Elang kembali ke kelas dengan tubuh penuh keringat, baju basketnya pun lengket menempel pada kulit putihnya. Dia mengambil sebotol air mineral dan menenggaknya hingga habis. Dia mencoba menormalkan detak jantungnya, latihan kali ini lumayan menguras tenaganya. Kebetulan dia sedang jarang latihan, sekalinya latihan langsung terasa berat.
"Lang, gue duluan" Ujar Dimas menepuk pundaknya.
Elang hanya mengangguk lalu menyandarkan tubuhnya pada kursi kelas berwarna coklat. Napasnya masih tersengal-sengal setelah berolahraga tadi. Setelah beberapa menit, Elang mengambil tas ranselnya yang berwarna merah lalu merapikan barang-barangnya bersiap untuk pulang. Ia memincingkan matanya teringat saat melihat pergelangan tangannya yang polos, ada yang hilang dari pergelangan tangannya. Jam, iya jam tangan kesayangannya hilang. Tadi dia ingat meninggalkan jam itu di atas meja, dia lupa ingin memasukkannya ke dalam tas. Elang panik mencari jam itu kemana-mana tidak ada, di tas tidak ada, di kolong mejanya juga tidak ada.
"Nyari ini?" Suara dari belakang telinganya terdengar sangat menyebalkan, mengganggu.
Elang menoleh ke arah suara menyebalkan itu, Raia, anak itu benar-benar. Raia berdiri di samping pintu kelas elang, menyandar pada pinggir pintu sambil menyilangkan kakinya. Tangannya terangkat tinggi menggantungkan jam tangan hitam elang pada jarinya.
"Kembalikan jam itu." Seru Elang tegas.
"Tidak akan." Ujar Raia tersenyum meledek. Dia puas sekali bisa melihat wajah Elang yang panik. Dia menggemaskan
"Kembaliin nggak, itu jam punya saya." Sekarang suara Elang mulai naik sama dengan emosinya.
"Ambil sendiri kalau bisa wweekk." Raia berlari dengan cepat mengantongi jam itu di sakunya.
Elang yang kesal ikut berlari mengejar Raia, bagaimapun dia harus mendapatkan kembali jam itu.
"Eh, Raia kembaliin nggak jam itu." Ancam Elang, dia sekarang tidak tahu berada dimana, Raia berlari sangat cepat membuatnya kewalahan tapi dia tidak perduli yang penting adalah jam itu.
Raia juga sudah kelelahan, dia membungkuk memegangi pinggangnya.
"hah hah hah kamu gila ya ngejar saya sampe sini." Napasnya masih tersengal-sengal.
"Udah jangan banyak omong, sini jamnya." Elang berusaha merebut jam tersebut tapi sayangnya dia kurang cepat.
"Eits, tunggu...saya akan kasih kamu jam ini tapi ada syaratnya." Raia memang anak yang jahil. Dia senang mengerjai orang lain.
Elang menghela napasnya, rahangnya mengeras "Kamu jangan macem-macem sama saya."
"Kamu mau jam ini atau tidak?"
Elang berpikir sebentar, otaknya memutar ke segala kemungkinan " Okay, apa syaratnya?"
"Hmm kamu harus mau berteman dengan saya dan melakukan apapun yang saya minta." Ujar Raia dengan mata indahnya yang nakal.
Elang mengerutkan dahinya, dirinya berkacak pinggang. Sebenarnya apa sih yang wanita ini mau.
"Okay saya akan nurutin kemauan kamu."
"Bener? Janji?"
"Iya bener, sekarang kembalikan jamnya."
Raia menaikkan kedua alisnya melihat jam tersebut, apa istimewanya jam ini sampai bisa membuat Elang yang sangat kuat menjadi lemah.
"Nih." Raia mengembalikan jam tersebut, dia menarik tali ranselnya merasa sedikit bersalah pada Elang. Elang mengambil jam tersebut dan langsung memakainya.
"Jam itu sepertinya jam tua, kenapa kamu begitu sayang dengan jam itu?"
"Kamu nggak perlu tau." Serunya, mengamati jam tangan yang melingkari pergelangan tangannya.
Raia mengeluarkan senyum malasnya "Kamu lupa, barusan tadi kita berjanji untuk berteman."
Tiba-tiba Elang melihat motor kencang melaju menuju ke arah Raia, sepertinya motor itu hilang kendali dan hendak menabrak Raia. Semakin dekat motor itu semakin kencang, mata Elang menatap motor itu dan Raia bergantian sampai pada akhirnya motor itu tepat berada di belakang Raia, karena panik Elang menarik tangan Raia menjauh dari motor itu. Elang hilang kendali dan akhirnya terjatuh bersama dengan Raia yang sekarang berada di atas tubuhnya.
"Au." Ucap Raia meringis kesakitan, dia kaget saat sadar melihat Elang yang telah menahan tubuhnya dan terlebih lagi Elang pasti lebih kesakitan dibanding dia. "Elang, lang..." Raia berusah membuat mata Elang terbuka.
"Argghh." Elang mulai bergerak dan matanya sedikit terbuka.
"Kamu nggak papa?"
Elang memegang kepalanya yang sakit karena terbentur walau tidak parah "Nggak papa, ehm... kamu bisa minggir gak? Berat." Ujar Elang menelan ludahnya gugup.
"Oh, maaf." Raia langsung menjauh dari tubuh elang. Elang mencoba duduk dibantu oleh Raia. Matanya lalu melihat lengan Elang berdarah. " Lengan kamu berdarah."
"Hah?" Dia langsung melihat lengannya yang luka akibat terjatuh tadi.
"Maaf ya, mau ke dokter. Saya antar."
"Nggak usah cuma luka kecil." Jawabnya datar.
Raia akhirnya membawa Elang ke suatu Apotek untuk mengobati lukanya, walau tidak besar tapi lukanya sepertinya akan sakit sekali. Lecet. Setelah dibersihkan dan diberi antiseptic, luka Elang dibalut dengan plester. Mereka duduk di pinggir sebuah taman.
"Sakit ya?" Tanya Raia polos.
"Udah nggak."
Raia kemudian pergi ke sebuah mini market, dia membeli dua kotak s**u. Semoga ini bisa mengurangi rasa bersalahnya.
"Makasih ya tadi udah nolongin, nih minuman buat kamu." Raia membawa dua kotak s**u, Raia lalu meniupi luka Elang agar cepat kering.
"Hmm, sepertinya pengendara motor tadi sengaja ingin menabrak kamu."
"Nggak mungkin ah, memangnya buat apa dia nyelakain saya. Mungkin dia baru bisa naek motor atau motornya ada masalah makanya akhirnya nabrak saya." Ujar Raia yang tidak curiga sedikitpun. Tidak terbesit sekecilpun di pikirannya bahwa akan ada orang yang ingin mencelakainya. Selama ini dia belum pernah membuat kesalahan yang fatal pada seseorang dia selalu berperilaku baik. Dan orang tuanya juga baik pada semua orang.
Elang mengangguk mendengar Raia, tapi dalam hatinya dia curiga. Jelas-jelas orang itu manaikkan gasnya mendekati Raia. Ia menusuk kotak s**u dengan sedotan dan langsung meminumnya.Elang dikaruniai dengan insting yang tajam, itu mengalir turun temurun di keluarganya. Ayahnya dikenal sangat teliti dalam membaca analiasa kebutuhan pasar. Itulah yang membuat perusahaan keluarganya berkembang sangat pesat.
Suasana sangat canggung, mereka berdua duduk di sebuah taman meminum sekotak s**u. Sungguh keadaan yang membuat jantung berdegup kencang sekaligus menyenang untuk seorang remaja yang baru mengerti kata lawan jenis. Mereka saling melirik satu sama lain dengan sedotan yang masih menempel di mulut.
Waktu menunjukkan pukul delapan malam, Elang mengantarkan Raia sampai di depan rumahnya. Rumah Raia sangat besar sama seperti rumahnya, Elang mengamati bagunan tinggi rumah tersebut. Dia bisa tau siapa Raia ini dari rumahnya, dia bukan anak sembarangan.
"Sekali lagi makasih ya."
"Sama-sama, saya pamit ya sudah malam." Sekarang nada bicara Elang mulai lembut.
Raia mengangguk "Teman." Ucapnya sambil mengulurkan tangan lentik berwarna sawo matang miliknya.
Elang menyambut tangan tersebut, mereka berjabat tangan lama. Lalu elang tersenyum dan melepaskan tangan Raia. Dia melangkah mundur tersenyum tipis, tubuhnya masih berhadapan dengan Raia, ia menunduk lalu memalingkan pandangannya ragu-ragu menuju mata kecil yang dalam itu. Sebelum akhirnya berbalik arah dan menghilang dari pandangan gadis cantik yang tak rela melihatnya pergi.