Hot 13 - Mall dan Hotel

2331 Kata
Felix benar-benar melakukan segala hal yang baru hari ini. Sungguh, adalah suatu kemalasan ketika dia memasuki pusat perbelanjaan yang diisi oleh banyak orang di mana-mana. Sedikit informasi, Felix bahkan sangat jarang untuk sekedar berjalan di trotoar. Dia tidak suka melihat kerumunan orang yang mengartikan jika mereka semua setara dengan Felix. Jadi Felix memilih melakukan semuanya dengan mobil. Ke mana-mana mobil dan memang tujuan Felix selalu membutuhkan mobil. Namun, rasa tidak nyamannya itu seketika sirna saat Felly mengajaknya ke suatu toko pakaian untuk memilih baju baru. Felix menggeleng untuk yang ke sekian kalinya melihat Felly keluar dari bilik ruang ganti. "Tidak. Itu terlalu sederhana." Bahu Felly turun seketika. Dia kembali masuk ke bilik ruang ganti. "Tidak. Itu terlalu elegan." "Itu terlalu seksi." "Terlalu kaku." "Untuk apa topi itu?! Memangnya kau mau ikut pacuan kuda?" "Kenapa bagian belakangnya tidak tertutupi?! Demi tuhan! Aku bisa melihat belahan pantatmu!!" "Sial! Carilah yang tidak memiliki lubang di mana-mana!!!" "Serius? Kau ingin dugem atau nge-mol?!" bahasa Indonesia Felix meluap seketika. Felly menghentakkan kakinya dengan kesal. "Kenapa banyak sekali alasanmu?! Kalau begini caranya, aku lebih baik tidak memakai baju!" "E-eh! Tidak begitu maksudku!" Felix menarik tangan Felly dan menghampiri tempat manequin yang ada di toko tersebut. "Yang ini bagaimana?" Felly tertawa melihatnya. "Kau ingin aku terlihat seperti anak kecil? Lihatlah bentuk beruang di tengahnya." "Kenapa? Itu akan lucu saat kau pakai." Kata Felix sambil tersenyum lebar layaknya anak kecil. Felly terdiam sejenak melihat wajah itu. Ia kemudian mengangguk dan mengedikan kedua bahunya. "Baiklah. Aku ambil." Felix melebarkan senyumnya. *** Selesai berbelanja, Felly dan Felix memutuskan untuk menonton film. Mereka melihat-lihat poster film di depan mereka. "Aku ini." "Yang ini." Tentu saja, mereka menunjuk film yang berbeda. Namun Felly tidak menyangka jika Felix memilih film kartun dan Felly malah memilih film horor. Felly menatap Felix dengan melongo, dan dibalas tawa canggung dari Felix. "Aku takut hantu." Kata Felix. Felly hanya menggeleng tidak percaya dan menghela napasnya dengan susah payah. Mereka akhirnya memilih kedua film tersebut. Dan kebetulan, film yang Felly pilih lebih dulu tayang. Namun Felly sungguh harus menanggung malu saat Felix memeluk lengannya dengan kuat sambil menutup wajahnya erat-erat di balik bahu Felly. Kaki Felix bahkan menginjak kursi bioskop agar Felix bisa sekalian memeluk kedua lututnya. "Sebentar lagi ada! Ada! Ada! Ada!" Kata Felix sambil mengeratkan pelukannya ketika pemeran utama wanita dalam film itu mendengar suara di belakangnya. "Jangan lihat belakang! Hey! Hey! Hantunya ada di sana!!" DUAR! "AHHH! KENAPA HANTUNYA MUNCUL DARI DEPAN?! SIAL! AKU AKAN MENUNTUT FILM INI AGAR TIDAK TAYANG LAGI!" Felly segera menyembunyikan sebagian wajahnya ke dalam pakaiannya sedangkan kepalanya makin menyender ke dalam kursi. Dia menggelengkan kepalanya saat beberapa orang ikut menatapnya. "Aku tidak kenal dia." Ucapnya sambil makin menenggelamkan kepala. Film akhirnya berakhir. Felly dan Felix keluar dengan Felix yang masih menempeli Felly dengan ketakutan. "Tadi itu seram sekali. Ada banyak sekali hantunya." Kata Felix dengan sedih. Felly menghela napasnya dengan kesal. "Namanya juga film hantu. Yang muncul pasti hantu, Bodoh!" Felix tidak menjawab dan hanya cemberut sambil mengeratkan pelukannya pada tangan Felly. "Nanti jika aku kebelet pipis, antar aku sampai ke dalam toilet, ya?" Felly mendelik. Dia melepaskan tangan Felix dan menjauhi lelaki itu segera. Felly bahkan mengabaikan panggilan dari Felix di belakangnya. "Mana yang katanya Hot Devil?! Manusia penakut seperti Felix tidak bisa disamakan dengan iblis!" "Felly!!! Tunggu aku!!" Film selanjutnya adalah sebuah animasi keluarga yang juga ada percintaan di dalamnya. Seperti biasa, terbitan dari perusahaan terkenal ini selalu penuh dengan penghuni bioskop. Selama film, mereka sangat menikmati film bioskop itu. Tertawa, tegang, kesal, dan bahkan ada adegan yang membuat Felly menangis. Namun sepanjang film, Felix hanya sedikit memberikan ekspresi. Dan Felly sangat bertanya-tanya apakah Felix menikmati film yang dipilihnya itu. Saat film selesai, Felix berbisik. "Aku berinvestasi di rumah produksi ini. Mereka memang pelit dalam mengiklankan produkku. Namun, luar biasanya, mereka selalu bisa mengorganisir keuangan investor dengan baik." Katanya. Felly mengerjapkan matanya. "Karena itu kau memilih film ini?! Bukan karena filmnya, tapi karena kau ikut invest?!" Felix hanya tersenyum, mengedikan bahu, dan pergi lebih dulu. Felly melongo di tempatnya berdiri. *** Setelah mereka menonton, Felly dan Felix akhirnya makan di salah satu restoran yang ada di dalam mall tersebut. Salah satu restoran terkenal dan sudah mendunia namun dengan harga sangat murah itu membuat Felix agak enggan untuk duduk di sana. Apalagi pelayanan mereka sangat kurang dalam menangani pelanggan. Untuk pertama kalinya, Felix harus rela mengantri di sebuah tempat makan. Sedangkan Felix berdiri dengan kesal, Felly hanya diam sabar menunggu antrian. "Serius? McD?!" Bisik Felix dengan kesal pada Felly yang berdiri di sampingnya. Felly lalu menatap Felix dengan wajah pura-pura polos. "Tidak bisakah kita melewati antrian ini dan langsung memesan pada kasir? Sungguh, aku biasanya tinggal duduk diam di meja dan menunggu pelayan menandatangiku, bukan sebaliknya." Felly menghela napasnya dengan sabar. "Diamlah. Nikmati sensasinya." Felix mendengus dengan kesal. "Kau mau makan makanan di sini? Baiklah, tapi aku enggan menunggu! Biarkan para pengawalku saja yang mengantri." "Ck! Sudahlah tunggu saja di sini dengan sabar. Lihat pelanggan yang lain. Mereka bahkan ada yang lebih tua darimu tapi mereka sabar menunggu." "Bagaimana bisa kau menyamakanku dengan kaum yang rela merendahkan dirinya seperti mengantri sembako ini?!" Pekik Felix dengan kencang, sukses membuat semua perhatian teralih padanya. Sedangkan Felix tidak peduli akan pendapat orang lain tentang ucapannya, Felly segera menatapi orang-orang di sana dengan senyum canggung. "Mohon maaf. Dia bukan orang sini. Tidak tahu tradisi di sini, hehe." Katanya kikuk. Felix segera mencengkram lengan Felly dengan erat. "Tidak bisa. Aku tidak mau di sini! Aku tidak ingin mengantri di sini! Kau sudah keterlaluan, Felly! Bagaimana bisa kau membuat seorang yang berkuasa sepertiku mengantri seperti ini?!" Felly menarik tangannya yang dicengkeram oleh Felix. "Kau pikir bisa seenaknya memutuskan?! Kau lupa jika hari ini adalah hari agar aku tidak marah lagi padamu?! Turutilah! 3 antrian lagi, dan kita akan mendapatkan makanan." Bisiknya kesal. "Kau tahu? Aku bisa membayar seberapa mahal pun makanan yang kau inginkan! Kita tidak perlu merendahkan diri seperti ini!!" Felly mendelik kesal. "Terserah. Selangkah kau melangkah mundur, aku akan sangat marah padamu hingga tidak ada cela untukmu minta maaf!" Felix hanya dapat cemberut setelah mendapatkan ultimatum seperti itu. *** "Bagaimana? Enak, kan, sensasi mengantrinya?" Tanya Felly saat mereka sudah berjalan keluar dari restoran cepat saji. "Biasa saja." Kata Felix sambil mengedikan bahu. "Biasa saja, tapi kau malah kembali mengantri untuk es krim itu." Kata Felly dengan tangannya yang terlipat di depan d**a. Felix yang sedang memasukkan sesendok es krim segera terhenti. Dia memasukkan kembali es krimnya ke dalam cup, lalu berdeham. "Hanya es krimnya saja yang enak di sini. Yang lainnya biasa saja. Ekhm, menurutmu, bagaimana? Apakah aku harus membeli McD? Aku tidak perlu mengantri lagi untuk es krim itu." Felly mendelik mendengarnya. "Kalau kau kehilangan sensasi mengantri, kau akan bosan dengan es krim itu. Karena yang menyenangkan adalah sensasi sabar menunggu dan berusaha untuk mendapatkan sesuatu yang kau inginkan." "Yah, terserah kau saja." Kata Felix sambil mengedikan bahunya tidak peduli dan kembali memakan es krimnya yang sudah setetes darah penghabisan itu. Felly menggelengkan kepalanya melihat itu. Sedetik kemudian, ia terkekeh. "Lucu sekali melihatmu hari ini." Felix membuang cup itu ke tempat sampah, kemudian kembali menatap Felly. "Baiklah. Kalau begitu, sekarang kita akan ke mana?" Felly tersenyum dan menunjuk tempat permainan di lantai atas. "Ke sana! Ke game center." Felix memelototi Felly. "Yang benar saja! Kau pikir aku anak kecil?!" A few moments later "Sial! Sial! Sial! Kali ini aku akan menang!!!" Teriak Felix dengan semangat sambil menggerakkan kakinya dengan kesetanan di atas papan Dance Dance Revolution. Saat ada tulisan kekalahan di layar milik Felix, Felly segera bersorak sambil melompat senang di tempatnya. Felix menendang tiang di belakangnya, lalu merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel di sana. "Karl, segera beli mesin menari yang ada di game center! Aku akan berlatih untuk mengalahkan Felly!!" Felly melongo melihatnya. "Seharusnya, aku mengalah saja pada newbie sepertinya." Bisiknya lirih. "Kita ganti permainan lain! Mari kita main Bombom car." Kata Felix dan berjalan dengan kaki yang dihentak menjauhi Felly. Entah untuk ke berapa kalinya, Felly menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Felix yang sangat menakjubkan hari ini. Felly kemudian berjalan mengikuti Felix dan menemukan pria itu sedang mengobrol dengan seorang pria. Felly menghampiri mereka ketika mendengar bahasa yang tidak dimengertinya keluar dari mulut Felix maupun lawan bicaranya. Beberapa menit kemudian, orang yang diajak bicara oleh Felix undur diri dan melempar senyum pada Felly. Felly balas tersenyum, lalu menggoyangkan lengan Felix ketika pria yang tadi mengobrol tidak jelas itu pergi dari hadapan mereka. "Siapa itu? Kenapa bahasanya aneh sekali?" Tanya Felly heran. "Dia hanya menanyakan tempat, dan itu adalah bahasa Yunani," kata Felix sambil menyentuh ubun-ubun Felly. "Sekedar informasi, aku menguasai 11 bahasa." "Termasuk Korea?" "Tentu saja." "Lalu kenapa kau tidak mengerti dengan panggilan oppa? Kau bahkan menganggap aku menyukai orang tua." Felix mendecih. "Aku menghafalkan bahasa agar aku tidak kesulitan mendapatkan klien luar negeri! Bukannya menghafalkan panggilan fangirl sepertimu!" Felly hanya cengengesan. *** "Kau lihat kan, bagaimana serunya berada di tempat yang sama dengan orang-orang yang kau anggap tidak setara denganmu?" Tanya Felly ketika mereka sudah memasuki gedung hotel. "Kau bahkan tidak akan mengobrol dengan orang Yunani jika kau menyewa gedung itu." Felix mengangguk mengakuinya. "Ya, kau benar. Tapi tempatku bukan di sana." Katanya saat mereka sudah memasuki lift dan menekan tombol menuju kamar Felly. Felly menatap Felix dengan alisnya yang bertautan tidak mengerti, sedangkan Felix hanya diam tegap dengan satu tangannya yang masuk ke saku celana. Kepalanya mengadah, melihat layar yang menunjukkan lift yang bergerak ke atas. "Apa..., maksudmu?" Tanya Felly. Felix berbalik menatap Felly sebentar, lalu kembali menatap layar monitor. "Yah, orang terpandang sepertiku tidak seharusnya berkeliaran di mall yang biasa saja dan ke tempat-tempat yang memiliki harga murah. Jika ada yang memfotoku, banyak yang akan berkomentar jika aku sudah bangkrut dan aku akan kehilangan beberapa kerja sama karena hal itu. Sebenarnya, itu agak berbahaya untukku." "Untuk reputasimu?" "Ya. Bisa dibilang begitu." Felly terdiam seketika. Benar juga. Felly terlalu egois dan tidak memikirkan pengaruh buruk jika benar-benar terjadi sesuatu pada reputasi Felix. Apalagi, beberapa tahun terakhir Felly kabur dan jika ada yang memotretnya bersama Felix di mall, akan timbul banyak masalah termasuk juga ke dalam masalah keluarga mereka. Felly benar-benar ceroboh. "Sudah sampai. Ayo." Ucapan Felix membuat Felly tersadar. Felly segera menyusul Felix yang sudah keluar terlebih dahulu. Mereka akhirnya sampai di depan pintu kamar hotel Felly. "Kau bereskan dulu barangmu. Aku akan pergi dulu dan nanti aku akan menjemputmu lagi." Felly mengangguk dengan senyum manis. "Terimakasih sudah membiarkanku untuk tinggal di tempatmu. Di sana ramai, banyak orang. Aku sangat senang menjahili pelayanmu." Felix mendengus geli mendengarnya. Dia kembali menyentuh ubun-ubun kepala Felly. Tangannya kemudian mengelus kepala Felly dengan pelan dan lembut. Sementara Felly mencoba menyembunyikan wajahnya yang terasa memanas, Felix sibuk menatap Felly dengan dalam. Jari jemari Felix menyentuh pelipis Felly, menyelipkan rambut yang jatuh di sana ke belakang telinga Felly. "Aku juga berterima kasih padamu," kata Felix berbisik, melangkah mendekati Felly yang masih terdiam di tempatnya. Tangan Felix berpindah, menyentuh dagu runcing Felly dan menariknya agar mendongak menatap Felix. "Kau memberikan hal-hal baru padaku hari ini." Felly tersenyum manis dengan pipinya yang memerah. Jantungnya berdegup dengan cepat dan tangannya terasa mendingin karena ditatap seintens itu oleh Felix. Felly menganggukkan kepalanya dengan malu. Namun Felix tetap menatap Felly dengan intens. Menatap manik mata kanan dan kiri Felly yang terlihat berbinar di matanya. Felix memajukan wajahnya, mencium kening Felly dengan lembut dan lamat. Matanya terpejam menikmati rasa kulit Felly di bibirnya. Senyum Felly menghilang, digantikan wajah terkejut yang kentara. Jantungnya berdegup kencang tak terkendali. Felix kemudian memundurkan wajahnya, kembali menatap mata Felly yang balik menatapnya dengan tidak fokus. Bibir Felix kemudian turun, mengecup hidung Felly dengan lambat dan dalam. Mata Felly kali ini terpejam seperti Felix. Merasakan tekstur bibir Felix yang mencium ujung hidungnya dengan lembut. Mata Felly masih terpejam ketika Felix menyudahi ciumannya. Dan beberapa detik kemudian, tekstur kenyal dan basah itu mengecup bibirnya dengan dalam, keras, dan lembut. Hanya mengecupnya, tidak lebih. Felly tidak lagi merasakan bibir Felix di sana, membuat Felly terpaksa membuka matanya dan mendapati mata Felix sudah menggelap ketika menatapnya. Felly tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Tahu-tahu, dia sudah memeluk leher Felix dengan erat, mencium bibir tebal memabukkan itu dengan keras, melumatnya dengan tergesa seolah kehausan. Felix membalas ciumannya, memeluk pinggang Felly dengan erat dan memegang tengkuk Felly dengan kuat agar ciuman mereka lebih dalam. Felly merasakan lidah Felix berada di dalam mulutnya. Lidah Felly ikut bermain, merasakan lidah basah dan kenyal milik Felix dengan dalam. Punggung Felly membentur tembok saat Felix mendorongnya ke belakang. Bibir mereka tetap bertautan satu sama lain, menyesap rasa yang dirindukan keduanya. Felly mendesah ketika merasakan tangan Felix menyentuh paha dalamnya, sedangkan satu tangan Felix yang lain meremas bokongnya dengan kuat. Bruk! Suara itu tidak diindahkan oleh kedua orang itu. Mereka masih terus melumat satu sama lain dengan b*******h. "Felly..." Mata Felly terbuka seketika, namun Felix masih terus melumat bibir Felly dengan b*******h. "Nafelly Christine!!" Felly mendorong tubuh Felix dengan segera. Felix akan kembali menciumnya jika saja Felly tidak menahan dadanya. Felly menoleh ke samping dan dia merasakan nyawanya ditarik seketika dari tubuhnya. "Just..." Ucap Felly tidak percaya. Yang membuat Felly syok dan merasa ingin mati saat itu juga adalah karena ada anaknya di samping Justin. Menatap dengan mulut menganga dan mata yang melotot. "Jadi, ini maksudmu waktu itu?" Kata Justin dengan mata yang menghakimi. Alis Justin mengernyit tidak suka, dan Justin kemudian berbalik pergi dari hadapan Felly. "Justin!" Felly berseru dan akan melangkah mengejar Justin, namun Felix menahannya. "Siapa mereka?" Tanya Felix menuntut. Felly melepaskan tangan Felix dengan segera. "Nanti aku jelaskan!" Katanya sambil berlari menjauhi Felix dengan tergesa untuk menyusul pria tadi. Sedangkan Felix diam di tempatnya dengan mata yang masih menatapi kepergian Felly. Felix lalu mengalihkan pandangannya pada anak lelaki yang masih menatapnya dengan mata melongo. Sedetik kemudian, mata anak itu memincing tajam menatapnya. "Apa kau yang selalu membuat calon istriku menangis semalaman?" Tanya anak lelaki itu. Mendengar kata calon istri di sana, Felix tahu jika mereka takkan pernah akur ke depannya. "Pantatmu!! Dia adalah istriku!!" Kata Felix ngaku-ngaku. Mereka akhirnya saling bertatapan dengan tajam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN