Ujian Akhir Nasional sedang berlangsung, selama tiga hari mereka di tuntut untuk melakukan yang terbaik. Sekolah- sekolah menengah atas terbaik hanya akan menerima anak-anak dengan nilai terbaik pula. Dan SMA adalah jalur utama untuk bisa masuk universitas terbaik. Raia dan Elang melakukan yang terbaik yang mereka bisa, mereka tahu orang tua mereka sangat mengharapkan mereka untuk bisa unggul sebagai penerus keluarga dan perusahaan. Untungnya hari ini adalah hari terakhir.
"Raia" Teriak Bu Fira melambaikan tangan. Dia menunggu anaknya di depan gerbang sekolah, sejak hari pertama UAN Bu Fira selalu mengantar dan menjemput Raia. Memastikan dia siap dan baik-baik saja.
Raia yang sedang berbincang dengan teman-temannya termasuk Elang, langsung memisahkan diri dan mendekati sang Ibu. Dia melambaikan tangan pada Suci, Yogi dan terutama Elang, mereka bertatapan lama dan saling memberikan senyuman sebelum Raia masuk ke dalam mobil bersama ibunya.
****
Elang turun dari mobilnya di sambut oleh beberapa pelayan, rumahnya sangat mewah dan besar. Pintunya menjulang tinggi sampai harus mendengak saat melihat atapnya, dia menyerahkan tas dan topi merahnya pada salah satu pelayan. Dia perlahan melangkah masuk ke dalam, banyak tembikar-tembikar terpajang di sisi ruangan, guci dan ukiran patung-patung kecil terpasang di atas kayu coklat di sepanjang lorong. Terus melangkah menuju meja makan, Elang duduk di kursi tengah meja makan yang megah itu, meja hitam dengan kaca di tengah dan lilin dengan alasnya yang berwarna emas. Para pelayan menyuguhkan makanan dan minuman yang baru di masak, masih hangat. Ayah Elang, Ibu tirinya dan Ratu sudah lebih dulu berada disana.
"Ujian kamu selesai hari ini kan?" Seru Bu Irma, ibu tiri Elang.
"Iya." Ucapnya datar, ayahnya mengamati Elang dengan tajam.
"How is it?" Tambah sang ibu.
"Biasa aja."
"Gak ada yang sulit?" Tanya Bu Irma lagi.
"Biasa aja."
"Hmm pengawasnya baik kan?" Bertahun-tahun Irma mencoba mendekati Elang tapi selalu ditolak. Elang masih belum bisa menerima kehadirannya.
"Ya, gitu deh." Jawaban singkat Elang ternyata mengganggu ayahnya.
"Elang, kamu kalau ditanya bisa nggak jawabnya jangan biasa aja , gitu deh terus. Kamu kan sebentar lagi SMA sudah besar. Kamu akan jadi penerus perusahaan ayah, kamu harus bisa memberi penjelasan lebih, jangan klemar-klemer kayak gitu. Kamu bukan laki-laki seperti kebanyakan orang Elang. Ngerti!!" Suara Pak Harto sedikit meninggi, dia sudah memperhatikan anaknya dari beberapa bulan lalu dan belum juga ada perubahan, jadi dia harus berkata tegas.
"Sudah lah Mas." Seru lembut Bu Irma
"Biarkan, biar dia tahu. Dia tidak bisa bersikap acuh seperti itu terus." Ucapnya pada sang istri.
Lalu dia menolah menatap elang "Kamu mengerti?"
"Iya yah, ngerti." Ujar Elang menatap ayahnya serius.
****
Sebulan setelah ujian nasional, hasil pun diumumkan bahwa mereka semua lulus. Elang dan Raia mendapat nilai tertinggi, nomer satu Elang dan nomer dua Raia. Semua orang bersorak sorai menandai kelulusan mereka, Elang, Raia, Suci dan Yogi pergi ke tempat Karaoke dan menghabiskan waktu di sana.
Yogi menyanyikan lagu melompat lebih tinggi Sheila On 7 dengan sangat apik, bergantian dengan Suci yang menyanyikan lagu sang dewi dari Titi Dj yang sedikit berantakan dan tersengal-sengal kehabisan napas. Lalu Elang dengan lagu Base Jam bukan pujangga, suara Elang lumayan, tidak terlalu bagus tapi tidak buruk juga. Terakhir Raia menyanyikan lagu Shanti oh kasih, yang seketika membuat semua orang berdiri dan ikut menari. Power Raia saat bernyanyi luar biasa, dia kuat menari sambil bernyanyi full satu lagu dan dia tidak terlihat kehabisan napas. Hebat.
Setelah puas dan lelah bernyanyi mereka nongkrok di Mc Donald, bercerita tentang cita-cita dan masa depan mereka. Dari hal yang penting, sampai pepesan kosong.
"Lang, lo mau masuk SMA mana?" Tanya yogi.
"Nggak tahu." Ucapnya pendek.
"Yah, paling-paling ayah lo yang nentuin." Ujar Yogi lalu meminum cola dinginnya, Raia dan Suci tersenyum mengamati mereka sambil mengunyah kentang yang sudah tidak hangat lagi. Sudah lembek.
"Emang lo mau masuk mana Gi?" Tanya Suci.
"Gue mah masuk mana aja okay, yang penting gue bisa jadi Reporter atau Jurnalis. Tahu lebih dulu semua berita dari orang lain. Keren kan, bisa pergi kemanapun. Berkeliling."
Suci mengangguk mengerutkkan dahi, bibirnya mengeluarkan senyum tipis.
"Kalau Raia mau masuk mana?" Kembali Yogi melontarkan pertanyaan, dia mengagumi kecantikan dan keanggunan Raia. Sedangkan Elang terlihat tak peduli, dia terus mengaduk colanya.
"Nggak tahu, mungkin sama kayak Elang." Seketika Elang berhenti mengaduk minumannya dan menatap Raia dalam, "Apa yang dimaksud dengan sama?" Tutur Elang dalam hati, dia saja belum tahu akan masuk SMA mana. Raia pun menatap Elang dalam, sampai akhirnya kembali pertanyaan Yogi membuyarkan tatapan mereka.
"Maksud kamu orang tua kamu yang menentukan?" Tanya Yogi.
"Bukan, tapi aku akan masuk SMA yang sama sepeti Elang."
"Uhuk...uhuk." Seketika Elang terbatuk, seperti ada batu besar yang masuk ke dalam tenggorokannya.
Mata Yogi terbuka lebar, dia mengerti apa yang terjadi disini. Dia menatap Raia dan Elang bergantian lalu terseyum tak percaya.
"Kalau gue mau masuk SMA 1 budi utomo, alumni mereka keren-keren. Siapa tau kan gue juga bisa sukses kayak mereka" Seru Suci semangat.
"Kayaknya nggak ada yang nanyain lo deh." Ledek Yogi.
"Sialan, awas lo ya, belom pernah ke tampar sepatu kan lo?"
"Ihh, preman banget sih lo,." Jawab Yogi sedikit gentar.
Raia tertawa melihat tingkah temannya, Elang yang sedari tadi tidak pernah melepas pandangannya pada Raia juga ikut tertawa. Akhirnya mereka tertawa bersama-sama, masa remaja yang indah.
Terakhir Suci mengajak mereka ke Rumahnya, Rumah Suci memang sederhana tapi dia tidak kekurangan apapun dan keluarganya sangat hangat. Elang, Raia, dan Yogi di suguhkan bolu pandan, sebagai cemilan. Sedangkan untuk makan berat ada nasi dan rendang, Ibu Suci memang selalu masak dan masakannya selalu enak. Tapi sepertinya mereka masih kenyang dan hanya memakan bolu saja, malam itu acara tv sangat bagus, kali ini sinetron Bunda yang di perankan Dinna olivia dan Meriam Bellina sedang ditayangkan ulang.
Ibu dan bapak Suci sudah siap di depan tv, maklum ini acara favorit mereka. Cerita sinetron ini memang sedih, tentang seorang anak yang selama bertahun-tahun tinggal di panti asuhan lalu mengetahui bahwa ibunya masih hidup dan ternyata adalah seorang p*****r. Akting Dinna Olivia dan Meriam Belina sangat memukau sampai membuat Ibu Suci menangis, dan Ayahnya tidak berkedip sepanjang penyiaran
Yogi dan Elang heran melihatnya, mereka tahu sinteron itu memang bagus. Tapi di usia mereka sekarang jujur, mereka tidak mengerti jalan cerita sinetron tersebut. Raia dan Suci ikut menangis menontonnya, benar-benar sedih. Tidak lama kemudian mereka pamit pulang, ini sudah sangat malam. Pasti mereka sudah di cariin oleh orang tuanya, ya kecuali Elang. Orang tuanya terlalu sibuk, mungkin juga belum pulang ke rumah.
Yogi sudah pulang duluan di jemput bapaknya, sekarang tinggal Elang dan Raia berdua menunggu jemputan mereka di depan Rumah Suci.
Mereka berdua berdiri berdampingan, "Nih buat kamu." Ucap Elang dengan gugup memberikan gantungan boneka kelinci kecil berwarna biru muda. Ini pertama kalinya dia membelikan sesuatu untuk seorang wanita.
Raia tersenyum mengerutkan dahinya "Kapan kamu beli ini?" Tanyanya heran, setahu dia Elang tidak membeli sesuatu tadi.
"Tadi setelah makan di Mc Donald saya lihat ada tukang mainan perempuan, terus ngeliat ini."
"Makasih ya." Ujar Raia lembut.
Elang hanya tersenyum memandang gadis perempuan cantik yang ada di sampingnya, rambut panjang lurus dan mata kecilnya membuat hati Elang bergetar. Ada sesuatu dengan gadis itu. Lalu sinar mobil tajam memasuki matanya menandakan bahwa kini waktunya mereka harus berpisah, doa Elang hanya satu, semoga ini tidak lama.
Wajah Raia memerah, ia tersipu malu. Hatinya berdegup sangat kencang, gantungan boneka ini akan menjadi barang yang sangat berharga untuknya. Apakah ini berarti Elang juga punya perasaan yang sama dengannya, perasaan yang selama ini hanya dia yang merasakan. Jika memang ia berhasil meluluhkan hati Elang. Hanya satu doanya, semoga mereka bisa dipertemukan kembali.