7. Pertemuan Keluarga 1

1008 Kata
“Alea, kamu sudah siap belum?” teriak Kristi dari lantai satu. “Iya Ma, sebentar lagi,” sahut Alea yang tidak kalah lantangnya dengan Kristi. “Cepetan, ini sudah hampir malam,” kata Kristi lagi. “Iya Ma, siap.” Sebenarnya Alea sudah siap sejak tadi, tapi dia masih belum terlalu yakin. Alea butuh waktu untuk lebih memantabkan lagi hatinya. Memang benar Alea sudah menyetujui perjodohan ini, tapi di hati Alea masih ada yang mengganjal. Apa lagi Alea dan Arka sama sekali tidak pernah dekat sebelumnya. Bisa dibilang hanya sekedar mengetahui nama dan orangnya saja, bertegur sapa pun sama sekali tidak pernah. Malam ini ada pertemuan keluarga antara keluarga Rehan dan keluarga Dimas. Tentu saja tujuan dari pertemuan ini adalah untuk membahas tentang perjodohan Arka dan Alea lebih jauh lagi. Malam ini Alea mengenakan gaun berwarna biru dongker yang dibelikan oleh sang mama. Sebenarnya Alea tidak terlalu nyaman mengenakan gaun itu, tapi bagaimanapun dia tetap harus memakainya untuk menghargai sang mama. Mungkin ini kali pertama Alea mengenakan gaun ke acara makan malam. Karena sebelumnya Alea sama sekali tidak pernah mengenakan gaun apa lagi gaun seindah itu. Alea bukan wanita yang tomboy, hanya saja Alea memang lebih nyaman mengenakan celana dari pada rok. Kalau untuk drees mungkin Alea masih nyaman mengenakannya, tapi kalau untuk gaun seperti yang ia kenakan saat ini justru membuatnya kurang percaya diri. “Ayo Alea, kamu harus yakin, kamu harus bisa. Bukankah kamu sendiri yang memutuskan untuk menerima perjodohan ini tanpa ada paksaan dari orang lain? Jadi kamu harus kuat, kamu harus bisa melewati ini semua.” Alea berbicara dengan dirinya sendiri, memberikan semangat kepada dirinya agar bisa melewati semua ini dengan lapang d**a. Sebab rasanya tidak masuk akal jika tiba-tiba Alea membatalkan perjodohan ini. Apa lagi Alea menerimanya tanpa syarat dan tanpa paksaan pula. “Ayo Ma, Pa, Alea sudah siap.” Alea menghampiri kedua orang tuanya yang sudah menunggunya di ruang tamu. “Kamu sudah siap?” tanya Kristi. “Iya Ma, Alea sudah siap.” Alea menarik kedua sudut bibirnya sehingga sebuah senyuman manis terukir di wajahnya. “Kalau begitu kita berangkat sekarang saja ya, malu nanti kalau sampai Om Dimas dan keluarganya menunggu kita terlalu lama,” kata Rehan. “Iya Pa,” jawab Alea. “Oh iya Alea, kamu cantik sekali malam ini,” puji Kristi. “Jadi biasanya Alea tidak cantik ya, Ma?” tanya Alea. “Biasanya cantik juga, cuma malam ini kamu seratus kali lipat lebih cantik dari biasanya,” jelas Kristi. “Benar apa kata Mama kamu, cantiknya putri kesayangan Papa. Sampai Papa saja hampir syok tadi waktu pertama kali melihat kamu,” gombal Rehan. “Papa sama Mama ini bisa aja deh.” Entah yang dikatakan mama serta papanya itu kebohongan atau sebuah kenyataan, yang pasti satu hal yang sudah jelas maksud dari ucapan kedua orang tua Alea. Mereka ingin menghibur Alea, ingin mencairkan suasana agar Alea tidak terlalu tegang karena pertemuan keluarga ini. “Kita berangkat sekarang ya.” Dimas, Kristi, dan Alea langsung masuk ke dalam mobil dan menuju ke restoran yang sudah dipilih oleh Dimas dan keluarganya. *** Berbeda dengan Alea yang gugup dan kurang yakin, Arka justru sudah siap lebih dulu dibandingkan yang lain. Terutama Selena dan Lyla, seperti seorang wanita pada umumnya mereka juga lama kalau bersiap-siap hendak pergi ke mana. “Adik kamu di mana Arka?” tanya Dimas yang baru saja keluar dari kamarnya. “Lyla masih di kamar, mungkin dia masih pakai meke up belum selesai,” jawab Arka. “Kamu sudah siapkan?” Meskipun Dimas yang merencanakan perjodohan ini, tapi dia juga sedikit khawatir dengan perasaan sang putra. Tapi Dimas yakin kalau Arka bisa melewati ini semua dan bisa menjalankannya dengan baik. Sebab Arka adalah laki-laki yang penuh tanggun jawab dan penuh kasih sayang. Bukan hanya Dimas yang yakin, Selena juga yakin Arka tidak akan menyakiti Alea. Mungkin sekarang mereka belum saling memandang satu sama lain, tapi Selena yakin perasaan itu akan tumbuh setelah mereka terbiasa bersama. Apa lagi nanti kalau sudah menikah dan mereka tinggal satu rumah,benih-benih cinta tidak akan mungkin tidak tumbuh diantara keduanya. “Iya Pi, Arka sudah siap,” jawab Arka dengan mantab. “Bagus, Papi yakin kamu itu laki-laki yang baik Arka. Kamu orang yang penuh tanggung jawab, Papi percaya kalau kamu pasti bisa menjaga kepercayaan Papi dan juga Om Rehan,” tutur Dimas. “Iya Pi, doakan saja semoga Arka bisa memegang tanggung jawab ini.” Antara pasrah dan patuh, itulah posisi Arka saat ini. Dibilang pasrah Arka tanpa menerima perjodohan ini tanpa paksaan dari Dimas ataupun Selena. “Yakin tidak yakin, Arka harus yakin, Pi. Siap atau tidak siap tapi Arka tetap harus siap menerima perjodohan ini. Sebab Arka menerima perjodohan ini bukan karena keterpaksaan, tapi Arka yakin ini jalan yang terbaik,” kata Arka dalam hatinya. Hal yang membuat Arka akhirnya yakin dan mau menerima perjodohan ini tanpa adanya paksaan itu karena dia percaya dengan kedua orang tuanya. Arka yakin kalau Dimas tidak mungkin memberikan sesuatu yanh tidak baik untuknya, putra kandungnya sendiri. Tentu saja Dimas akan memberikan yang terbaik untuk dirinya. Dan salah satunya adalah Alea, Arka yakin Alea sudah menjadi pilihan terbaik dari Dimas untuknya. Meskipun Arka sendiri belum tahu alasan apa yang membuat Alea mau menerima perjodohan ini. Yang pasti Arka menerima ini dengan lapang d**a tanpa rasa terpaksa. “Mami sudah siap,” kata Selena yang baru saja keluar dari kamarnya, yang kemudian disusul oleh Lyla. “Aku juga sudah siap,” ujar Lyla. "Wah, Kak Arka ganteng banget sih," puji Lyla saat melihat kakaknya. "Kakak memang tampan dari dulu, kamu saja yang tidak pernah menyadari itu," sahut Arka. "Bukannya Lyla sudah sadar sejak dulu ya, cuma kali ini Kakak lebih ganteng aja dari pada biasanya," jelas Lyla. "Sudah-sudah jangan berdebat, lebih baik kita ke sana sekarang saja. Jangan sampai kita kemalaman terus Om Rehan dan keluarganya kelamaan nunggu kita," ujar Kristi. "Apa kata Mami itu benar, lebih baik kita jalan sekarang saja. Ayo." Mereka berempat langsung keluar dari rumah, dan segera menuju restoran tempat di mana mereka akan melangsungkan pertemuan keluarga tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN