. Felix makin melotot. "Kau!!"
Sam berdiri dan berlari menghindari Felix. Felix pun ikut berdiri dan mengejar Sam. Felly juga otomatis ikut berdiri dan mencoba mengejar 2 anak yang sedang kejar-kejaran itu agar tidak ada kasus penyiksaan anak yang terjadi dalam rumah ini.
Rumah hari itu sangat ramai dan membuat banyak pihak senang. Termasuk, pembantu dan satpam yang berkerja di sana.
***
Saat di kamar, Felix masuk ke dalam dan mendapati Felly sudah tidur sambil memeluk guling. Felix menghela napas kecewa. Jika saja dia tidak harus menuntaskan pekerjaan yang hari ini ia lewatkan, mungkin Felix bisa mencuri-curi ciuman dari Felly.
Felix masuk ke dalam selimut dengan enggan, dan tidur miring menghadap ke arah Felly. Felix menatapi wajah yang terlihat kelelahan itu dengan lamat, memperhatikan setiap inci wajah yang selalu dikaguminya. Felix tersenyum ketika Felly beringsut mendekati Felix. Wanita itu masih berada dalam tidurnya. Kali ini mulutnya membuka sedikit. Felix terkekeh pelan dan mendorong dagu Felly agar mulutnya tertutup. Felix kemudian membuang guling yang dipeluk Felly dan meraih tubuh mungil itu, memeluk Felly dengan nyaman dan menjadikan dadanya bantalan untuk kepala Felly. Hidung Felix menghirup aroma rambut milik Felly dengan lamat, merasakan wangi kepala wanita yang sangat dirindukannya.
"Walaupun aku melewatkan ciuman selamat malam, tapi tidur denganmu di pelukanku sudah sangat membuatku bahagia," Felix berucap geli sambil mengeratkan pelukannya. Dia menghela napas panjang. "Sampai kapan aku akan tergila-gila padamu, Felly? Lama-lama, aku akan jadi b***k cinta seperti Alarick."
Malam itu, Felix tertidur nyenyak. Tanpa berimimpi apapun.