Pertandingan basket antara kelas 9A dan 9B sedang berlangsung, tubuh Elang sudah basah oleh keringat. Penonton di lapangan sangat penuh, menambah semangat para pemain dengan teriakan mereka. Raia dan tiga orang temannya termasuk suci sudah berada di bangku paling depan, menatap Elang yang sangat seksi dengan seragam basket dan keringat yang terus mengalir. Skor mereka saat ini sama, dan sekarang Elanglah yang akan menentukan kemenangan timnya. Yogi berlari berusaha mengoper bola basketnya pada Elang. Elang menangkap dengan sangat sempurna, dia berlari menuju ring basket yang tepat ada di depannya, fokus Elang hanya satu, bagaimana membuat bola orange yang ada di tangannya ini masuk ke lubang jaringnya. Aryo berusaha menghalangi Elang dengan tubuhnya yang tinggi besar melebihi Elang, tapi Elang tidak hilang akal. Dia lebih gesit dari Aryo, Elang memutar tubuhnya melewati tubuh Aryo lalu berlari sekuat tenaga menuju ring tersebut. Elang melempar bola itu tanpa ragu-ragu dan prriiitt. Bola itu masuk tepat di saat waktu pertandingan akan berakhir. Lagi-lagi keberuntungan selalu menyertai Elang, timnya menang. Elang di gendong oleh rekan satu timnya merayakan kemenangan besar yang ia raih. Suara gemuruh memenuhi ruangan lapangan basket, merayakan siapapun yang menang dalam pertandingan itu. Raia loncat-loncat kegirangan menyaksikan orang yang ia suka menjadi sorotan. "Yeah..Yeah." Teriak Raia antusias, dia kegirangan melihat Elang menang.
Sepulang sekolah, Elang malu-malu menunggu Raia di depan kelasnya. Dia ingin meyombongkan diri sehabis menang tadi, dia tau Raia menontonnya tapi dia malu. Raia wanita pertama yang berhasil menembus pertahanannya, memasuki jiwanya yang hampa. Kepribadian Raia yang spontan, ceria namun hangat dan lembut berbanding terbalik dengannya.
"Elang?" Ucap Raia kaget melihat Elang gelisah tidak bisa diam di depan kelasnya.
"Hai" Ujarnya datar sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal
Suci pamit pulang duluan saat melihat Elang disana, dia tidak mau mengganggu temannya melakukan pendekatan.
"Hai, kamu nungguin saya?" Tanya Raia ragu-ragu.
Elang tersenyum tipis, senyumnya sangat manis hingga membuat Raia meleleh "Pu...lang bar...eng yuk." Serunya terbata-bata.
"Boleh." Jawabnya lembut, dia tidak menyangka Elang akan mengajaknya pulang bersama. Dia begitu senang, rasanya jantungnya ingin loncat dari dadanya sangking senangnya. Tapi dia tidak mau menunjukkan perasaannya berlebihan. Dia mencoba tetap tenang.
Raia dan Elang jalan diikuti oleh mobil Raia dari belakang, Pak Dadang dipesankan untuk terus mengikuti Raia kemanapun. Sedangkan pengawal Elang mengumpat diam-diam mengikutinya.
Mereka berhenti di restaurant Pizza, memesan satu Loyang pizaa dan dua orange juice. Pak Dadang dan dua pengawal Elang terus mengamati mereka dari jauh.
Pelayan pun datang menaruh pesanan mereka di atas meja, tidak lupa pisau dan garpu di letakkan di sebelah mereka. Raia lupa ada pisau di Restaurant Pizza, tangannya mulai gemetar melihat pisau tremornya kambuh. Ia memalingkan wajahnya menghindari tatapan ujung pisau yang seperti ingin menusuknya. Elang mengambil sepotong pizza lalu mulai membelahnya kecil-kecil.
"Kamu nggak makan?" Ucap Elang yang mengamati Raia tidak bergerak dari tadi.
"Ini makan kok." Dia langsung mengambil pizza dengan tangannya lalu menggigit pizza itu dengan cepat sampai wajahnye belepotan oleh saus pizza.
"Orang seperti kamu makannya bar-bar juga ya." Ucap Elang tersenyum.
"heheh." Tawa Raia kecil sambil mengelap bekas sausnya.
"Mba ini maaf pisaunya bawa aja." Seru Raia yang sudah tidak tahan melihat pisau di sampingnya, tubuhnya mulai mengeluarkan keringat dingin.
Elang melihat hal tersebut, dia sepertinya mengerti sedikit demi sedikit. Lalu ia menyerahkan pizza yang sudah di potong kecil pada Raia.
"Nih kamu makan," Ucapnya.
"Mba, pisau saya juga ambil saja. Saya pake tangan saja." Serunya pada pelayan tersebut. Raia seketika menatap Elang aneh, tangannya masih gemetar ketakutan. Elang seperti tahu sesuatu tentangnya. Elang tersenyum melihat Raia menatapnya dengan tatapan aneh. Dia memang memiliki insting yang kuat dan perasaan yang sensitif walau terlihat dingin dari luar, tapi dia tahu apa yang terjadi dengan sekelilingnya.
"Baik." Jawab pelayan itu.
Raia mulai tenang, dia memakan habis pizza yang sudah di potong oleh Elang. Begitupun juga dengan Elang, dia mengambil pizza dengan tangan dan melahapnya. Hari ini hari jum'at jadi besok mereka libur.
"Haaah." Raia mengelus perutnya kekenyangan. Elang melirik jam di tangannya takut mereka kemalaman.
"Jam itu, dari siapa?" Serunya masih penasaran.
"Kamu masih penasaran sama jam ini?"
"Iya jam yang membuat kamu sampai ngejar-ngejar saya."
"Ini jam dari ibu saya, peninggalan dia satu-satunya."
"Oh, pantesan." Ucap Raia sembari meminum jus jeruknya, dia tidak mau bertanya lebih jauh lagi.
"Oh ya, luka kamu sudah sembuh?"
"Sudah kok, udah gak sakit."
Raia menghela napas lega.
Setelah makan, mereka pulang ke rumahnya masing-masing.
"Den itu temennya?" Tanya sanga pengawal pada Elang.
"Iya." Jawab Elang.
"Cantik Den, tadi saya juga ngeliat dia diikuti sama supirnya. Wah sama-sama anak gedongan. Cocok den."
Mendengar hal tersebut, Elang hanya tersenyum miring. Benarkah dia cocok dengan Raia? Dia tersenyum sendiri memikirkan hal tersebut.
Di atas tempat tidur, Elang memandangi handphonenya, bertarung dengan dirinya sendiri untuk mengirim pesan atau tidak. Dia berguling kesana kemari, lalu bangun duduk di atas kasurnya.
"Lagi apa?" Adalah pesan yang akan dia kirim pada Raia, tangannya terasa berat untuk menyentuh tombol kirim. Dia malu. Ibu jarinya perlahan-lahan menyentuh tombol itu dan Elang langsung melempar handphonenya ke samping dan menutupi wajah dengan kedua tangannya. Dia sangat malu, bertukar pesan membuat hatinya berdebar-debar
Lalu setelah beberapa saat, handphonenya berbunyi. Elang buru-buru mengambilnya dan melihat pesan siapa yang masuk. Ternyata Raia membalas pesannya, Elang tersenyum. Senyum Bahagia. Sepanjang malam mereka saling bertukar pesan. Sampai dia lupa tidur.
Raia yang juga berada di kamarnya tersenyum sumringah menerima dan membalas pesan Elang. Ini sudah jam satu pagi tapi matanya sama sekali tidak mengantuk. Dia menunggu balasan dari Elang. Ponselnya terus ia genggam, membaca bukupun ia tidak fokus. Apakah ini yang namanya jatuh cinta? Membuat orang tidak bisa tidur bahkan makan.
Walau saat itu handphone harganya sangat mahal dan masih jarang orang memakainya, Elang dan Raia sudah memilikinya. Status dan keadaan mereka mengharuskan mereka bisa dihubungi kapan saja. Terutama oleh kedua orang tua mereka. Karena sibuk dan sering dinas ke luar kota bahkan luar negeri membuat orang tua mereka sulit untuk menghubungi anak-anaknya. Walau kadang merasa kesepian tapi mempunyai teman di sekolah cukup menghibur mereka. Dan itu membuat mereka menjadi anak yang tidak manja dan kuat. Toh semua orang harus berdiri di kakinya sendiri suatu saat.