"Arlan!" Seruan itu sontak membuat langkah Arlan terhenti, ia membalik badan. Menatap Ali yang berjalan menghampiri dirinya. "Kamu mau kemana?" Arlan menggeleng pelan, tatapan yang sulit diartikan ia suguhkan pada Ali. Baru saja ia melihat lelaki itu memeluk Zahra disertai panggilan sayang. Mereka ada hubungan apa? Apa Arlan benar-benar sudah terlambat untuk memperbaiki dan berusaha memulainya dari awal. "Enggak tau?" Kening Ali berkerut. "Mending kamu ikut sama Abang, ngopi dekat sini. Dikasih gratis karena yang punya kedai istri Abang." Ali terkekeh diakhir kalimat. Arlan tersenyum kecil, ternyata dugaannya benar. Ia sudah terlambat, perempuan yang dicintainya sudah menjadi milik orang lain. Seharusnya sejak kejadian itu Arlan tidak perlu lagi berharap karena Zahra sudah sa

