“Duduk!” perintah Asri dengan nada yang sama sekali tidak ada lembut-lembutnya. Ia sendiri meletakkan tasnya dengan kasar ke atas meja dan mulai mendudukkan bokongnya dengan kasar di kursi kebesarannya. “Terima kasih, Mbak.” Deden masih bersikap lembut dan sopan. “Waktumu hanya lima belas menit, apa yang ingin kamu sampaikan segera sampaikan. Setelah itu aku harap, kamu jangan pernah lagi menampakkan puncak hidungmu lagi di hadapanku.” Asri masih bersikap ketus. “I—iya, Mbak.” Deden gugup. “Cepat katakan apa yang ingin kamu sampaikan.” Perlahan, Deden mengambil ponselnya. Ia membuka file gallery yang ada di ponsel itu, lalu ia pun memberikannya kepada Asri. “Ma—maaf, Mbak. Silahkan anda lihat sendiri kelakuan pria yang sebentar lagi akan menikahi anda itu.” Tangan Deden bergetar tatk

