“Hallo Dim, aku sudah mau jalan ke tempat janjian kita.” Rehan menelfon sahabatnya setelah menyelesaikan pekerjaannya.
“Hallo Han, iya ini aku juga mau berangkat kesana. Kita ketemuan di café biasa bukan?” tanya Dimas karena dia takut mungkin saja lupa atau salah.
“Oke, aku jalan dulu ya.” Rehan mematikan sambungan telfon, kemudian menghidupkan mesin mobilnya.
Sejak Dimas pensiun dari jabatan direkturnya, Rehan menjadi jarang sekali bertemu dengan sahabat lamanya itu. Mereka hanya saling bertukar kabar lewat pesan ataupun telfon sesekali. Tapi saat Dimas mengunjungi perusahaan, dia pasti akan menyempatkan diri untuk bertemu Rehan.
Persahabatan mereka sudah terjalin sejak masih duduk di bangku sekolah menengah pertama, dan masih berhubungan baik sampai sekarang. Kesepakatan mereka untuk menjodohkan Alea dengan Arka sudah dibicarakan sejak lama. Bahkan sejak Alea masih dalam kandungan Kristi.
Kala itu Dimas mengatakan kepada Rehan jika anak yang di kandung Kristi saat itu adalah bayi perempuan, maka Rehan harus menjodohkannya dengan Arka yang saat itu masih balita. Sedangkan jika anak yang ada di dalam kandungan itu laki-laki, maka Rehan harus menunggu anak kedua Dimas yang mungkin saja perempuan.
Awalnya kesepakatan itu hanyalah lelucon biasa, tapi tidak bagi Dimas. Pria kaya raya ini memang sudah berniat untuk menjodohkan anaknya dengan anak Rehan kelak.
Tidak beberapa lama kemudian, mobil milik Rehan sudah terparkir rapi di salah satu tempat parkir café. Café ini adalah salah satu café favorit Dimas dan juga Rehan sejak dulu kala. Suasana di café ini memang berbeda dengan yang lain, udaranya sejuk dan hawnya adem karena ada banyak tumbuhan di keliling café.
“Kamu sudah menunggu lama?” tanya Rehan kepada Dimas yang terlihat sudah duduk di salah satu meja.
“Tidak, aku juga baru saja datang,” jawab Dimas.
“Kamu sudah memesan?” tanya Rehan setelah dia menjatuhkan tubuhnya ke kursi yang tersedia.
“Sudah, aku juga sudah memesankanmu vanila latte. Benar bukan?” tebak Dimas.
“Iya Dim, kamu memang paling tahu kalau soal kopi kesukaan aku.” Mereka tertawa dengan cool sesuai karakter pria yang berwibawa.
“Kamu ingat kursi ini tidak, Han?” tanya Dimas menepuk kursi yang ada di sebelahnya.
“Hey, tentu saja aku ingat, bahkan sangat ingat. Ini adalah kursi yangsangar bersejarah dalam hidupku. Hahaha.” Mereka tertawa lagi dengan lantangnya.
Tidak lama setelah mereka saling bernostalgia, pelayan datang membawakan pesanan mereka.
“Selamat menikmati,” ucap pelayan tersebut.
“Bagaimana kabar istri kamu di rumah, Dim?” Rehan menanyakan istri dari sahabatnya yang sudah lama tidak berjumpa dengannya.
“Dia baik, bahkan sangat baik sekarang. Dia sekarang sudah ada yang menjaga setiap hari setelah aku pensiun dini, Han.” Rehan hanya tersenyum sambil menyesap kopinya mendengar jawaban dari sahabatnya.
“Oh iya, ada apa Dim kamu sampai mengajak aku kemari?” tanya Rehan yang memang sudah penasaran.
“Oh itu, tentu saja yang pertama aku ingin bertemu dan bernostalgia dengan sahabat lamaku. Dan yang kedua aku ingin membicarakan tentang anak kita.” Rehan masih belum paham arah dari pembicaraan Dimas.
“Bagaimana kabar Alea?” tanya Dimas.
“Oh dia baik, sekarang dia tinggal menunggu hitungan minggu untuk menyelesaikan pendidikannya,” jawab Rehan.
“Aku tidak menyangka jika Alea akan tumbuh menjadi gadis yang cantik dan juga pintar.” Rehan merasa tersanjung mendengar pujian Dimas.
“Terima kasih, Dim. Terus bagaimana dengan kabar si bungsu Lyla, kalau Arka aku sudah sering bertemu di kantor.” Rehan menanyakan kabar gadis kecil Dimas.
“Dia berkembang dan tumbuh dengan baik, Han. Aku juga bersyukur dia selalu ingin mengikuti jejak putri kamu yang pandai itu. Alea sungguh sudah membuat Lyla terinspirasi untuk masuk ke fakultas yang ia inginkan dengan jalur prestasi.” Jelas Dimas dengan jujur.
“Kamu ini, Dim. Jangan terlalu melebih-lebihkan Alea, kedua anak kamu juga tumbuh menjadi anak-anak yang pandai,” jawab Rehan.
“Sebanarnya maksud aku mengajak kamu ketemu di sini itu untuk membahas tentang perjodohan anak kita. Aku mau melamarkan Alea untuk putraku Arka,” ucap Dimas dengan percaya diri.
“Memangnya pria setampan Arka belum mempunyai pacar?” tanya Rehan yang sedikit heran.
“Tidak, Han. Dia tidak punya, maka dari itu aku ingin menjodohkanya dengan Alea.” Rehan terdiam, dia belum bisa memutuskanya sekarang. Karena ini harus dibicarakan terlebih dahulu dengan Kristi dan juga Alea.
“Kalau aku sendiri tidak masalah, Dim. Masalahnya itu ada di kedua anak kita, apakah mereka mau menerima perjodohan ini?” tanya Rehan dengan wajahnya yang kebingungan.
“Kalau Arka pasti mau, meskipun wajahnya dingin tapi dia sebenarnya anak yang penurut. Tinggal bagaimana kita nanti berbicara dengan Alea agar dia mau.” Kalau dipikirkan lagi, kata-kata Dimas memang ada benarnya.
Rehan juga percaya Arka adalah laki-laki yang bertanggung jawab. Bahkan dia sangat tegas dengan para karyawan yang terlambat ataupun tidak disiplin dalam segala hal.
Tidak dapat dipungkiri jika Rehan juga mengagumi sosok Arka. Dari sisi kepemimpinan dia sangat oke, dia sudah menjadi bos yang ditakuti karena ketegasannya dan juga kinerjanya yang sangat baik. Dari sisi sikap, Arka juga anak yang sopan, dia selalu menyapa Rehan jiak di luar kantor dengan panggilan paman.
Dari segi materi Arka sudah tidak bisa diragukan lagi, tapi bukan materi yang Rehan pikirkan. Rehan lebih mementingkan kebahagiaan Alea dari pada kekayaan yang tidak ada artinya.
Dari segi usia, Arka juga sudah berusia cukup matang untuk melakukan sebuah pernikahan. Tentu saja sikap dewasa seorang suami memang harus ada sebelum menikah. Karena kodrat seorang wanita memang dari sananya sudah manja.
“Bagaimana, Han? Apakah kamu setuju?” tanya Dimas kembali karena tidak mendapat jawaban dari Rehan.
“Kalau aku setuju saja, tapi aku harus berdiskusi dengan Kristi dulu untuk membujuk Alea nantinya.” Rehan memang tidak bisa memutuskannya sepihak begitu saja, karena yang terpenting baginya adalah kebahagian Alea.
“Baik, Han. Akan aku tunggu jawabn itu, dan aku harap Alea juga akan setuju dengan rencana ini,” ucap Dimas penuh harap.
“Iya Dim, dan semoga Arka juga mau menerima perjodohan ini,” tukas Rehan.
Setelah berbincang cukup lama mengenai perjodohan itu, akhirnya Dimas dan Rehan pulang dari café itu karena waktu juga sudah mulai larut.
Dalam perjalanan pulangnya, Rehan berfikir keras bagaimana dia membicarkan hal ini dengan Alea nantinya.
“Semoga Alea mau menerima perjodohan ini,” guman Rehan sambil menyetir mobil.