Welcome Back

1104 Kata
Sebulan setelah mengurus keperluannya di London Raia bergegas meninggalkan Indonesia diantar oleh pamannya dan Suci. Dia yakin di London dia bisa lebih hidup dan mempunyai semangat lagi. Menjadi dirinya yang baru. Suci memeluknya erat tak tega ditinggal oleh teman sebangkunya itu. Lalu Om Djaya juga memeluknya. Raia berjalan menuju pintu masuk bandara, entah kenapa kakinya sangat berat. Dia menoleh ke belakang tapi dia tidak melihat orang itu. Orang yang ia harapkan hadir, walau ia tidak berharap banyak tapi di dalam lubuk hatinya dia ingin orang itu ada. Om Djaya mengamati Raia lama, matanya menyipit sinis melihat keponakannya pergi. Sayangnya Elang masih berada di jalan setelah mengikuti ayahnya dinas keluar kota. Pak Harto sengaja membawa Elang untuk mengenalkannya pada rekan-rekan kerjanya. Dia gelisah, mata Elang tidak lepas dari jam yang berada ditangannya, dia tau keberangkatan Raia sebentar lagi dan sekarang dia masih di jalan berkutat dengan kemacetan. Membuka kaca mobil untuk melihat keadaan sekitar, Elang sadar dia tidak mungkin sampai jika hanya duduk menunggu macet terurai. Dia mengumpulkan keberaniannya lalu keluar dari mobil dan berlari menuju Bandara. "Elang," Teriak Pak Harto yang terkejut melihat anaknya tiba-tiba membuka pintu mobil dan berlari keluar. Sekuat tenaga Elang berlari sampai ke tempat ia bisa menemukan taksi dan melaju langsung ke bandara. Tapi sayang, usahanya sia-sia. Sampai di Bandara dia sudah tidak menemukan siapa-siapa. Om Djaya dan Suci sudah pulang, apalagi Raia pasti sudah di dalam pesawat. Melangkah lemas, Elang duduk di bangku Bandara dengan meminum sebotol teh kemasan, dia sangat haus setelah berlari sangat panjang. Pikirannya kacau. **** Lima belas tahun sudah berlalu, Raia tumbuh menjadi gadis cantik dan pintar, walaupun dia dari dulu sudah cantik. Tapi semakin besar, keanggunan semakin terlihat dari dirinya, sangat mirip dengan ibunya, dan kepintarannya menurun dari sang papah. Raia orang yang sensitif dan cepat tanggap, dia sadar betul apa yang sedang terjadi di sekelilingnya. Work hard and play hard adalah moto hidupnya, dia tidak bisa hanya work hard, dunia ini butuh keseimbangan. Begitulah menurutnya. Hari itu dia sedang berada di pantai dengan teman-temannya, menghabiskan pina colada kesukaannya dan berpesta seharian. Raia sangat suka pesta, apalagi minggu ini hari libur jadi dia bebas melakukan hal kesukaannya. Tiba-tiba suara dering handphonenya berbunyi, nama Om Djaya berada di dalam layar. "Hallo om, whats up?" ucap Raia mengangkat telponnya. "Hallo Raia, where are you? Suaranya berisik sekali." "Saya lagi di café om, itu suara musik." "Raia, do you think I will believe you. Om ini sudah kenal kamu lama." "Oh, come on." Jawab Raia sedikit kesal. "Tagihan credit card kamu sudah numpuk. Berhentilah berpesta." "Ya ya ya." Ucap Raia memutar bola matanya. "Sudah waktunya kamu kembali ke Indonesia. Minggu depan kamu sudah harus ada disini." "What?? Om" Serunya dalam. "Biar frans yang urus kantor kita di sana." "You can't do that to me." Nada suaranya sekarang sedikit keras. "Yes, I can. I am your uncle and I need you." Raia berhenti bicara, dia menghela napasnya dalam lalu menutup telponnya. *** Elang menjadi Direktur Utama di perusahaan ayahnya, AKSARA. Semenjak lulus kuliah dan bekerja 4 tahun lalu Elang sudah menghasilkan banyak keuntungan untuk perusahaan. Analisanya yang tajam terhadap pemasaran dan tren yang ada membuatnya dengan cepat naik menjadi Direktur Utama. Siang ini dia sedang mempresentasikan design baru untuk koleksi musim panas dan rencana perusahaan 5 tahun ke depan. Semua orang puas dengan penuturan Elang yang detail dan analisanya yang jarang meleset. Tante Lusi, yaitu tante Elang juga tidak mau kalah. Dia tersenyum puas melihat penuturan luar biasa keponakannya itu. Dia bisa jadi anggota DPR atau MPR suatu saat nanti. Lusi merupakan Chairwoman di perusahaan itu, setelah ayah Elang meninggal dialah yang meneruskan perusahaan itu dan sekarang Elang sudah dewasa, sudah waktunya dia terjun lebih dalam di perusahaan ayahnya. "Good job elang." Ucap Tante Lusi cipika cipiki. "Thank you tante."Ujarnya sembari tersenyum, Elang mempersilahkan tantenya duduk. Jarang-jarang tantenya yang super sibuk datang ke ruangannya. "How are you? Udah lama tante gak denger kabar kamu." "Baik kok tante,.. teh?" "Boleh." Anak buah Elang datang mengantarkan dua cangkir teh. "Ada apa tante, tumben datang kesini." "Soal pendirian kantor cabang baru. Alric sudah setuju untuk jadi kepala kantor cabang disana." "Alric? Hhoo tante saya kira dia belum siap untuk dapat jabatan itu." Ujarnya sambil menaruh kembali cangkir teh yang baru ia minum. "Ayolah Lang, jangan terlalu keras pada sepupumu." Elang menggelangkan kepalanya "Bukan begitu tante, Alric terlalu ceroboh. Dia bahkan tidak bisa mendapatkan kesepakatan dengan client kecil. Kalau dia jadi kepala di sana semua akan berantakan." "Itukan dulu Lang, dia sudah lebih baik sekarang. Beri dia kesempatan, ya." "Astaga" ucap Elang dalam hati "Ini akan jadi musibah". Elang tersenyum sedikit kesal memandang tantenya, sudah pasti dia lagi yang akan membereskan semuanya. Anak tantenya itu menyebalkan, tidak bertanggung jawab, sembrono dan semaunya sendiri. "Okay." Jawab Elang terpaksa, awas saja kalau dia buat masalah akan kupatahkan kakinya itu. "Gitu dong, by the way. Tante mau rekrut manajer marketing baru. Pak Galih akan pensiun bulan depan." "Oh ya cepat sekali, okay No problem." "Great, kalo gitu tante mau pulang dulu ya." Elang kembali mencium pipi tantenya lembut. **** Menarik kopernya dengan kasar Raia berjalan cepat menuju mobil jemputannya. "Indonesia ini panas sekali sih." ucapnya sambil melepas kacamata hitamnya. Asisten sekaligus tangan kanannya Sarah mengikutinya dari belakang terburu-buru dia membawa trolli penuh dengan tas majikannya dan tentu saja punya dia juga. Mobil Alphard hitam berhenti di depan mereka, lelaki berpakaian jas hitam keluar dan mempersilahkan mereka masuk. Barang-barang mereka semua di bawakan oleh lelaki tinggi itu. "Mba ada email dari Pak Frans." Ucap Sarah yang duduk di sebelah Raia. "Soal apa? Paling dia kewalahan ngurus tuh kantor. Emang enak." "Mau di balas gak mba? "Gak usah, udah biarin aja." "Baik." Sarah menutup laptopnya kembali. Setelah 40 menit, akhirnya mereka sampai di kediaman orang tuanya dulu. Raia turun langsung menemui Om Djaya. "Halo om, gila ya om. Indonesia makin macet dan panas aja. Lagian om ngapain sih nyuruh saya kemari?" Raia langsung duduk di sofa menyilangkan kedua kakinya. Om Djaya menghela napas menatap Raia. "Sudah waktunya kita menyerang mereka." Raia mengerutkan dahinya, tatapannya serius sekarang "Sekarang om?" dia menyodorkan tubuhnya. "Ya." Mata Raia menatap ke bawah lalu kembali ke pamannya, dia sedikit ragu-ragu "How?" "Om sudah punya rencana, mulai minggu depan kamu akan bekerja di Aksara Fashion sebagai Manajer Marketing baru." Raia mengangguk mengiyakan perkatan Djaya, lalu seorang pelayan memberi minuman. "What is this?" Tanyanya pada sang pelayan. "Itu lemon squash." Jawab Om Djaya "Ah, No wine, no pina colada? Bir?" "Not in this house Raia." Raia seketika memutar bola matanya. "Astaga membosankan sekali." ucapnya meledek "Ok om itu aja kan, kalau tidak ada yang mau di omongin lagi, saya mau ke kamar. Saya capek." "Silahkan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN