Felix melangkah menuruni tangga dengan mulut yang menguap lebar dan langsung dia tutupi dengan punggung tangannya. Saat kakinya menapaki lantai utama rumahnya, Felix mengernyit bingung ketika tidak mendapati pembantu-pembantunya dan juga kursi yang seharusnya berada di ujung meja panjang itu. Baru saja ia akan melangkah ke arah dapur, Felly yang keluar dari sana sukses menghentikan langkahnya.
Felix terpaku tidak bergerak di tempatnya saat wajah secerah matahari milik Felly tertawa dengan renyahnya. Dan jangan lupakan kemeja putih transparan yang digunakannya dan juga hotpants yang masih dapat tertutupi oleh kemeja itu. Felix menelan ludahnya dengan susah payah. Napasnya tersendat seolah kedinginan ketika sesuatu yang berada di balik celananya perlahan melesak bangun.
"Kubilang ambil saja di saku ini," kata Felly. Dan Felix segera tersentak dari keterpanaannya ketika mendapati 3 satpam mengerumuni Felly. Dan yang membuatnya mengepalkan tangannya adalah kelakuan Felly yang memajukan dadanya pada satpam-satpam itu. "Kuncinya ada di sini." Katanya sambil tertawa dan makin menaikan dadanya.
Rahang Felix mengeras mendapati satpam rumahnya terlihat menelan ludahnya dengan susah payah.
"Tapi Nona, kami—"
"Ada apa ini?" Felix bertanya sambil mendekat pada mereka. Dia segera menghampiri Felly dan berdiri di depan Felly, menghalangi pandangan satpam-satpam itu agar tidak dapat melihat Felly. Lain kali, Felix harus mengganti semua satpamnya menjadi wanita.
"Felix! Selamat pagi!!" Sapa Felly dengan senyum manisnya yang ceria.
Felix hanya berdeham dan membalikkan tubuhnya membelakangi Felly dan menghadap satpam rumahnya. "Ada masalah apa? Kenapa pagi-pagi sudah ribut?"
"Tuan, Nona Felly memborgol para pembantu satu sama lain." Jawab salah satu satpam yang bernama Fredrick, dan diangguki yang lainnya.
Felix melotot mendengarnya. Dia memiringkan wajahnya dengan keheranan. "Itu..., agak..., tidak mungkin," katanya sambil melirik Felly yang berada di belakangnya tengah nyengir lebar. Felix kembali menatap satpam-satpam itu. "Oke. Bagaimana caranya?"
"Itu dia, Tuan. Kami juga tidak tahu," kata Fredrick dengan wajah pucatnya. "Yang kami tahu, Nona menyiapkan kopi untuk kami dan tiba-tiba borgol yang kami miliki sudah raib beserta kunci-kuncinya."
Felix kembali menatap Felly yang lagi-lagi nyengir lebar padanya. "Keahlian paparazi." Kata Felly seolah menjawab pertanyaan Felix.
Felix mendelik mendengarnya. "Felly, berhenti main-main. Berikan kunci borgolnya."
Felly mengangkat kedua tangannya yang memegang mangkuk. "Tanganku penuh. Aku sudah bilang kalau kuncinya ada di saku kemeja dan saku depan hotpantsku. Aku sudah menyuruh mereka mengambilnya." Katanya sambil nyengir sangat lebar.
Felix menyeringai mendengarnya. "Benarkah?"
"Ya. Aku berkata jujur. Aku sudah—" ucapan Felly terpotong dengan tarikan napas kaget. Felly melotot merasakan tangan Felly masuk ke saku hotpants miliknya. Felix sendiri hanya tersenyum melihat reaksi Felly.
"Kau nakal sekali," kata Felix dan sukses membuat pipi Felly memerah.
Felly menelan ludahnya dengan susah payah saat merasakan jari jemari Felix mengaduk saku hotpants yang digunakannya dengan pelan, mengumpulkan kunci-kunci yang ada di sana. Napas Felly tersendat merasakannya dan Felix juga sepertinya sengaja berlama-lama di sana. Kembali, Felly menelan ludahnya dengan gugup. "Ke-kenapa lama sekali?"
Felix tersenyum miring. Dia kemudian mengeluarkan tangannya dari sana dan memberikan kunci-kunci itu pada satpam. Dia sempat kaget melihat ada 3 kunci di dalam sana. Belum lagi, di saku kemeja Felly yang terlihat sekali ada banyak kunci di sana. Pertanyaannya, bagaimana Felly mendapatkannya?
"Sekarang, bagian saku kemeja."
"Tidak! Biar aku saj—" terlambat. Felly menutup erat matanya. Dia dapat merasakan tangan Felix sejenak menyentuh p4yudaranya dengan gerakan pelan. Felly harus menahan malu di depan satpam-satpam itu, sekaligus menahan diri agar tidak jatuh terhuyung atas reaksi tubuhnya yang gila.
Felix melakukan hal yang sama. Mengaduk dan berlama-lama di sana, membuat pipi hingga telinga Felly memanas seketika. Felly bahkan tidak bisa menebak dia akan semerah apa sekarang.
Felly dapat mendengar Felix terkekeh pelan. Dan kemudian, Felly merasakan usapan di p****g p4yudaranya dengan gerakan memutar, lalu sensasi itu kemudian hilang. Felly menghela napas lega. Dia memberanikan diri membuka matanya dan mendapati tubuh Felix sudah sangat dekat dengannya dan Felly tidak mendapati satpam-satpam itu di sana.
"Jika kau setakut itu saat orang lain benar-benar mengambil kuncinya, kenapa juga kau harus menantang orang-orangku seperti itu?" Tanya Felix sambil berbisik serak.
Felly cemberut. Dia menunjukkan mangkuk itu pada Felix. "Aku hanya ingin membuatkanmu sarapan. Para pembantu itu sudah sibuk menyiapkan meja dan juga buah-buahan yang sudah dipotong. Saat aku menyuruh mereka berhenti, mereka tidak mendengarkan dan mereka bilang tidak akan berhenti sebelum kau yang memerintahkan mereka berhenti."
Felix terkekeh mendengarnya. "Jadi, kau tidak ingin aku sarapan mewah dan ingin aku sarapan sereal seharga 1 dollar ini?"
Felly hanya mengedikan bahunya. "Aku hanya berpikir untuk tidak membiarkanmu tetap merasa kesepian. 1 makanan akan terasa ramai daripada 10 jenis makanan yang tersedia, tapi hanya kau yang duduk di sana sendirian. Lagipula, sekarang kau punya aku."
Felix tersenyum tipis mendengarnya. Hatinya menghangat ketika melihat wajah penuh senyum tulus di hadapannya itu. Membayangkan mereka akan seperti ini setiap pagi, tersenyum satu sama lain dan mengucapkan selamat pagi seperti barusan.
"Tuan," interupsi itu membuat Felix mengalihkan pandangannya pada para pembantu yang sudah berdiri di depan pintu dapur dengan wajah pucat pasi. "Maaf, kami tadinya sedang membuat sarapan, namun—"
"Tidak apa-apa," potong Felix. "Lain kali, jika Felly menyuruhmu apapun, lakukan saja. Jika dia ingin memasak, biarkan saja. Dia sangat tahu apa yang aku suka dan tidak suka. Tidak perlu diberitahu juga tentang alergiku, dia sudah tahu."
"Baik, Tuan." Jawab Elle sambil menundukkan kepalanya dalam.
Felix kembali mengalihkan perhatiannya pada Felly. "Kalau begitu, kita akan duduk di mana sekarang? Kau sudah membuat kursiku hilang entah ke mana."
Felly tersenyum lebar. Dia mengedikan dagunya ke arah sofa. "Kita duduk di sana!"
Felix mengangkat sebelah alisnya. "Baiklah. Aku tidak keberatan sofaku terkotori. Lagipula, aku bisa membeli—"
"Ish! Bukan di sofa. Tapi itu tuh di situ!! Di karpet berbulu milikmu."
"Apa?!" Syok Felix dengan mata melotot kaget. "M-maksudmu, kau menyuruhku duduk di lantai?"
Felly mengangguk semangat. "Kenapa? Tidak mau?"
Felix menggaruk tengkuknya. "T-tidak. Hanya saja..., kau tahu? Aku kaum elit."
"Lalu...?" Tanya Felly dengan alisnya yang terangkat tinggi. "Tidak mau?"
Felix tertawa kencang, kentara sekali jika dipaksakan. "Ahahaha tentu saja mau. Haha!" Ucapnya sambil berjalan mendahului Felly dan duduk di sofa.
Felly tertawa kecil, melangkah mendekati sofa dan duduk di atas karpet. "Ayolah! Kau seperti anak kecil!"
Felix berdeham. Dia meluncurkan pantatnya dengan enggan dan membiarkan pantatnya menapaki karpet berbulu miliknya. "Baik. Aku sudah duduk di karpet ini."
Felly terkekeh. Dia mengambil satu sendok sereal dan mengarahkannya pada Felix. "Buka mulutmu! Aaaa!"
Seketika, wajah mengernyit tidak nyaman Felix berganti menjadi senyum lebar. Dia membuka mulutnya dengan semangat dan memakan serealnya dengan senyum yang tidak hilang. Felly terkekeh. "Enak?"
Felix mengangguk semangat. "Enak sekali!"
"Baiklah. Ayo kita nonton TV."
"TV? Jam segini, kau ingin menonton apa? Berita?"
"Kartun. Mari nonton kartun."
"Kartun apa?"
"Upin Ipin. Apa ada?"
"Ohhh, tuyul kembar itu? Ada, sepertinya. Aku tidak tahu saluran berapa."
"Baiklah. Kau tahu Upin Ipin tapi tidak tahu BTS?!"
"Aku bukan penggemar yang seperti itu."
"Tapi kau penggemar kartun. Benar?"
"Hey, jangan begitu pada mereka. Mereka anak-anakku."
"Apa maksudmu?"
"Tentu saja menirumu. Jika kau bisa mengaku-ngaku orang asing sebagai suamimu, aku juga bisa mengaku-ngaku tokoh kartun itu adalah anak-anakku."
"Apa?! Hahaha kau konyol sekali."
Pagi itu, pagi yang sangat berbeda bagi Felix. Dengan Felly yang berada di sisinya. Tertawa dan membahas hal-hal yang tidak penting. Namun, satu yang Felix ketahui.
Felix ingin selalu merasakan pagi yang sama dengan Felly di sisinya.
***
"Omong-omong, kemeja yang bagus. Dari mana kau mendapatkannya?" Tanya Felix ketika mereka dalam perjalanan. Mata Felix melirik Felly yang duduk di sampingnya sejenak, sedangkan tangan dan kakinya fokus pada mesin mobil. Felix tersenyum tipis saat menyadari banyak yang berubah hari ini. Cara makannya dan juga situasi di dalam mobil. Biasanya, Felix tidak akan mau ada orang yang makan di dalam mobil, termasuk diri Felix sendiri. Namun sekarang, di sampingnya ada Felly yang memakan pisangnya dengan ceria.
Dan lagi, biasanya, pagi-pagi begini Felix takkan mau menyetir. Bahkan saat di Indonesia pun, dia tidak ingin menyetir melainkan sahabatnya yang mengemudi. Bisa dibilang, Felix lebih manja daripada Alarick. Dan jika dipikir, memang benar jika Darren adalah pria paling normal di antara mereka berempat. Karena Darren sangat sederhana daripada mereka. Darren bahkan bisa hidup tanpa uang. Tapi tidak bisa hidup tanpa Annabelle. Dan lagi, kenapa juga Felix dari kemarin membicarakan tentang Darren?!
"Dari Elle. Semua pakaiannya adalah kemeja warna putih dan rok warna hitam." Jawab Felly setelah menelan pisang yang dikunyahnya.
Felix mendengus geli mendengarnya. "Tidak mungkin. Kau ini imajinasinya ada-ada saja."
Felly melotot pada Felix. Dia bahkan duduk miring dengan satu kaki yang bersila di atas kursi mobil. "Sungguh! Aku membuka lemarinya sendiri dengan tanganku ketika ingin mengganti celana. Aku benar-benar tidak bisa mengatakan apapun saat melihat isi lemarinya yang sama semua. Warna yang sama, model yang sama, dan merk yang sama!"
Felix mendengus. "Baiklah, aku akan mencoba percaya padamu. Lalu? Hotpants itu kau dapatkan dari mana?"
Felly kembali duduk lurus kembali sambil memainkan sabuk pengaman. "Dari Vio. Dia berjiwa muda sekali."
"Viollete?"
"Iya, dia. Jika dipikir-pikir, semua pembantumu memiliki nama yang sejenis. Elle, Elly, Viollete, Milly, Melly, dan double L lainnya. Aku merasa punya banyak kembaran."
Felix tersenyum tipis, enggan menjawab dengan mulut. Hanya menjawab dengan batinnya yang berkata, Entahlah. Mungkin, saat itu rasa rinduku padamu sudah tidak tertolong sehingga aku merekrut banyak wanita dengan huruf L ganda.
"Oh ya! Apa aku punya tugas hari ini?" Tanya Felly dengan cepat.
Felix mengangguk. "Ya."
Desahan malas keluar dari mulut Felly. "Kali ini aku harus apa?"
"Kau harus belanja sepuasnya." Kata Felix sambil tersenyum geli ketika melihat ekspresi Felly yang melongo.
"Kau tidak benar-benar menyewa satu mall, kan?"
"Tentu saja. Biar aku dan kau—"
"Aku tidak mau!" Potong Felly cepat. "Jika mall itu kosong, aku tidak mau masuk ke dalamnya. Aku mau mall yang ada orangnya."
"Tentu saja ada. Ada aku, kau, dan beberapa penjagaku."
"Aku tidak mau!!!" Rengek Felly sambil cemberut. "Apa gunanya ke sana jika tempatnya tidak hidup?"
"Ya untukmu belanja dong, Bodoh!"
"Yasudah kau saja sendiri. Aku tidak mau."
Felix menghela napasnya dengan kesal. Dia menyentuh layar yang berada di tengah dashboard mobilnya. Menggeser touchscreen itu saat berada di aplikasi kontak telepon. Dan suara tersambung pun terdengar.
"Ya, Tuan?"
"Karl. Katakan pada Gerald jika ia harus kembali membuka mall miliknya. Biarkan orang-orang masuk. Jika tidak ada orang di sana, aku akan menutup bangunan itu selamanya."
"Tapi, Tuan—"
"Bagus. Lakukanlah pekerjaanmu dengan baik." Potong Felix sambil mematikan sambungan telepon. Dia kembali menatap Felly, dan mendapati perempuan itu sedang menatapnya tajam dengan tangan yang terlipat di depan d**a. "Apa lagi?"
Felly mendengus kesal. "Kenapa harus mall itu yang kita tuju?"
"Jelas karena hanya orang-orang elit yang—"
"Felix!!!"
"Baiklah. Kau yang pilih bangunannya."
Felly tersenyum lebar dan merentangkan tangannya ke atas. "Yeayyy!!!"
Felix mendengus geli dan menggelengkan kepalanya dengan tidak percaya. "Kalau begitu, bagaimana jika kita ke pusat perbelanjaan dulu, baru setelah itu kita ke hotel?"
Felly mengangguk antusias. "Setuju!"