Ayah Terhebat 58

1923 Kata

Awan hitam terlihat pekat di atas langit sana, bersamaan dengan rintik air yang satu persatu turun membasahi bumi. Seperti mendukung keadaan hatinya yang begitu luka, wajahnya senantiasa menunduk menatap gundukan tanah di depan sana. Matanya mengerjap dua kali, membiarkan rintik hujan membasahi tubuhnya, tidak peduli kalau besok dia akan jatuh sakit. Namun, beberapa detik kemudian dia tidak merasakan rintik hujan yang mengguyur tubuhnya. "Apa hujannya udah berhenti?" batinnya bertanya, tetapi suara air hujan masih terdengar, tidak mungkin hujan lebat tadi berhenti secepat itu. Perlahan dia mengangkat kepalanya, tertegun melihat payung hitam yang berada di atas kepalanya. Lagi-lagi membuatnya keheranan, siapa gerangan memayunginya seperti ini? Padahal dia datang ke teman ini hanya sendiri

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN