“Alea, kamu bereskan yang di sana ya, Mama mau tutup tokonya dulu,” ucap Kristi.
“Iya, Ma.” Alea bergegas merapikan bagian dapur seperti yang diperintahkan oleh Kristi.
Kristi hanya mempunyai satu karyawan untuk mengelola toko rotinya, namanya Sekar. Tapi karena ada keperluan yang sangat mendesak dan tidak bisa ditinggalkan, maka Sekar mengambil cuti hari ini.
Sekar adalah gadis cantik yang hanya lulusan sekolah menengah pertama karena keterbatasan biaya. Orang tua Sekar adalah orang yang bisa dibilang tidak mampu. Pekerjaan mereka sehari-hari adalah menjadi petani di kebuh ataupun sawah orang.
Mereka akan mengelola kebun ataupun sawah milik orang yang biasanya jauh dari letak kebun atau sawah tersebut. Nanti hasil panen akan dibagi menjadi dua antara orang tua Sekar dan pemilik kebun atau tanah.
Kristi terkejut mendengar bel toko berbunyi, karena dia sudah memasang tanda tutup di pintu depan.
“Siapa Ma?” tanya Alea.
“Tidak tahu, biar Mama yang lihat ke depan. Kamu di sini saja ya.” Kristi melangkahkan kakinya keluar dengan hati-hati. Kristi menjadi lebih waspada sejak ada kejadian perampokan di toko sebelah, setelah kejadian itu Kristi lebih berhati-hati dengan orang yang terlihat mencurigakan.
“Siapa itu?” tanya Kristi pada dirinya sendiri.
“Ko kaya si papa ya,” guman Kristi.
“Papa,” ucap Kristi setelah membukakan pintu toko.
“Kenapa wajah Mama seperti itu? Ada yang salah dengan Papa?” tanya Rehan memperhatikan pernampilannya.
“Papa ini apa-apaan sih, bikin orang kaget aja. Masuk dulu ayo.” Meskipun sedikit kesal karena sudah dibuat deg-degan, tapi Kristi tetap mengajak Rehan untuk masuk ke dalam.
“Siapa, Ma?” tanya Alea yang belum menyadari akan kehadiran Rehan di sana.
“Papa kamu tuh, bikin orang jantungan aja.” Rehan hanya meringis melihat sikap lucu sang istri.
“Loh, bukan salah Papa dong, Ma. Kan Papa ke sini mau jemput Mama sama Alea, terus salah Papa di mana,Ma?” tanya Rehan dengan wajah yangnya yang keheranan.
“Oh iya, tadi Papa telfon Alea. Tapi Alea lupa beri tahu Mama,” ucap Alea dengan memperlihatkan barisan giginya yang putih.
“Ihh Papa sama anak sama aja,” gerutu Kristi.
“Terus kalau tidak sama kaya Papa harus sama kaya siapa, Ma?” tanya Rehan menggoda Kristi.
“Tidak tahu, terserah Papa saja.” Kristi menjawab sebelum akhirnya berjalan menuju tempat penyimpanan bahan baku.Kristi memang tidak pernah lupa untuk mengecek bahan baku yang tersedia.
Rehan hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sikap sang istri yang masih saja seperti anak muda yang masih labil. Melihat Alea yang terlihat sibuk, Rehan akhirnya berjongkok dan ikut membantu putrinya membereskan alat-alat yang ada.
“Bagaimana kuliah kamu hari ini?” tanya Rehan.
“Semuanya berjalan dengan baik, Pa. Alea juga sudah menyiapkan bahan untuk skripsi, karena wisuda tinggal menghitung hari lagi,” jawab Alea dengan senyum manis di wajahnya.
“Papa bangga sama kamu, kamu tidak seperti anak-anak pada umumnya. Papa bahagia mempunyai putri yang baik sepertimu.” Mata Rehan berkaca-kaca sampai membuat Alea kebingungan melihatnya.
“Loh, Papa kenapa? Papa sedih gara-gara Alea ya?” tanya Alea yang masih terlihat bingung.
“Tidak Sayang, Papa hanya bahagia mempunyai putri yang baik sepertimu.” Rehan membelai rambut Alea dengan lembut.
“Itu karena sifat yang aku turunkan untuknya,” celetuk Kristi tiba-tiba.
“Dia bukan hanya putrimu, tapi putriku juga,” jawab Rehan tidak terima.
“Tapi kepandaiannya itu keturunan dari aku,” ucap Kristi membela diri.
“Ya ampun, Mama sama Papa sama aja ya, tidak ada yang mau mengalah. Alea ini putri Mama dan Papa, anak kalian berdua. Semua yang ada pada diri Alea itu seluruhnya dari Mama dan Papa, jadi tidak usah berdeba lagi.” Alea mencoba melerai berdebatan di antara kedua orang tuanya.
“Lihatlah, putrimu ini lebih pandai dari dirimu,” ucap Kristi kepada suaminya.
Tapi kali ini Rehan tidak menanggapi ucapan Kristi, dia justru memeluk Alea dengan erat dan penuh cinta.
“Papa sangat menyayangimu, Alea,” ucap Rehan sambil memeluk sang putri.
“Papa tidak sayang sama Mama?” tanya Kristi dengan wajah yang pura-pura cemberut.
“Tentu saja sayang,” tukas Rehan.
“Sini, Ma.” Alea menarik tangan Kristi dan membawa sang mama ke dalam pelukannya dan Rehan.
“Mama juga sangat menyayangimu Alea, dan juga Papa pastinya. Kalian adalah harga yang sangat berharga untuk Mama.” Kata-kata yang baru saja Kristi ucapkan benar-benar sudah membuat hati Alea terenyuh.
“Sudah mau gelap, Ma. Kita pulang sekarang yuk, Pa.” Alea mengingatkan kepada kedua orang tuanya kalau waktu sudah semakin gelap.
“Iya, Mama sampai lupa. Ayo, Pa.” Kristi bergegas mengambil tasnya.
“Alea duluan ya, Pa. Alea kan tadi bawa motor,” ucap Alea sambil menunjukkan kunci motornya kepada Rehan.
“Kamu hati-hati ya di jalan.” Nasihat itu tidak pernah Rehan lupakan saat Alea akan keluar.
“Iya, Papa sama Mama juga hati-hati ya,” ucap Alea sambil melambaikan tangannya.
Alea menyalakan mesin motornya, memacunya dengan kecepatan sedang.
Suasana lalu lintas sore ini memang tidak terlalu ramai dan juga tidak sepi. Membuat Rehan membawa mobilnya dengan kecepatan yang juga tidak terlalu cepat.
“Papa tadi jadi bertemu sama Pak Dimas?” tanya Kristi tiba-tiba.
“Iya Ma, jadi.” Rehan menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.
“Ada apa, Pa?” tanya Kristi penasaran.
“Dimas menagih perjanjian kita yang katanya akan menjodohkan Alea dengan putranya Arka,” ucap Rehan ragu.
“Terus Papa jawab apa?” tanya Kristi lagi.
“Papa bilang, kalau Papa tidak bisa memutuskan semuanya sendiri. Papa harus meminta persetujuan dari Mama dan Alea dulu.” Rehan mengingat-ingat kata-katanya saat di café tadi.
“Arka kan tampan sekali, Pa. Apa mungkin dia mau sama Alea?” tanya Kristi tidak yakin.
“Kamu ini ngomong apa si, putri kita juga sangat cantik. Yang aku takutkan sekarang bukan itu, tapi apakah Alea akan mau menerima perjodohan ini atau tidak.” Kristi memikirkan kata-kata yang baru saja suaminya ucapkan.
Kata-kata Rehan memang ada benarnya, apakah Alea mau menrima perjodohan ini atau tidak nantinya. Dan satu lagi yang mengganggu pikiran Kristi, akankah Arka mau menerima Alea dengan baik nantinya.