“Tentang perjodohan aku? Ini maksudnya bagaimana, Pi?” tanya Arka.
“Iya Papi sama Om Rehan mau jodohin kamu sama Alea,” jelas Dimas.
“Tapi Pi, Arka belum siap untuk menikah,” protes Arka.
“Usia kamu ini sudah sangat matang untuk membina rumah tangga Arka, jadi Papi mau kamu terima saja perjodohan ini,” tegas Dimas.
“Menikah itu bukan cuma sekedar aku dan dia bersama dalam satu ikatan pernikahan saja, Pi. Tapi pernikahan itu menyangkut sebuah komitmen, dan Arka juga ingin menikah sekali dalam seumur hidup Arka,” tukas Arka.
“Iya itu bagus, pernikahan memang harusnya sekali dalam seumur hidup. Dan Papi sangat setuju kalau kamu juga punya prinsip seperti itu, ini baru yang namanya anak Papi.”
Arka merasa kesal mendengar ucapan sang papi, namun untungnya Arka bukan tipe laki-laki yang pemarah. Semarah-marahnya Arka dia tidak pernah membentak Dimas apa lagi Selena. Meskipun Arka terkenal laki-laki yang dingin, tapi dia sangat penyayang dan penurut.
Dan Dimas sendiri juga seorang papi yang penyayang, dan hal itu ia turunkan kepada Arka dan juga Lyla. Sebenarnya Dimas juga sudah tahu maksud ucapan Arka, kalau dia ingin menikah dengan wanita pilihannya suatu saat nanti. Tapi Dimas sengaja mengatakan seperti itu agar Arka tidak mengeluarkan argumennya lagi.
“Nanti setelah ini kita atur pertemuan keluarga, kamu dan Alea harus sesegera mungkin bertemu biar kalian bisa lebih dekat dan bisa lebih akrab,” ujar Dimas.
“Pi, tapi Arka itu ingin menikah dengan wanita pilihan Arka, Pi. Bukan menikah dengan wanita pilihan Papi,” protes Arka.
“Memangnya kamu sudah punya pacar? Sudah ada wanita yang hendak kamu jadikan istri?” tanya Dimas.
“Iya mungkin kalau saat ini Arka memang belum ada kekasih, Pi. Tapi suatu saat nanti Arka pasti akan menemukannya, tapi Papi harus beri Arka waktu untuk itu,” kata Arka.
“Siapa suruh dingin banget kalau sama orang lain, ya kaya gini jadinya ngak punya pacar sampai sekarang,” sindir Lyla.
“Anak kecil ngak usah ikut campur ya,” tukas Arka.
“Enak saja dibilang anak kecil, aku sebentar lagi sudah mau masuk kuliah tau,” protes Lyla sambil mencebikkan bibirnya ke arah Arka.
“Sudah-sudah, kalian ini baru saja selesai berdebat, sekarang sudah mulai lagi debatnya. Ngak capek apa tiap hari kerjaanya debat aja, Mami yang hanya melihat saja capek apa lagi kalian yang debat,” kata Selena memberikan nasihat kepada kedua anaknya.
“Iya yang mulai duluankan Kak Arka, Mi,” sahut Lyla mencari pembelaan untuk dirinya sendiri.
“Sudah Lyla, Mami ngak menyalahkan salah satu dari kalian. Mami itu memberikan nasihat untuk kalian berdua supaya bisa akur, sehari saja jangan debat biar Mami ngak pusing kepala,” ujar Selena.
“Apa lagi kamu Arka, usia kamu ini sudah tiga puluh tahun. Masa iya kamu masih mau debat sama adik kamu yang masih bocah ini, memangnya ngak malu sama calon istri kamu?”
Awalnya Lyla sudah merasa senang karena Selena menyalahkan Arka, tapi pada akhir kalimatnya ternyata Selena juga menyalahkannya.
“Iya Mi, maafin Arka,” ucap Arka penuh penyesalan.
“Iya Mami maafin, yang penting jangan diulangi lagi,” jelas Selena.
Arka kembali menyesap minumannya, bahkan dia sampai menghabiskannya.
"Oh iya Pi, tentang perjodohan Arka, respon dari Alea sendiri seperti apa? Apakah Alea mau menerima perjodohan ini?" tanya Selena.
"Papi juga belum tahu, Mi. Tapi Rehan akan memberikan kabar keputusan dari Alea secepatnya. Dan Rehan juga yakin kalau Alea pasti akan setuju dengan perjodohan ini. Karena Alea itu anak yang baik, dan dia itu penurut sekali," jelas Dimas.
"Iya benar itu yang Papi katakan, Kak Alea itu sudah cantik, baik, penurut, pintar lagi. Pokoknya Kak Alea itu sudah paket komplit banget, apa lagi dia orangnya sangat humble dan ramah. Kalau Lyla sih ngak mau kalau punya kakak ipar kaya Kak Alea, ngak mau kelamaan maksudnya," canda Lyla.
"Anak kecil jangan ikut campur," tegur Arka.
"Arka, apa yang dikatakan adik kamu itu ada benarnya juga loh. Alea itu memang gadis yang cantik, ramah, dan pandai. Dia juga anak yang sangat rajin, buktinya dia selalu membantu ibunya jualan kalau tidak kuliah," kata Selena.
Selena dan Dimas memang sudah mengenal Alea lebih dekat. Karena hubungan dekat Rehan dan Dimas itulah yang membuat Selena menjadi mengenal Alea lebih jauh.
Lyla pun sama seperti Selena, dia sudah jauh mengenal Alea dibandingkan Arka. Sebab Lyla sering ikut dimas saat ia datang ke rumah Rehan.
"Bagaimana Arka, kamu maukan Papi jodohkan dengan Alea?" tanya Dimas lagi.
"Kenapa Papi bertanya kepada Arka? Bukankah Alea sendiri belum menjawab dia mau atau tidak dengan perjodohan ini bukan?"
Bukannya menjawab pertanyaan sang papi, Arka justru membalikkan pertanyaan itu kepada Dimas.
"Iya Alea memang belum memberikan jawaban, tapi kemungkinan besar Alea pasti setuju dengan perjodohan ini," tegas Dimas.
"Ya sudah, kalau Alea mau dengan perjodohan ini, Arka juga mau menerima perjodohan ini."
Semua orang yang ada di meja makan langsung syok mendengar ucapan Arka. Bahkan sang asisten rumah tangga mereka juga ikut terkejut mendengar penuturan Arka.
Apa lagi Lyla, mulutnya sampai terngaga saking terkejut dan tidak percayanya. Kakaknya yang usil dan dingin tiba-tiba saja mau menerima perjodohan dari orang tuanya begitu saja tanpa alasan dan tanpa syarat apapun.
"Arka, kamu seriuskan dengan jawaban kamu?" tanya Selena dengan wajah syoknya.
"Iya Mi, Arka serius dengan jawaban Arka. Terserah Papi dan Mami mau mengadakan pertemuan keluarga kapan saja. Yang pasti Arka mau tahu jawaban dari Alea dulu. Kalau Alea menolak itu artinya Arka juga menolak perjodohan ini. Begitu juga sebaliknya, kalau Alea menolak artinya Arka juga menolak perjodohan ini," tegas Arka.
"Arka mau ke kamar dulu, Mi, Pi. Arka capek."
Arka langsung meninggalkan meja makan, dia masuk ke dalam kamarnya setelah memberikan jawabannya atas perjodohan yang direncanakan orang tuanya.
"Pi, kita terlalu keras ngak sih sama Arka?" tanya Selena selepas kepergian Arka.
"Tidak Mi, Arka itukan laki-laki, jadi memang kita harus tegas kepada dia," jawab Dimas.
Sementara itu di kamarnya Arka tengah berdiri termenung di dekat jendela. Dia memikirkan perjodohan yang ia setujui itu.
"Kenapa aku bisa tiba-tiba setuju dengan perjodohan itu ya? Kenapa aku tidak menolaknya saja dengan keras? Sebenarnya apa yang ada di hati aku sekarang ini?"
Arka bertanya-tanya tentang isi hatinya sekarang ini.