Memberitahu Alea

1057 Kata
Hari sudah semakin gelap, motor yang Alea naiki kini sudah masuk pekarangan rumahnya. Tidak lama setelah Alea sampai, mobil papanya juga terlihat memasuki pekarangan rumah. “Kuncinya di mana, Ma?” tanya Alea pada Kristi. “Sebentar biar Mama yang membuka.” Kristi mengeluarkan kunci itu dari dalam tasnya, kemudian membuka pintu dengan pelan. Alea masuk ke dalam kamarnya, merebahkan dirinya di atas kasur yang terasa begitu nyaman. Alea memandang langit-langit kamarnya dengan sendu, memikirkan hal yang terjadi di kampus pagi ini. Alea memang tidak menaruh harapan lebih pada Putra, tapi hatinya menjadi sendu saat mengingat bagaimana Putra bermesraan dengan wanita di taman pagi tadi. Alea merasa kecewa bukan karena dia tidak bisa mendapatkan Putra, tapi dia kecewa dengan sikap laki-laki itu yang masih saja mendekatinya meskipun sudah mempunyai wanita lain. “Ah sudahlah, tidak ada gunanya memikirkan laki-laki itu. Yang ada aku akan menjadi stres karena memikirkannya,” guman Alea. Baru saja dia pikirkan, ponsel Alea sudah berdering dan menampakkan nama Putra di layar ponselnya. “Hallo Alea,” sapa Putra. “Eh hallo, Put. Ada apa?” tanya Alea tanpa basa-basi. “Tidak ada apa-apa, aku kira kamu kenapa. Soalnya aku chat kamu tidak di balas dari tadi.” Alea sebenarnya malas mendengarkan obrolan Putra, tapi mau bagaimana lagi Putra juga temannya. “Oh iya, maaf ya karena aku tadi membantu mama di toko. Aku tidak sempat membuka ponsel tadi.” Alea menjawabnya dengan jujur, karena dia memang tidak sempat membuka ponsel saat di toko tadi. “Kamu besok ada waktu luang tidak, Al?” tanya Putra yang membuat Alea merasa muak. “Em maaf ya, Put. Aku sudah ada janji besok, lain kali ya.” Alea beralasan untuk menolak ajakan Putra, padahal sebenarnya dia tidak mempunyai janji apapun dan dengan siapapun besok. “Kamu sudah ada janji ya? Dengan siapa?” tanya Putra yang terdengar begitu penasaran dari nada suaranya. “Iya, aku sudah ada janji dengan Sari dan Bunga besok. Maaf ya, lain kali saja,” jawab Alea sopan. “Iya Al, tidak apa-apa. Kamu sedang apa sekarang?” tanya Putra yang membuat Alea serasa ingin muntah. “Alea,” panggil Kristi. “Eh Put, sudah dulu ya. Aku dipanggil sama mama aku. Dah.” Tanpa menunggu jawabn dari Putra, Alea langsung mematikan sambungan telfonya dengan cepat. “Iya, Ma.” Alea langsung berjalan ke arah pintu untuk membukanya. “Kita makan dulu, Papa kamu sudah menunggu di bawa,” ucap Kristi. “Iya, Ma. Ayo.” Alea menggandeng tangan Kristi saat menuruni tangga menuju meja makan. Rehan sudah terlihat rapi dan siap untuk menyantap makan malamnya. Alea duduk berhadapan dengan Kristi, sedangkan Rehan duduk di tengah-tengah antara mereka berdua. “Ma, Al, sebelum makan malam Papa mau bicara sesuatu dengan kalian,” ucap Rehan membuat Alea memandang laki-laki paruh baya itu dengan tatapan bingung. “Papa mau bicara apa?” tanya Alea memberanikan diri. “Kamu tahukan tadi Papa bertemu dengan om Dimas?” tanya Rehan kepada Alea. “Iya, Pa. Alea tahu kalau Papa tadi bertemu dengan om Dimas, bagaimana kabarnya om Dimas, Pa?” tanya Alea yang memang penasaran akan hal itu. “Dia sehat, dan juga masih sama seperti dulu,” jawab Rehan. “Papa sama om Dimas tadi membicarakan tantang perjodohan kamu dengan putanya Arka,” ucap Rehan. “Apa? Papa bercandakan?” tanya Alea yang merasa terkejut dan tidak yakin dengan apa yang baru saja dia dengar. “Tidak Alea, Papa tidak bercanda ini serius,” jelas Rehan. “Tapi Pa, Alea kan masih kuliah mana mungkin Alea menikah sekarang.” Alea berusaha membuat alasan agar Rehan membatalkan perjodohan ini. “Kamu bisa melanjutkan kuliahmu meskipun sudah menikah nantinya,” kata Rehan membuat Alea semakin lemas. “Tapi kenapa mendadak sekali, Pa. Apa tidak bisa ditunda dulu saja?” tanya Alea yang masih berusaha menyelamatkan dirinya. “Karena om Dimas mau di ulang tahun ke tiga puluh Arka nanti dia sudah mempunyai istri. Bahkan om Dimas mau pernikahannya di adakan tepat di hari ulang tahun Arka,” jelas Rehan. Alea sebenarnya ingin seklai menolak perjodohan ini, tapi entah mengapa setiap kata-kata Rehan sangat sulit sekali untuk dia lawan apa lagi sampai menolak. Sedangkan Kristi yang sudah mengetahui hal itu hanya bisa diam, dia bingun harus bicara apa. Posisinya bisa saja serba salah, karena jika dia berucap satu kata saja pasti akan membuat suasana jadi runyam. Jika Kristi mengatakan kepada Alea untuk tidak menolak, Alea pasti berfikir dirinya sedang membela sang papa. Tapi kalau Kristi mengatkan kepada Rehan untuk tidak melanjutkannya, dia pasti akan dituduh oleh Rehan kalau dia sedang membela Alea. Ituklah sebabnya dia lebih memilih diam, karena takut akan menimbulkan masalah. “Lalu kenapa om Dimas meminta Alea yang menjadi istri Arka?” tanya Alea kemudian. “Karena om Dimas percaya kepadamu, dan sebelum kamu lahir dulu Papa dan Mama juga sudah bersepakat untuk menjodohkanmu kelak dengan Arka,” jelas Rehan. Alea melemparkan pandangan penuh tanya ke arah Kristi, namun wanita paruh baya itu hanya bisa menundukkan wajahnya ke bawah. “Ma, apakah semua itu benar? Apakah benar yang Papa katakan itu?” tanya Alea kepada Kristi. “Em, iya Alea. Apa yang dikatakan Papamu itu memang benar. Dulu om Dimas dan tante Selena sudah mengatakan jika bayi ibu perempuan kami akan menjodohkannya dengan putra mereka, Arka. Dan jika saja yang lahir laki-laki mereka akan menjodohkannya dengan anak kedua mereka, yang kala itu masih belum ada sebenarnya.” Kristi menjelaskannya dengan ragu. “Alea dengarkan Papa, Mama dan Papa tahu kamu ingin membahagiakan kami dengan mengejar cita-citamu, tapi Papa juga bahagia jika kamu mau menerima perjodohan ini. Karena kamu tahu sendiri bukan, kalau Papa bersahabat baik dengan om Dimas sejak dulu.” Alea tidak menjawab ucapan Rehan, dia hanya menganggukan kepalanya dengan malas sebagai jawaban. “Sudah, kita makan dulu saja ya.” Kristi mencoba mencairkan suasana yang semakin dingin itu, dia menuangkan nasi ke piring Rehan lalu kemudian piring Alea. Alea terlihat merenung, dia hanya diam dengan tangan yang terus memainkan nasi di piringnya. Pikiran Alea berkecamuk, dia bingung antara menerima atau menolak perjodohan ini. Tentu saja Alea tidak bisa memutuskan secepat dia menyalakan televisi. Karena ini menyangkut kehidupan Alea kedepannya, karena Alea ingin menikah hanya sekali seumur hidup tentunya dengan laki-laki yang ia cintai dan juga mencintai dirinya. Apa lagi usia Alea masih terbilang cukup muda, dan dia juga memikirkan kuliahnya yang belum selesai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN