Dewa pov ‘Gue pasti udah gila!’ ‘Bener-bener gila!’ Kutuk, racau, makiku pada diriku yang benar-benar telah lepas kendali ini. Aku tahu seharusnya aku tak melakukan ini dengannya. Tak seharusnya kusentuh bibirnya dengan bibir yang begitu haus akan ciuman, yang telah lama hanya jadi bayang gilaku saja. Tapi bibir ini benar-benar sangat merindukan pemilik ciuman yang amat lembut, tak menuntut, hanya mengalir untuk terus saja saling memagut lebih dalam. ‘Put... aku kangen kamu...’ ‘Aku masih sayang banget sama kamu...’ Aku harap ia bisa mengetahui isi hatiku.... Aku harap lidah yang kini tengah masuk ke dalam rongganya, membelit, berdansa, menggoda dan bermain-main dengan miliknya, bisa mengucapkan semua rasa cinta yang selama ini hanya bisa selalu terpendam untuknya. “Ehmm..

