Malam Terkutuk
Hujan deras disertai angin dan petir kencang sedang melanda Jakarta malam itu, saat itu jam menunjukkan pukul 11.00 malam. Raia kecil yang kehilangan bola bekelnya masuk mencari bola itu ke ruang kerja pamannya mengumpat di bawah meja. Tiba-bisa saja Dewi masuk mengotak-ngatik ponselnya berulang kali mencoba menghubungi seseorang namun tidak diangkat. Dia terlihat gusar, sedangkan Raia yang tidak menemukan bola bekelnya mengumpat di bawah meja. Lalu seorang laki-laki menerobos masuk ke dalam langsung menodongkan pisaunya ke arah Dewi. Mata Dewi terbelalak terkejut, siapa laki-laki ini bisa masuk ke ruang kerja Djaya. Lelaki itu terus menunjukkan mata pisaunya membuat Dewi perlahan mundur ketakutan, sampai ia terpojok. Dengan cepat tanpa ampun lelaki itu menancapkan pisaunya. Raia yang melihat kejadian itu ketakutan, tangannya gemetar memegang boneka beruang kecil berwarna coklat. Tangan satunya lagi menutupi mulutnya yang tanpa sadar bisa mengeluarkan suara kapan saja. Laki-laki berpakain serba hitam, dengan topi dan masker menutupi wajahnya terlihat sedikit panik menoleh ke berbagai arah, dia merogoh kantong seorang wanita yang tergeletak tak berdaya di lantai, tepat lurus dari pandangan Raia. Wanita tersebut bersimbah darah dan sudah tidak bernafas, lelaki dengan luka di tangan itu terus meraba tubuh wanita itu sampai dia merasakan sesuatu di kantong celana wanita tak bernyawa dengan rambut hitam pekat. Dia merogoh kantong celana itu dan menemukan Flashdisk silver yang ia cari, segera setelah mengambil flashdisk, laki-laki itu pergi keluar dari ruangan tanpa meninggalkan jejak.
Raia yang masih ketakutan tetap diam di bawah meja kerja pamannya, untungnya pembunuh tersebut tidak mengetahui ada seorang anak berumur 10 tahun yang mengumpat disana. Bibir Raia gemetar ketakutan, tidak lama kemudian paman dan kedua orang tua Raia datang ke ruangan tersebut, Ibu Raia teriak histeris. Djaya yang melihat kekasihnya Dewi tewas, langsung tersungkur di bawah dan menangis sejadi-jadinya. Ayah Raia hanya terdiam kaku, dia terkejut melihat apa yang terjadi, lalu Raia perlahan keluar dari meja kerja tersebut menangis. Ibu Raia menutup mulutnya kaget, bagaimana bisa anaknya berada disana dan menyaksikan semua kejadian tersebut. Ayahnya langsung menggendong Raia dan membawanya keluar.
Tujuh hari setelah kejadian itu, Raia masih tidak mau bicara. Polisi memberikannya beberapa pertanyaan tapi dia hanya menggeleng tanpa menjawab.
"Raia,.. makan ya." Seru Fira, ibu Raia menyodorkannya sesendok bubur untuk di makan. Tapi Raia menggelengkan kepalanya menolak makananan yang ada ditangan ibunya.
"Ayo dong sayang makan, kasian kamu sudah lemas begitu. Mau ya makan, mama jadi sedih ngeliat kamu begini."
Raia tetap menggelengkan kepalanya, tatapannya kosong. Harusnya hari ini dia akan bertemu dokter spesialis jiwa untuk anak yang di datangkan ayahnya langsung dari Singapura. Melihat keadaan anaknya yang tidak ada perkembangan membuat kedua orang tua Raia menghubungi dokter ahli kejiwaan terbaik dari Singapura. Apapun akan mereka lakukan demi anak semata wayangnya itu. Butuh lebih dari 5 tahun bagi Raia untuk bisa kembali menjadi seperti gadis pada umumnya. Raia melanjutkan sekolahnya seperti biasa, dia berteman dan belajar tanpa kendala yang berarti. Disanalah Raia bertemu dengan Elang, seorang laki-laki dingin yang memikat hatinya.
Elang merupakan incaran gadis-gadis di sekolahnya begitupun dengan Raia, teman-teman mereka banyak yang menjodohkan mereka, tapi Elang tidak bergeming. Dia begitu dingin pada Raia.
"Lang, Raia mau ngomong tuh." Ucap Suci teman Raia yang dengan sengaja mendorong Raia mendekat pada elang.
Raia sedikit ragu-ragu, dia menoleh ke arah temannya lalu menatap Elang sambil menghela napasnya panjang, jantungnya berdegup kencang. Ini pertama kalinya dia sedekat ini dengan Elang, Raia tersenyum memandang Elang tapi mulutnya terkunci, tidak bisa bicara. Elang balas tersenyum pada Raia singkat lalu mengambil buku yang ada di meja dan membacanya.
"Mau ngomong apa?" Seru Elang sambil menunduk membaca bukunya.
Raia menaikkan alisnya senang " Hmm, saya boleh pinjam buku kamu?" Ucapnya sambil melirik buku kamus Bahasa Inggris yang ada di meja Elang.
Elang tau buku yang di maksud Raia adalah kamus Bahasa Inggris, dia pasti tidak bawa kamus hari ini. Kalau mam Julie tau , Raia pasti akan kena hukuman.
"Nggak bisa, saya butuh kamus itu." Seru Elang menolak dengan tegas tanpa melihat wajah Raia.
"Tolong, kamu kan sudah selesai jam pelajaran Bahasa Inggrisya jadi pinjamkan saya buku itu." Raia menggigit bibirnya ragu-ragu. Jahat sekali dia tidak meminjakan buku itu padanya.
"Salah sendiri kamu tidak bawa kamus. Saya gak bisa pinjemin, saya juga butuh, kamu pinjem sama yang lain saja" Seru Elang dengan nada datar.
Wajah Raia mengeras menahan kesal, pelit sekali sih laki-laki satu ini.
"Pelit sekali sih, saya cuma pinjam sebentar toh pelajaranmu juga sudah selesai."
"Itu buku saya, jadi terserah saya mau meminjamkannya sama kamu atau tidak. Dan saya tidak mau meminjamkannya sama kamu." Sekarang Raia mendapat perhatian penuh dari Elang, Elang menutup buku yang ia baca dan menatap tajam Raia.
Raia mengerutkan dahinya kesal, kaki kanannya menghentak ke tanah lalu dia berbalik memunggungi Elang dengan tangannya yang terlipat dan mulut yang cemberut.
"Rai, ini kamus saya. Kamu boleh pinjam kok." Seru Anwar yang duduk di depan Elang memberikan kamusnya pada Raia. Untuk informasi saja, Elang tidak suka duduk di depan. Dia akan selalu mengambil bangku paling belakang.
Raia mengambil kamus itu ragu-ragu, lalu dia segera pergi meninggalkan Elang.
Raia Kembali ke kelas dan duduk di bangkunya kesal, dia menaruh kasar buku kamus yang ada di tangannya.
"Sialan si Elang." Serunya dengan tangan terlipat.
Suci menghela napasnya iba melihat Raia " Kurang ajar emang tuh si Elang."
"Awas aja, gue bakal bikin dia bertekuk lutut di hadapan gue."
"Heh, bener banget lo kerjain aja dia sekalian. Cowok kayak dia emang pantes buat di kerjain."
Elang tidak asal bicara, dia memang membutuhkan kamus itu untuk mengerjakan tugasnya, dia tidak bermaksud jahat pada Raia dengan tidak meminjamkan kamus itu. Dia pergi ke perpustakaan untuk mengerjakan pekerjaan rumahnya.
****
Sore itu Elang meninggalkan jam tangan miliknya di atas meja kelas, dia pergi ke kamar mandi untuk berganti baju olahraga. Tidak biasanya Elang seteledor itu dengan meninggalkan barang pribadinya berserakan, dan jam tangan itu adalah benda paling berharga miliknya. Suci yang melihat jam tangan Elang di atas meja sendirian langsung mengambilnya.
Suci berlari ke arah Raia "Nih, gue ambil jam tangannya. Dia ngegeletakin aja tuh jam tangan di atas meja." Ucapnya memberikan jam tangan itu pada Raia.
Raia menyeringai " Bagus, dia pasti akan nyari jam tangan ini." Raia lalu memasukkan jam tangan itu ke dalam tasnya.