Hot 3 - Ikatan Adik Kakak

1577 Kata
Felly sedang menyiapkan sarapan di dapur ketika merasakan sebuah tangan mungil yang melingkari perutnya dan disusul dengan suara seseorang yang mengendus punggungnya. "Felly, kau sangat wangi hari ini." Felly ingin sekali tertawa mendengar ucapan anak 8 tahun itu. Namun dia menahannya. Felly memilih melepaskan tangan yang melingkar di perutnya, lalu berbalik dengan muka marah yang dia buat. "Sam! Berapa kali kubilang, panggil aku Ibu!" Sam yang tingginya sebatas d**a Felly hanya menaikan sebelah alisnya dengan tidak terima. "Dan berapa kali kubilang jika aku tidak mau?" Tanyanya balik sambil bersidekap d**a. "Menyerahlah, Felly. Sampai kapanpun, aku takkan memanggilmu dengan sebutan yang kau mau. Kecuali Cintaku, Sayangku, Kasihku, dan Belahan Jiwaku." "Sam! Kau adalah anak—" "Hanya di kartu keluarga saja, Felly," potong Samuel, membuat Felly sukses menganga lebar dibuatnya. Samuel menghela napas secara berlebihan ketika melihat ekspresi tersebut dari Felly. "Walaupun umurku masih 8 tahun, aku tetap masih ingin menikahimu ketika aku sudah sembuh dan memiliki banyak uang untuk menikahimu." Dan ucapan Samuel akhirnya sukses membuat Felly tertawa lebar. Felly mengacak rambut hitam lebat milik Samuel dan kemudian mencubit pipi tembam anaknya. Walaupun masih SD, Samuel memiliki pemikiran dewasa karena keadaan. Dan lagi, tubuh Felly yang mungil itu bahkan hampir terkalahkan oleh anak kelas 3 SD di depannya. "Kenapa tertawa? Kau tidak menganggap ucapanku serius?" Kesal Samuel dengan matanya yang memincing tidak suka. Felly kali ini mencubit kedua pipi tembam Samuel dengan kuat-kuat. "Ekspresimu itu yang lucu, Tuan Samuel." Samuel menatap curiga pada Felly. "Bohong! Kau tidak mempercayai ucapanku, kan?" "Aku percaya." "Bohong!" "Aku bersungguh-sungguh, Sammy!!" "Kau bo—" "Oh ya ampun rotinya sudah selesai terpanggang," potong Felly, menghindari Samuel sambil diam-diam mendengus geli. Felly mengambil piring dari rak dan menyimpan roti yang sudah terpanggang itu ke atas piring. "Sam, kau ingin selai apa?" Samuel berdecak. "Apapun, kecuali yang manis." Katanya sambil berjalan menjauhi Felly. Felly diam-diam tersenyum dan mengoleskan selai yang diinginkan Samuel. "Seleranya mirip sekali dengan Felix." *** Ketukan di pintu hotelnya membuat Felix yang selesai sarapan segera berdiri dan melangkah menuju pintu hotelnya. Setelah melihat interkom yang terpasang, Felix segera berjalan ke daun pintu dan membukanya. Senyum Felix terukir lebar kala melihat Karl, sang sekretaris sedang ngos-ngosan di depan pintu. Karl memberikan sebuah paper bag ke hadapan Felix. "Ini barang yang Anda inginkan, Sir. Sama persis." Felix meraih tas itu dan melihat-lihat isinya. "Kerja bagus, Karl. Kau ingin promosi atau kenaikan gaji?" "Hanya jangan merepotkan saya saja, Sir." "Apa tadi? Kau ingin kupecat?" "Tidak, Sir. Saya bilang jika dua-duanya pilihan yang bagus, Sir." Felix tersenyum sambil menepuk-nepuk pundak Karl. "Kerja bagus. Waktumu untuk mencari tahu tentang Valerie tinggal dua hari ya. Ingat kan?" "Ingat, Sir. Kalau begitu, saya pergi sekarang saja karena kebetulan banyak informasi mengenai Valerie di negara ini." "Oh! Bagus sekali kalau begitu. Silahkan pergi sekarang." "Baik, Sir." Jawab Karl dan segera pergi dari hadapan Felix. Felix menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sekretarisnya itu. "Rajin sekali anak itu." Katanya sambil terkekeh dan masuk ke dalam hotel kembali. Baru saja Felix akan kembali ke tempat sarapan, suara bel membuat pergerakannya terhenti. Felix membuka pintu, dan mendapati Makiel di sana. Wajahnya terlihat lesu dan tidak bersemangat. "Felix, ayo sarapan." Ajak Makiel. Felix hanya menaikan sebelah alisnya. "Kenapa dengan wajahmu? Kenapa lesu sekali?" Makiel menghela napas panjang dan berlebihan, lalu memijit bahunya dengan lemas. "Aku tidak suka kamar yang diberikan Alarick. Benar-benar sempit. Aku lebih suka tidur di pesawat jet milik Alarick. Dan kau? Kenapa wajahmu terlihat berbinar sekali?" Felix mengerjapkan matanya cepat. "Aku? Haha, kau bercanda? Aku juga tidak suka kasur di sini. Membuat tubuhku sakit semua." Makiel memincingkan matanya dengan curiga. "Sepertinya tidak. Kau terlihat sangat bahagia." Tentu saja. Bertemu lagi dengan orang yang kau cintai bisa membuatku bahagia. Batin Felix. Namun, dia malah meringis menjawab ucapan Makiel. "Ah Kiel, kau salah lihat. Tidakkah kau lihat wajah pucatku?" Makiel mengangkat sebelah alisnya. Matanya kemudian melirik paper bag yang berada di genggaman tangan Felix. "Apa itu?" Tanyanya. Felix segera menyembunyikan paper bag berisi kamera itu. "Tidak. Bukan apa-apa." "Coba aku li—" "Kau ingin sarapan, kan? Kalau begitu, ayo sebelum kita kehabisan makanan." Potong Felix cepat. Ia berbalik dan menutup pintunya tepat di hadapan Makiel. Tanpa mendengar umpatan Makiel di balik pintu, Felix segera menyimpan kamera di tempat yang aman dan membuang sarapan yang baru dibelinya. Sungguh, tidak boleh ada seorang pun yang tahu jika Felly ada di Indonesia. Termasuk Makiel. Karena Felix, sudah menyusun rencananya sendiri jika saja Valerie benar-benar adalah Felicia, adiknya yang dahulu diculik oleh pamannya. *** Felly menatap pintu kafe yang dikunjunginya, lalu membaca ulang pesan yang masuk di ponselnya. Nomor internasional yang dapat Felly tebak dengan sekali lihat jika pengirimnya adalah sang kakak, Felix. Unknown number Temui aku di CnC Kafe & Bar yang ada di belakang hotel Kakek Dami pukul 8 Felly berdecak kesal. Ini sudah lebih dari sejam Felly menunggu, namun Felix masih belum terlihat sampai sekarang. Walaupun Felly berniat ingin membalas pesan ataupun menelfon, tanpa pulsa, ponselnya sama sekali tidak berguna. Kenapa juga Felix memberinya pesan SMS daripada w******p? Dan kenapa juga nomor Felix yang menghubunginya tidak terdaftar dalam aplikasi w******p? Menyebalkan. Jika begini, Felly tidak tahu apa Felix akan datang atau tidak. Dan lagi, jika bukan karena kamera, Felly tidak akan mau malam-malam ke sini dan menunggu sejam. "Lama menunggu?" Felly tersentak mendengar suara itu. Dia melotot ke arah Felix yang terlihat lesu dengan sebuah paper bag di tangannya. "Kau ke mana saja?! Kenapa lama sekali?! Aku sudah menunggumu selama satu jam!" Kesal Felly. Felix menghela napas panjang dan berlebihan. "Aku habis pulang dari Ci manggo." "Ci manggo?" Heran Felly dengan alis yang mengernyit. "Eh, Cimanggu maksudnya. Aku ketularan bule-bule i***t itu." Felly mendengus. "Kau pun bule. Dan kau pun sama idiotnya." "Ck," decak Felix sambil memberikan paper bag yang berisi kamera. "Tuh, kamera yang kau inginkan." Felly segera mengambil kantung tersebut dan mengeluarkan isinya. Semuanya sangat serupa dan tidak ada yang berbeda sama sekali kecuali warna yang masih terlihat baru. Akan Felly akali agar warnanya kusam seperti warna kameranya yang dulu. Senyum Felly terbit ketika melihatnya. "Sangat persis! Gumawo brader!" Felix mendengus. "Kau senang menjadi pegawai rendahan? Sampai tersenyum lebar seperti itu walaupun gajimu bahkan tidak sampai seperempat penghasilanku." Felly menatap Felix dengan penuh dendam. "Tentu saja senang! Yang rendahan tidak selalu menjadi yang terburuk. Kau harus tahu bagaimana caranya menikmati hidup, bukan cuma menikmati uang." "Kau mengajariku? Mengajari kakakmu yang bahkan lulus S2 di umur 22 tahun?" "Orang pintar belum tentu cerdas. Dan ini bukan pertama kalinya aku melihat orang yang pintar akademik tetapi aslinya sangat bodoh sepertimu." Felix melotot. Dia menjambak poni milik Felly. "Kau!! Berani-beraninya menghina kakakmu!" "Aw!! Lepas, tidak?? Berani-beraninya kau main tangan pada wanita!" Teriak Felly dengan mata melotot pada Felix. Kepalanya sudah tertunduk karena jambakan dari Felix. "Kau bukan wanita! Kau adik kurang ajar yang harus aku beri pelajaran!" "Ish!" Felly menarik tangan Felix yang menjambak rambutnya, lalu menggigit tangan Felix sekuat tenaga. "AAAKH!!! SAKIT! SAKIT BEGO! LEPAS! LEPAS! AMPUN WOY!" Teriak Felix dengan berlebihan. Felly menghempaskan tangan Felix. "Lebay." Felix mengibaskan tangannya yang perih sambil memelototi Felly. "Dasar adik kurang ajar! Sudah diberi kamera, malah menggigit. Anjing saja tidak pernah menggigit sekeras ini. Lihat ini!! Argh, ini akan berbekas." "Heh! Anjing saja kalau dijambak pasti menggigit! Mana ada yang dijambak diam saja?!" "Kau menyamakan dirimu sendiri dengan anjing?" "Kau!!! Ish!" Felix tertawa melihat wajah marah Felly. Tangannya terulur dan mengacak rambut Felly dengan gemas. "Aku hanya bercanda, Adikku. Kau jangan berlebihan seperti itu." Felly cemberut dan mendelik kesal. "Yasudah kalau begitu. Aku harus pergi sekarang." "Kau sudah ingin pergi? Kita bahkan belum bertemu sejam, tapi kau sudah ingin pulang." Felly mendelik kesal. "Aku ini seorang karyawan. Banyak yang harus aku kerjakan. Tidak sepertimu yang seorang bos dan memiliki banyak waktu luang." Katanya sambil menggaruk hidungnya. "Kau bisa pulang dan bersantai di rumah. Kenapa juga pakai acara kabur-kaburan dan menyusahkan diri sendiri?" Felly terdiam sejenak sebelum tersenyum ke arah Felix. "Kau tahu jelas alasanku pergi. Aku meninggalkan surat saat kabur." Felix menghela napas pelan. "Itu sebabnya kau tidak ingin pulang ke rumah sekarang?" Felly hanya menjawabnya dengan senyum. Dia kemudian berdiri dari duduknya sambil menjinjing paper bag dan tasnya. "Aku pulang dulu." "Tunggu. Aku hanya ingin menyampaikan jika kamera itu tidak gratis. Aku akan meminta bayarannya nanti." Mulut Felly membuka seketika. Dia menatap Felix dengan tatapan tidak percaya. "Kau tahu aku tidak punya uang." Felix ikut berdiri, mencubit pipi Felly dan tersenyum kecil. "Aku tidak meminta uangmu. Aku sudah bilang bukan, jika kamera itu ada syaratnya? Aku akan hubungi kau nanti mengenai itu." Felly cemberut. "Baiklah. Kalau begitu, hubungi aku lewat w******p daripada SMS. Aku tidak punya pulsa. Dan sekarang sudah bukan zamannya main SMS." Felix menjawab dengan anggukan singkat dan senyum. Felly menghela napas panjang. "Aku duluan," katanya sambil melangkah melewati Felix dan meja yang baru saja mereka tempati. "Felly, tunggu!" "Apa lag—" ucapan Felly terhenti kala merasakan sebuah tangan melingkari perutnya dan bahunya tertancap oleh dagu seseorang. Tanpa berbalik pun, Felly tahu jika yang saat ini yang memeluknya dari belakang adalah Felix. "Aku sudah lama ingin mengatakan jika aku merindukanmu," bisik Felix tepat di samping telinganya. Tangan Felix bahkan memeluk Felly makin erat. Felly menelan ludahnya dengan susah payah. Matanya melirik ke arah tangan Felix yang melingkar di perutnya. Sedangkan tangan Felly sendiri mengepal di samping tubuhnya. Sungguh, Felly membenci situasi ini. Felly membenci kala jantungnya masih bergetar saat merasakan kehadiran Felix. Dan Felly membenci perasaannya sendiri bahkan walau 9 tahun tidak bertemu. Perasaan yang tidak seharusnya hadir di antara ikatan adik- kakak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN