Keesokan harinya Raia membeli dua kotak s**u dari warung kantin yang baru saja mau membuka tokonya. Raia sedikit memaksa agar Mang Soleh cepat-cepat membuka warungnya.
"Mang, mau beli s**u dua." Ujar Raia menunjuk kulkas berisi minuman yang masih di gembok.
"Yah, neng Raia belum buka nih warungnya, bentar lagi yak." Jawab Mang Soleh bingung. Lelaki yang sekarang memakai kaos berwarna coklat dan celana Panjang hitam yang sedikit cingkrang itu sedang sibuk beberes barang dagangan miliknya.
"Yah Mang, bentar lagi masuk kelas. Ayolah Mang, s**u doang 2 biji, emergency nih. Nih 20 ribu buat mamang, kalau saya bisa dapetin tuh susu." Raia sudah frustasi, dia sudah berkeliling kantin tapi tidak ada warung yang buka, tidak cukup waktu kalau dia harus keluar lingkungan sekolah. Dan dia ingin sekali memberikan s**u itu pada Elang. Dia memang sangat keras kepala.
Mang Soleh menggaruk-garuk kepalanya bingung "Yaudah tunggu sebentar."
"Yess." Serunya sambal sedikit ingin loncat.
Akhirnya Raia mendapatkan dua kotak s**u, dia segera berlari ke kelas Elang dan kebetulan Elang belum datang. Jadi dia langsung menaruhnya di atas meja dan dengan cepat pergi dari kelas itu.
Braakk
"Aduh." Raia mengusap dahinya kesakitan.
Elang dengan wajah dingin dan serius mengamati gadis yang tingginya hampir mencapai dadanya "Ngapain kamu di kelas saya?"
Raia menengadah keatas dan terkejut ternyata itu Elang, jantungya berdegup kencang "Ehhmm.. saya..." Dia tergagap.
Elang menoleh ke arah mejanya dan melihat ada kotak s**u berdiri disana. Elang menaikkan kedua alisnya dan kembali menatap Raia. Tiba-tiba saja bel masuk berbunyi, membuyarkan keheningan mereka.
"Saya ke kelas dulu." Ujar Raia panik, berlari menuju ruang kelasnya. Elang hanya diam mematung melihat Raia berlari.
Elang mengambil s**u tersebut dan memandangnya lekat-lekat, lalu menaruhnya di kolong meja.
Saatnya istirahat makan siang, Elang dan satu orang temannya Yogi nongkrong di pinggir lapangan setelah menghabiskan satu mangkok mie ayam. Elang mengeluarkan s**u yang diberikan Raia, lalu meminumnya.
"Si Aryo makin jago aja maen basketnya." Ujar Yogi, memandang para pemain basket yang sedang latihan. "Besok kita tanding sama tim dia, jangan ampe kalah lo."
Elang tertawa kecil "Gue main basket bukan untuk menang, tapi karena gue suka."
"Ya ya, gue tahu. Gue udah denger itu ribuan kali dari lo. Tapi anehnya kenapa lo selalu menang."
Elang menaikkan bahunya, "Nggak tahu, mungkin karena gue beruntung."
"Hahahha, kalau itu gue nggak akan meragukannya. Lo terlahir dengan sendok emas di mulut lo, penerus Aksara Fashion. Satu-satunya keturunan laki-laki keluarga Aksara. Putra mahkota."
Elang menoleh pada temannya sekarang, "Tapi gue yakin, lo nggak akan mau punya hidup seperti gue."
"No, gue nggak mau terkekang dengan tekanan dan kewajiban yang mengharuskan gue meneruskan usaha orang tua. Gue mau hidup bebas seperti burung, dan ngeliat lo yang tiap hari belajar keras mati-matian. Gue lebih baik mundur, hahahha."
Elang menggelengkan kepala mendengar perkataan temannya itu.
***
Ruang dapur penuh kesibukan sore itu, para pelayan sedang menyiapkan makan malam untuk keluarga Purnomo. Suara pisau memotong sayur dan buah bising terdengar, bau harum dari rebusan kaldu ayam menyeruak ke seluruh ruangan. Datang salah satu pelayan mengambil sendok lalu mencelupkanyan ke kuah kaldu, di teteskannya air kaldu itu ke tangannya lalu menyicipinya.
Pintu dapur terbuka dan Bu Fira, datang dengan anggun memakai pakaian berwarna biru muda dengan aksen hitam, celana panjang berwarna coklat lembut yang sangat mencerminkan kepribadiannya. Anting emas putih dengan mata satu, dan kalung liontin biru kecil berbentuk tetesan air menambah kesan mewah pada dirinya.
"Sudah siap?" Ucapnya pada salah satu pelayan.
"Siap nyonya, ini buah dan tehnya."
"Makasih ya."
Bu Fira membawa sendiri buah dan teh sebagai kupadan sebelum Raia dan suaminya, Agung pulang. Tak lama suara Raia terdengar dari luar.
"Bapak lain kali hati-hati dong bawa mobilnya, kalau saya kenapa-napa gimana hah? Mau tanggung jawab?" Teriakan Raia terdengar sampai dalam.
"Maaf non." Seru Pak Supir menundukkan wajahnya.
Rahangya mengeras, matanya tajam menatap supir tersebut.
"Nih." Ucap Raia memberikan tasnya pada pelayan yang siap sedia 24 jam di sampingnya. Nada suaranya masih tinggi, napasnya tidak beraturan tapi dia berusaha untuk tenang.
Raia masuk ke dalam rumahnya dan melihat ibunya duduk di ruang tamu, seketika amarahnya hilang. Dia tersenyum melihat ibunya.
"Kenapa sih kamu teriak-teriak?" Ujar sang ibu, tangannya membelai lembut rambut hitam anaknya yang tebal.
"Pak Dadang bawa mobilnya gak bener, hampir saja aku kecelakaan."
Pak dadang menghampiri mereka dan mencoba menjelaskan pada majikannya apa yang terjadi.
"Maaf nya, tadi tiba-tiba motor muncul di depan mobil. Saya kaget jadi saya ngerem mendadak dan dahi Non Raia terbentur kursi mobil."
"Oh gitu, yaudah Pak lain kali hati-hati ya."
"Iya nya , saya permisi."
Kembali Bu Fira menatap anaknya.
"Coba mana dahinya yang sakit?"
Raia menunjuk dahinya dengan wajah manja imutnya.
"Ooohh nggak papa, udah nggak sakit kan?"
"Iya, heheh."
Lalu seketika hening menyeruak diantara mereka, Bu Fira menatap anaknya sambil menghela napas panjang.
"Raia, Pak Dadang kan lebih tua dari kamu. Gak boleh kamu teriak-teriak begitu." ujar ibunya lembut.
"Abis dia maen ngerem mendadak aja."
"Kamu kan tadi dengar, dia nggak sengaja tiba-tiba ada motor. Kamu juga nggak papa kan. Mama nggak suka kamu teriak-teriak begitu, nggak sopan. Dia jauh lebih tua dari kamu."
"Iya ma, tapi kan dia juga salah nggak hati-hati bawanya."
Bu Fira memandang Raia lama dan tajam, dia tetap pada pendiriannya. Dia tidak suka anaknya bersikap seperti itu
"Ok ok, Raia salah."
Ibunya tersenyum "Mereka itu sama seperti kita, hanya kita lebih beruntung dari mereka. Kalau mereka salah biar mama dan papa yang menghukum mereka okay. Dengar pesan mama ya, kamu harus sopan terhadap siapapun, kalau mereka salah biarkan orang yang berhak, menghukum mereka. Suatu saat nanti kamu akan mengerti, dan satu lagi percayalah dengan apa yang kamu lihat bukan yang kamu dengar."
Raia hanya mengangguk menatap ibunya bingung, dia masih terlalu muda untuk mengerti hal-hal seperti itu. Bu Fira mengambil sepotong apel dengan garpu lalu memberikannya pada Raia. Raia tersenyum pada ibunya begitupun sebaliknya.
Bu Fira menatap Raia lama tanpa disadari oleh anaknya itu, anaknya sudah remaja. Waktu begitu cepat berlalu, sepertinya baru kemarin dia mengantar Raia ke sekolah dasar. Sekarang anaknya sudah beranjak remaja. Dia bangga sekaligus khawatir, kepribadian Raia yang masih sangat manja dan kadang seenaknya mengingatkannya pada dirinya sewaktu remaja dulu. Persis seperti Raia. Keras kepala. Bedanya dia tidak pernah mengalami trauma seperti Raia tapi Raia diumur yang masih sangat kecil harus melihat kejadian tragis itu. Itu membuat Bu Fira bertambah khawatir kalau kalau kejadian itu mempengaruhi kehidupannya di masa depan.