Goodbye For Now

1250 Kata
Pak Adiguna dan Bu Fira sudah siap untuk pergi, mereka akan melakukan perjalanan dinas ke Amerika selama satu minggu. "Sayang mama pergi dulu ya." Ucap Bu Fira mencium kening anaknya. "Jangan nakal, dengerin kata om Djaya Okay. I'll miss you sweetheart" Pak Adi memeluk Raia Erat. "I'll miss you too dad." Djaya tersenyum melihat keharmonisan keluarga kakaknya, "Ayo sudah mepet waktunya." ucapnya melihat ke arah jarum jam. Pak Adi dan istrinya bergegas menuju mobil yang sudah disiapkan. Mereka melambaikan tangan dari dalam mobil pada Raia, Raia pun balas melambaikan tangan. Om Djaya mengamati mereka lalu mengeluarkan senyum terpaksanya. Dia merasa kakak dan kakak iparnya terlalu berlebihan memanjakan Raia. Bukannya tidak baik, tapi anak yang manja akan kehilangan daya juangnya. Apalagi Raia akan menjadi pemilik perusahaan, dia harus kuat. Terlebih kejadian 5 tahun lalu telah membuat Raia lemah, sampai sekarang dia tidak bisa dekat-dekat dengan pisau. Djaya merasa Raia akan sulit untuk bertahan, tapi rencananya tidak boleh gagal. Rencana pembalasan dendam atas kematian kekasihnya, dan Raia akan dia jadikan alat yang cocok. **** Elang, Raia, Suci dan Yogi sepakat untuk mendaftar di SMA yang sama yaitu SMA 1 Budi Utomo. Ayah Elang pun mengijinkannya, karena memang SMA itu merupakan salah satu SMA terbaik dan banyak alumni-alumninya yang sukses. Mereka berempat semakin tak terpisahkan, mereka sangat dekat, kemana-mama selalu bareng. Elang mulai membuka hatinya perlahan-lahan untuk Raia. Hubungan mereka pun semakin intens, kalau tidak bertemu mereka akan menelpon satu sama lain tidak pernah putus. Sampai suatu hari Elang memberanikan dirinya untuk meminta Raia menjadi kekasihnya. Pagi itu Elang menelpon rumah Raia dan mengajaknya untuk bertemu sore hari, Raia tanpa berpikir lagi mengatakan "ya". Elang sudah siap dengan bunga dan coklat untuk menembak Raia, dia sangat bahagia. Di sisi lain Raia sedang memilih pakaian terbaik untuk kencannya, dia juga mengambil bedak dan lipstick dari kamar ibunya, semua sudah siap dan dia sudah berdandan sangat cantik, bibir merah muda mengkilap, harum parfum mengisi seluruh ruang kamar. Lalu seseorang mengetuk pintu kamarnya, pelayan itu membuka pintu tersebut dan melangkah mendekati Raia gemetar. Raia mengamatinya lekat-lekat, mata pelayan itu melihatnya iba, bibirnya gemetar tak percaya. "Non," Ucapnya gemetar. "Kenapa bi?" "Tuan dan nyonya." Pelayan itu menunduk lalu memberitahukan Raia semuanya. Pesawat yang di tumpangi orang tuanya jatuh kecelakaan dan terbakar dalam perjalanan ke Amerika, semua orang yang ada di pesawat tersebut di nyatakan tewas, termasuk orang tuanya. Napas Raia mulai tak beraturan, matanya menatap pelayan itu tak percaya, bola matanya berputar ke berbagai arah mencoba memahami. Lalu semua peralatan make up yang ada di tangannya jatuh berantakan. Prannkk Di tempat lain, Elang telah menunggu Raia di tempat mereka bertemu hampir tiga jam. Dia mencoba menghubungi Raia tapi tidak diangkat, coklatnya hampir meleleh dan bunganya mulai rusak. Dia tidak mengerti kenapa Raia tidak muncul juga, apakah dia menolaknya secara halus. Mungkin dia akan menunggunya sebentar lagi. Terus menunggu sampai di perhatikan orang banyak, Elang akhirnya pulang setelah 5 jam duduk di bangku taman dekat sekolahnya. **** Djaya langsung menuju kediaman Raia dan mengurus semua keperluan, mulai dari pengambilan jenazah, penguburan, harta gono-gini dan hak asuh atas Raia. Kakek dan nenek Raia sudah meninggal dan kebanyakan keluarganya tinggal di luar negeri jadi hanya ada Om Djaya disini. Raia benar-benar kehilangan arah, dia mengurung diri di kamar berhari-hari. Saat Elang tahu, dia mencoba untuk datang ke rumah Raia tapi saat itu keadaan sangat ramai. Raia pun di informasikan tidak mau menemui siapapun. Elang kembali ke rumahnya dengan lunglai. Raia manatap kosong ke arah jendela mengeluarkan air mata, ini sudah hampir seminggu tapi Raia tidak ada perubahan. Kematian kedua orang tuanya menjadi hal yang paling ia takutkan. Om Djaya lalu datang ke kamarnya. "Raia, kamu lagi apa?" Buru-buru Raia menghapus air matanya "lagi biasa, om. Baca buku." Ujarnya berbohong, buku itu bahkan tidak dia sentuh, tergeletak di depannya. Djaya mengangguk " Ini sudah seminggu, kamu nggak boleh gini terus. Temen-temen kamu nyariin tuh." "Raia nggak ada semangat sekolah Om." "Orang tua kamu pasti sedih kalau melihat kamu begini. Hah?Oh ya tadi teman kamu kesini ngasih Om ini. Kamu lulus masuk SMA 1, selamat ya." Matanya langsung terbuka lebar, ada sedikit semangat di dirinya. Dia mengambil dan membuka amplop tersebut. Tapi wajah kedua orang tuanya masih sangat ia ingat. "Raia nggak mau sekolah." Ucapnya lirih, pikirannya masih kalut. Dia sedih. "Hei, kamu tahu. Papah kamu pernah ngomong sama om kalau dia mau kamu meneruskan sekolah di Luar Negeri. Dia ingin kamu memiliki pendidikan setinggi-tingginya, masa kamu mau mengecewakan Papah kamu," Djaya mengamati Raia "Om punya ide, gimana kalau kamu nerusin sekolah di London. Terserah kamu mau tinggal di sana berapa lama, jalani hidup baru kamu, siapa tahu disana kamu bisa melupakan kesedihanmu, kalau di sini pasti kamu terbayang mereka terus." Raia hanya diam tanpa merespon, dia sedang berpikir mungkin kalau dia keluar dari Indonesia dia akan melupakan semuanya termasuk kesedihannya. Djaya lalu meninggalkan Raia sendiri, dia tahu pasti Raia sedang mengumpulkan pikirannya, dia sangat berharap Raia bisa meneruskan sekolahnya di luar negeri. Setelah berpikir dengan matang, Raia akhirnya bulat pada keputusannya untuk sekolah di London, pikirannya lalu beralih pada Elang. Dia belum menemui Elang sama sekali semenjak kematian kedua orangtuanya dan sekarang dia ingin pergi ke London. Akan sangat tidak adil bagi Elang kalau dia pergi tanpa memberitahunya. Malam itu mereka berjanji untuk bertemu di taman tempat kemarin Elang menunggu kedatangannya. Elang sangat senang Raia ingin menemuinya, dia pergi ke supermarket untuk membeli coklat dan bunga. Elang duduk di kursi yang ada di sisi taman, taman itu tidak terlalu ramai, rumput dan lampu taman tertata dengan rapih. Ia melihat Raia muncul dari kejauhan, wajah Elang langsung berubah tersenyum kagum melihat kecantikannya. Bunga dan coklat ia sembunyikan di balik tubuh rampingnya. Perlahan wajah Raia semakin jelas mendekat pada dirinya. "Hai," Ujar Elang. "hai." Balas Raia tersenyum tak nyaman. "Kamu baik-baik saja?" "Ya." Ucap Raia sembari mengangguk "Elang, saya pengen ngasih tau kamu sesuatu." Ucapnya ragu-ragu "Saya juga pengen ngasih kamu sesuatu, tapi kamu duluan." Raia meremas jarinya ragu-ragu, dia tidak tega menyampaikannya pada Elang. Melihat wajah Elang yang sangat semangat membuat Raia merasa bersalah, tapi ini yang harus dia lakukan demi dirinya. Demi kewarasannya. Dia merasa tidak akan mampu jika terus berada di Indonesia dengan kenangan-kenangan kedua orang tuanya. "Saya mau pindah ke luar negeri, ingin meneruskan sekolah di sana." Seketika tubuh elang membeku, dia tidak mampu berkata apa-apa. Matanya tajam menatap dan mengamati mata Raia yang sangat serius. "Tapi Rai..." Elang menggeleng tak percaya. "Maafin saya Lang, saya nggak akan sanggup kalau terus berada di sini. Saya ingin mengurangi kesedihan saya dengan pindah ke luar negeri." "Rai... saya ada disini, temen-temen kamu ada disini. Suci, Yogi dan keluarga kamu." Raia terseyum tipis "Saya tahu, tapi keputusan saya sudah bulat. Suci dan Yogi akan selalu menjadi sahabat baik saya. Dan kamu, akan selalu menjadi orang yang saya kagumi. Kita masih bisa berhubungan kan. Saya akan selalu menghubungi kamu." Raia terdiam sebentar "Bye elang." Ucapan terakhir Raia pada Elang, lalu dia mendekati Elang dan mengecup pipi kanannya, tangan Raia mengusap pipi Elang lembut. Elang hanya bisa menutup mata dan menikmati semua itu, sebelum Raia pergi menjauh meninggalkannya. Semakin lama Raia bersama Elang akan semakin sulit baginya untuk pergi. Pikiran Elang kosong, dia hanya menatap pundak Raia menjauh dari belakang. Lalu ia teringat ingin memberinya coklat dan bunga yang akhirnya gagal. Dia membuang coklat dan bunga itu ke tong sampah. Lalu pergi. Kali ini juga ia tidak berhasil memiliki cintanya. Dia tidak bisa egois dengan menghalangi Raia untuk pergi, memang siapa dia. Dan kalau memang dia ingin menghapus kesedihannya, mungkin lebih baik seperti ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN