5. Keputusan Alea

1236 Kata
“Alea,” panggil Kristi yang tidak ditanggapi oleh Alea. “Alea.” Kristi memegang tangan Alea yang masih memegang sendok dan memainkannya. “Ma, Alea ke atas dulu. Selamat malam.” Tanpa menunggu jawabn dari kedua orang tuanya, Alea langsung pergi menuju kamarnya. Kristi hanya bisa memandang kepergian Alea dengan wajah sendu, karena dia bingung harus berbuat apa sekarang untuk membantu Alea. “Apakah mungkin Papa terlalu keras dengan Alea?” tanya Kristi tiba-tiba. “Terlalu keras bagaimana maksud Mama?” tanya Rehan balik kepada Kristi. “Ihh, ya tentang perjodohan tadi, Pa. Apa kita terlalu memaksakan Alea untuk menuruti kemauan kita, Mama jadi bingung, Pa,” ucap Kristi. Rehan hanya bisa memandang wajah istrinya yang kini berubah menjadi sendu. Sejenak Rehan juga memikirkan hal yang sama dengan Kristi, dia berfikir jika dirinya sudah terlalu keras kepada putri semata wayangnya. Tapi mau bagaimana lagi, ini semua sudah direncanakan dari dulu. Kristi menyelesaikan makan malamnya bersama Rehan meskipun tanpa Alea. Gadis cantik itu menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur, lalu dia menutup wajahnya dengan sebuah bantal. Kristi yang khawatir dengan keadaan Alea akhirnya meninggalkan Rehan sendiri di ruang tv. Kristi pergi ke atas, dan kebetulan pintu kamar Alea tidak dikunci. Tanpa permisi Kristi memberanikan dirinya untuk masuk ke dalam kamar putrinya. Saat pintu terbuka, Kristi melihat Alea yang tidur dengan wajahnya menghadap ke bawah, tepatnya di atas bantal. “Alea, kamu tidak apa-apa?” tanya Kristi pelan. “Kalau menurut Mama sendiri, sebaiknya kamu turuti saja permintaan papamu. Pastinya papa kamu tidak ingin jika sampai persahabatannya dengan om Dimas selesai begitu saja.” Mendengar kata-kata bijak yang keluar dari mulut Kristi membuat Alea sedikit demi sedikit mau menampakkan wajahnya. "Tapi, Ma. Pernikahan bukan tentang aku dan dia saja bukan, kita harus bisa menyatukan kedua insan yang berbeda dalam satu ikatan. Menyamakan prinsip dua pribadi yang berbeda bukankah itu bukan suatu hal yang mudah?" Kata-kata Alea sungguh terdengar sangat bijaksana di telinga Kristi. Namun Kristi pada akhirnya akan tetap membujuk Alea agar mau menerima perjodohan ini. Biasanya Alea akan patuh dengan semua ucapan dan juga perintah Rehan, selama itu adalah hal yang baik. Tapi sepertinya tidak untuk kali ini, Alea nampak menolak dengan sangat apa yang sudah menjadi keputusan sang papa. "Alea, dengarkan Mama. Anggap saja semua ini adalah takdir yang telah Tuhan gariskan untukmu. Mungkin saja Arka adalah jodoh terbaik untuk dirimu, dan mungkin dia adalah calon ayah yang baik untuk anak-anakmu kelak." Kristi mencoba membujuk Alea dengan segala upaya yang bisa ia lakukan. Alea juga nampak sedang perfikir keras, dia mencerna setiap kata-kata yang dikatakan oleh kedua orang tuanya. "Kamu pikirkan saja dulu, Mama tunggu jawabannya besok ya," ucap Kristi. Kristi berdiri dan hendak melangkah keluar, tapi tiba-tiba Alea menghalanginya. "Tunggu, Ma," cegah Alea menghentikan langkah sang mama. "Iya Sayang, ada apa?" tanya Kristi setelah membalikkan badannya. "Katakan kepada papa, aku mau menerima perjodohan ini," ucap Alea. Kristi kembali melangkahkan kakinya mendekati Alea, dia memandang wajah putrinya itu dengan penuh tanda tanya. "Kamu serius Sayang?" tanya Kristi yang belum yakin. "Iya, Ma. Aku yakin, tolong beritahukan kepada papa ya, Ma." ucap Alea lembut. "Iya Sayang, nanti mama sampaikan kepada Papa ya." Kristi membelai rambut Alea dengan lembut, lalu mengecup dahinya sejenak. *** ”Lyla, dimana Kakak kamu?” tanya Selena kepada putri bungsunya. “Bukannya Kak Arka belum pulang ya, Mi. Dari tadi Lyla belum melihat mobil Kaka Arka pulang soalnya,” jawab Lyla. “Loh, belum pulang ya ternyata. Tapi tadi Mami lihat Kak Arka deh kayaknya,” kata Selena. Saat tengah memasak menu makan malam bersama Ajeng tadi, Selena sempat melihat Arka masuk ke dalman rumah. Tapi sekarang Lyla justru mengatakan kalau Arka belum pulang. “Kenapa pada ngomongin aku, kamu juga anak kecil sok tahu banget.” Tiba-tiba Arka datang dari kamarnya, dia langsung menghampiri Lyla dan mencbit pipi gempal sang adik dengan gemas. “Ahh, Kakak sakit tau,” teriak Lyla. “Iya siapa suruh kamu ngomongin Kakak di belakang, itu hukumannya,” tukas Arka. “Lihat Mi, Kak Arkanya julid sama aku.” Layaknya seorang adik pada umumnya, Lyla selalu menggunakan nama maminya sebagai senjata utama kalau sedang dijahilin oleh Arka. “Ada apa lagi ini? Kalian ini bisa ngak kalau sehari saja jangan berantem kaya gitu, Papi pusing dengarnya,” kata Dimas. “Itu Pi, Kak Arka yang mulai, Kak Arka nyubit pipi aku kencang banget. Lihat sampai merah semua pipi aku.” Kini Lyla mengadu kepada Dimas setelah tadi ia mengadu kepada Selena. Tapi respon Dimas sama seperti seorang ayah pada umumnya, dia membela Lyla dan menyalahkan Arka. Karena kebanyakan seorang ayah pasti akan membela anak perempuanya dibandingkan anak laki-lakinya kalau sedang berdebat seperti ini. Sama halnya seperti sekarang ini, Dimas lebih membela Lyla, apa lagi di sini Lyla itu seorang adik. “Sudahlah Arka, kamu sebagai seorang kakak harus mengalah dengan adik kamu. Dan kamu juga jangan mancing-mancing seperti itu, sebagai seorang kakak itu harusnya kamu bisa mengajarkan yang baik kepada adik kamu.” Sudah Arka duga sebelumnya, papinya pasti akan mengatakan hal ini. Karena ini bukan pertama kalinya Arka diceramahi oleh Dimas seperti ini. “Iya, Pi,” jawab Arka dengan pasrah. “Arka, kamu pulang jam berapa tadi? Tadi itu Mami kaya lihat kamu masuk ke dalam rumah tapi Mami ngak dengar suara mobil kamu,” tanya Selena kepada putra bungsunya sembari membawa bakwan jagung yang baru saja selesai ia goreng. “Tadi Arka pulang jam lima, Mi. Dan kebetulan mobil Arka dibawa sama Andi, mobil dia tadi mogok di jalan. Tadi Arka ngak sengaja lihat jadi ya sudah Arka tolongin aja,” jelas Arka. “Terus mobilnya Andi sudah dibawa ke bengkel sekarang?” tanya Selena lagi. “Sudah Mi, tadi Arka telfon derek buat bawa mobil Andi ke bengkel langganan Arka,” jawab Arka. “Harusnya Kakak pulang naik taksi online saja, biar Kak Andi ngak repot-repot nganterin Kakak pulang tadi,” celetuk Lyla. “Iya harunya tadi kamu aja yang jemput Andi ya, biar Andi ngak usah bawa mobil Kakak,” sahut Arka. “Sudah-sudah, mulai lagi debatnya ya. Heran banget sama kalian,” tegur Dimas. “Kita makan dulu ya, jangan debat terus nanti yang ada jadi tambah lapar.” Amie langsung menyiapkan makanan ke piring masing-masing. Meskipun menu makan malam mereka sederhana, tapi rasanya sangat mantab karena kebersamaan mereka. Sesibuk apapun Arka ataupun Dimas, mereka berdua selalu menyempatkan diri untuk makan malam di rumah bersama keluarga. Karena terkadang mereka, terutama Arka jarang sarapan di rumah. Jadi Dimas menuntut sekaligus mengajarkan kepada Arka agar selalu menyempatkan waktu untuk makan malam bersama. Dan itu tidak berat bagi Arka, karena dia adalah orang yang sangat disiplin waktu. Jadi dia berangkat dan pulang kerja sesuai jamnya. Arka lebih memilih melanjutkan pekerjaannya di rumah dari pada di kantor. Sebab kalau di rumah rasanya lebih nyaman, dan ada Selena juga yang selalu siap mengingatkan Arka waktunya tidur kapanpun itu. Makanan di piring mereka sudah bersih tidak tersisa, apa lagi Lyla si anak gadis Dimas yang porsi makannya hampir sama dengan kakaknya. “Oh iya Arka, ada yang ingin Papi bicarakan sama kamu,” kata Dimas. “Tentang apa, Pi?” tanya Arka. “Jadi tadi Papi ketemu sama Om Rehan, dan Papi sama dia membicarakan tentang perjodohan kamu sama putrinya.” Arka terlihat sangat syok mendengar hal itu, mulutnya sampai membentuk huruf O dengan sempurna. Untungnya Arka sedang tidak memakan atau minum apapun, kalau sampai mulutnya masih terisi makanan atau minuman mungkin sekarang sudah keluar semua.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN