Tentang Perjodohan
“Pi, kapan kita akan membicarakan tentang perjodohan Arka dengan keluarga Rehan?” tanya Selena disela – sela sarapan mereka.
“Aku akan menghubungi Rehan nanti, jika nanti dia ada waktu baru kita kesana untuk membahas tentang perjodohan ini.” Selena hanya bisa menghela nafas panjangnya saat mengingat putra sulungnya yang sudah semakin tua.
“Selamat pagi, Mami, Papi.” Lyla yang baru saja turun dari kamarnya langsung menghampiri kedua orang tuanya yang masih duduk di kursi meja makan.
“Hai Sayang, selamat pagi. Ayo Lyla sarapan dulu,” ajak Dimas.
“Kak Arka dimana, Mi?” Lyla menanyakan kakaknya yang tidak terlihat.
“Kakakmu sudah berangkat ke kantor, kamu telat kalau tanya kakak kamu sekarang.” Selena menjawab dengan sedikit menahan tawanya.
“Padahal aku mau minta di anterin Kak Arka ke sekolah hari ini, biar heboh satu sekolahan melihat Kak Arka.” Lyla cekikikan mengingat bagaimana reaksi para siswi saat Arkan mengantarkan Lylas sampai di depan kelasnya waktu itu.
Bagaikan artis yang datang ke sekolah, semua siswi berlarian untuk melihat wajah tampan Arka dari dekat. Sampai Lyla minta dicium Arka di keningnya untuk membuat para siswi semakin heboh karena ulahnya.
“Kamu ini suka sekali menggoda kakak kamu,” ucap Selena menggeleng – gelengkan kepalanya.
“Lyla itu sayang sama Kak Arka, Mi.” Lyla mengembangkan senyum manisnya.
“Sudah ayo sarapan, nanti kamu terlambat.” Dimas mengingatkan agar Lyla lebih cepat menghabiskan sarapannya.
“Tadi Lyla tidak sengaja mendengar Mami sama Papi membahas tentang perjodohan Kak Arka, siapa calonnya Mi?” tanya Lyla dengan santai sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
“Udah makan dulu nanti Mami ceritanya,” ucap Selena.
“Udah Mi, sekarang aja ceritanya. Nanti Lyla jadi tidak fokus belajar kalau penasaran kaya gini.” Lyla menggunakan segala alasannya.
“Kak Alea yang dulu biasa main sama kamu,” tukas Dimas.
“Hah, beneran Pi. Lyla tidak salah dengarkan?” tanya Lyla yang sedikit tidak percaya.
“Iya Sayang, emang kenapa?” Lyla menelan makanannya yang masih kasar di dalam mulutnya.
Lyla belum menjawab pertayaan Selena, dia sejenak diam denga wajah yang tidak dapat diartikan.
“Diakan.. .” Lyla menggantungkan ucapannya, sampai membuat Selena dan Dimas tercengang karena penasaran.
“Dia kenapa Lyla? Kamu ini kenapa suka sekali mebuat Mami sama Papi penasaran.” Selena mendengus kesal karena Lyla hanya diam tidak menjawab.
“Diakan cantik banget, Mi.” Selena merasa ingin melempar roti yang tengah ia olesi selai ke wajah putrinya itu.
“Kamu ini ya, terus kalau cantik kenapa?” tanya Selena.
“Iya tidak apa – apa, Mi. Emangnya Kak Alea mau sama Kak Arka?” tanya Lyla dengan wajah polosnya.
“Kak Arkakan tampan, tentu saja dia akan mau,” jawab Selena sedikit kesal.
“Kak Alea itu sangat pandai, Mi. Dia pernah majang di majalah sekolah aku, karena dia juga alumni dari sana.” Lyla meneguk kembali susunya.
“Iya Mami sama Papi tau, Sayang.” Dimas mengecak – acak rambut Lyla dengan gemas.
“Ihh Papi apan si, nanti rambut Lyla rusak.” Lyla mencebikkan bibirnya ke arah Dimas.
“Putri Papi sudah besar sekarang,” ucap Dimas karena melihat wajah Lyla yang lucu.
“Ayo, Pi. Kita berangkat, Lyla tidak mau kalau sampai terlambat. Memalukan terlambat itu,” ucap Lyla.
“Iya Sayang, kita berangkat dulu ya, Mi.” Dimas melayangkan senyum menawannya ke arah Selena.
“Iya, Lyla kamu jangan nakal di sekolah ya. Belajar dengan sungguh – sungguh dan jangan banyak bergaul sama laki – laki.” Lyla hanya tersenyum menanggapi wajah serius Selena.
“Iya – iya Mi. Aku berangkat dulu ya.” Lyla melambaikan tangannya.
“Dasar anak itu memang, sudah besar tapi tetap aja manjanya minta ampun,” gerutu Selena.
***
Seperti biasa, pagi ini Alea bangun dan bersiap untuk pergi ke kampus. Alea juga tidak pernah melupakan sarapan paginya, karena itu adalah yang terpenting untuk bekal belajar. Bagi Alea jika tidak sarapan pagi, maka otak akan susah menangkap materi pembelajaran.
Rehan dan Kristi juga selalu mengingatkan Alea untuk tidak melewatkan sarapannya. Karena Kristi punya riwayat sakit mag, jadi dia tidak ingin putri semata wayangnya merasakan hal yang sama.
“Pagi Ma, pagi Pa,” sapa Alea sebelum duduk di kursi meja makan.
“Pagi Sayang,” jawab Rehan.
“Mama masak apa?” tanya Alea.
“Papa kamu minta tekur balado, kamu mau yang lain?” Kristi menawarkan.
“Tidak usah, Ma. Alea suka semua yang dimasak oleh tangan Mama.” Senyum Alea mengembang dengan sempurna, begitu juga dengan Kristi.
“Kamu nanti pulangnya sampai sore tidak, Alea?” tanya Rehan.
“Tidak, Pa, hari ini hanya ada tiga mata kuliah. Emangnya ada apa, Pa?” tanya Alea seraya menyuapkan sepotong apel ke dalam mulutnya.
“Papa nanti akan terlambat pulang, mau ketemu sama teman lama Papa,” jelas Rehan.
“Teman lama yang mana, Pa?” tanya Alea yang semakin kepo.
“Om Dimas, yang dulu suka mencubit pipi kamu.” Rehan mengingat kejadian entah berapa tahun yang lalu.
“Oh iya aku ingat. Bukankah Papa bekerja di perusahaan om Dimas ya, kenapa ketemuan di luar?” tanya Alea lagi.
“Dia sudah pensiun sekarang, perusahaannya dikelolah oleh putra sulungnya,” jawab Rehan.
“Oh, ya udah Alea berangkat dulu ya Pa. Salam buat om Dimas,” ucap Alea sambil berdiri.
“Hari – hati di jalan ya, jangan kebut – kebut bawa motornya,” ucap Rehan.
“Aku berangkat dulu ya, Ma.” Alea mencium tangan Rehan dan Kristi secara bergantian.
“Kamu hati – hati ya,” ucap Kristi sebelumAlea pergi.
“Dah.” Alea melambaikan tangannya sembari berjalan keluar.
Alea mengendarai motor maticnya dengan santai sambil bernyanyi lagu kesukaannya.
Tidak terasa motor yang Alea naiki kini sudah masuk ke tempat parkir kampus, dan di sana terlihat kedua sahabat Alea sudah menunggunya, dia adalah Sari dan Bunga.
“Alea kamu lama banget , aku pegel nunggu kamu dari tadi.” Sari langsung protes karena sudah menunggu Alea terlalu lama.
“Iya kan aku sudah biasa berangkat jam segini, Saridon,” jawab Alea sambil terkekeh.
“Sudah jangan berdebat, masuk yuk.” Bunga mengajak kedua sahabatnya ini untuk masuk ke dalam.
Alea, Bunga, dan juga Sari sudah berteman sejak mereka duduk di bangku sekolah menengah atas. Dulu mereka pernah satu kelas, dan kebetulan mereka sekarang kuliah di satu kampus yang sama. Meskipun Bunga masuk di fakultas yang berbeda dengan Alea dan Sari, tapi persahabatan mereka tetap terjalin baik sampai sekarang.
Alea adalah mahasiswi semester terakhir fakultas keuangan, lebih tepatnya dia memilih ke keuangan perusahaan. Begitu pula dengan Sari, dia juga masuk ke jurusan yang sama dengan Alea. Hanya saja Alea lewat jalur prestasi sedangkan Sari melewati jalur mandiri.
Sari sebenarnya tidak terlalu pandai, tapi dia tidak mudah menyerah. Dia masuk ke fakultas keuangan juga karena keinginan orang tuanya. Karena orang tua Sari termasuk orang yang cukup kaya, jadi dia bisa masuk kampus itu lewat jalur mandiri.
Sedangkan bunga, dia masuk ke fakultas ilmu ekonomi. Sebenarnya Bunga juga ingin masuk fakultas keuangan bersama Alea dan Sari, tapi apalah dayanya karena dia masuk ke kampus ini dengan jalur bidik misi.
Saat mereka berjalan menuju kelas mereka, tidak sengaja Alea melihat Putra bersama seorang wanita. Kelihatanya wanita itu adalah mahasiswi baru di kampus ini, karena wajahnya sangat asing bagi mereka bertiga.
“Al, itu lihat di sana.” Sari menunjuk ke arah taman di mana ada Putra dan wanita itu masih duduk dengan mesranya.
“Iya aku sudah lihat, kita pergi aja yuk.” Tidak mau merasakan sakit hati, Alea memilih pergi dari tempat itu.
“Al, kamu tidak pacarankan sama si Putra?” tanya Bunga penuh selidik.
“Tidak, awalnya aku ingin sekali menerima dia. Tapi entah kenapa hatiku merasa aneh, padahal aku sangat menyukainya dan sangat kagum padanya,” jelas Alea.
“Syukur kalau kamu tidak pacaran sama laki – laki macam dia, aku sangat tidak setuju. Hanya modal tampang dia mau mempermainkan banyak wanita.” Sari mengingat bagimana dulu saat Putra berusaha mendekati Alea lewat dirinya.
Putra adalah salah satu mahasiswa terkenal di kampus, tentu saja ketenaran itu karena wajahnya yang tampan. Dia salah satu mahasiswa fakultas hukum di semester akhir. Orang tua Putra adalah salah satu keluarga konglomerat, jadi tidak ada yang salah jika banyak wanita menggandrunginya. Laki – laki tampan, pintar dan juga kaya.
Tapi Alea sang primadona kampus kini sudah tidak lagi menyukai Putra, karena dia sudah tahu perilaku Putra yang sebenar-benarnya.