Raia kembali ke kamarnya, dia mengamati seisi kamarnya yang masih persis sepeti dulu 15 tahun lalu kamar ini pernah menjadi tempat favoritenya. Dia meletakkan tasnya di atas meja dan duduk di sofa pink lembut itu. Raia merogoh tasnya dan mengeluarkan handphone, lalu mengambil foto selfie dan menguploadnya di i********:. Hashtag #oldbutgold. Ia lalu kembali meletakkan handphonenya, menatap ke arah jendala, matanya mulai berlinang. Kenangan tentang kedua orang tuanya kembali memberinya tamparan kesedihan. Tapi ia tidak boleh berlarut-larut, kejadian itu sudah 15 tahun yang lalu dan sekalipun dia menangis darah, orang tuanya tidak akan kembali.
Raia menarik tas dan handphonenya, lalu mengambil kunci mobil mercedesnya. 15 tahun dia tidak pulang ke Indonesia, rindu juga. Dia ingin belanja di Mall paling mewah dan makan mie ayam kesukaannya. Senayan city adalah Mall kesukaannya, masuk ke sebuah butik Raia dilayani dengan sangat baik bak ratu. Butik tersebut langsung menutup tokonya hanya untuk melayani Raia, ya Raia adalah member vip butik tersebut, pemegang black card lama, dan hampir sebulan sekali dia akan mampir ke butik itu. Mencoba beberapa baju dan sepatu, ternyata hampir semua cocok untuknya dan tentu saja dia beli semuanya.
Selesai belanja dari butik pertama, Raia kembali menyusuri seisi Mall, siapa tau ada barang yang ia suka. Terus berjalan memasuki toko demi toko, tidak ada yang menarik perhatiannya, dia tidak suka barang-barang yang banyak dimiliki orang. Dia suka barang-barang yang unik namun tidak mencolok tapi mewah. Sampailah matanya melihat satu tas berwarna krem yang tidak terlalu banyak motive dan terlihat mewah. Saat tangannya menyetuh tas tersebut ada wanita muda lain yang juga menyentuh tas itu.
Wanita muda itu tersenyum " Maaf, saya yang pegang tas ini lebih dulu."
"Ups, sepertinya saya yang lebih dulu." seru Raia tersenyum sinis pada wanita itu.
Mereka berdua sama-sama memegang tas itu sekarang. Dua wanita itu saling menatap dalam seperti kucing yang siap untuk berperang. Tas itu bergerak mengikuti kekuatan tangan Raia dan wanita muda yang bergatian menarik tas itu kuat-kuat, tidak ada yang mau melepaskannya. Akhirnya Raia kesal dia harus dapatkan tas itu, tas itu ditarik oleh Raia dengan sangat kuat. Wanita muda itu jatuh dan tas tersebut berada di tangan Raia. Raia tersenyum sinis lalu membalikkan badannya meninggalkan si wanita yang sudah marah sekarang. Wanita itu berdiri lalu berusaha mengejar Raia dan mencuri tas itu. Tapi sayang, Raia tanpa sengaja menggerakkan tangannya ke atas membuat wanita itu tidak bisa mengontrol tubuhnya dan tersungkur. Raia seketika berbalik melihat kejadian tersebut dan tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha anda jatuh?" ucap Raia meledek.
"Sialan."
Wanita itu berdiri ingin menyerang, tapi Raia sudah siap, dia mengangkat tas yang ada di tangannya ingin menghantam wanitu itu. Wanita itu langsung ketakutan, tangannya mencoba melindungi wajahnya.
"Saya akan lapor polisi." Ucapan wanita tersebut membuat Raia berhenti, tapi tangannya masih berada di atas wajah wanita itu begitu juga dengan tas krem pilihannya.
Raia akhirnya menurunkan tangannya "Laporkan saja, ini pelanggaran pertama saya dan saya punya banyak uang."
Seketika wanita muda itu diam, "Perempuan gila." dalam hatinya. Akhirnya Raia pergi ke kasir meninggalkan wanita itu. Wanita itu memancungkan bibir dan mengerutkan dahinya menatap Raia kesal.
Selesai berbelanja Raia mampir ke tempat mie ayam pangsit kesukaannya, mie ayam itu sudah berdiri sejak 30 tahun lalu dan rasanya masih tetap sama. Enak. Dia memakannya dengan sangat lahap. Tidak ada perubahan yang mencolok dari negaranya ini, hanya udaranya yang semakin panas.
****
"Pak ini data manajer baru yang akan mulai bekerja senin depan." Tio menyodorkan file tersebut pada Elang
"Rachel Permata?" Tanya Elang sambil membaca isi file tersebut.
"Iya pak, dia baru kembali dari London satu minggu lalu."
Elang menangguk, dia mengamati data itu dengan cermat. Sepertinya dia kenal dengan perempuan yang ada di gambar itu tapi siapa?
"Yaudah kamu boleh keluar." Ucap Elang.
"Baik." Jawab Tio
Elang menyipitkan matanya memandang kertas tersebut, dia merasa ada yang aneh.
Keesokan harinya seperti biasa Elang bermain golf di waktu senggangnya.
"Tak" pukulan keras melemparkan bola golf jauh melambung sampai tak terlihat mendarat dimana.
"Elang?" Ucap suara yang sepertinya pernah ia dengar dan menggangu.
Elang menengok ke belakang melihat siapa yang memanggilnya dan ternyata benar menggangu.
"Alric."Serunya dengan senyum palsu.
"Gak nyangka gue bisa ketemu lo disini." Seru Alric tengil, Elang langsung memutar bola matanya.
"Ngapain lo disini?" Elang memandang Alric curiga, kedua alisnya naik. Matanya memindai sepupunya lekat-lekat.
"Jangan gitu lah, galak banget ama sepupu lo yang keren ini."
"Gak usah basa-basi. Gue tau lo bukan member di sini dan lo gak suka main golf." Elang membuka sarung tangannya golfnya lalu duduk menyilangkan kaki dan menyandarkan kepalanya.
"Hahahah, aduh kakakku ini lucu banget sih."
"Udah cepet mau apa? Gue sibuk."
"Kasih gue project yang di bali ya."
"Lo jangan ngada-ngada, kemaren gue kasih lo project kecil aja lo gagal."
"Please, kali ini gue pasti berhasil. Gue janji. Beneran."
"Gak, gak." Elang berdiri dari kursinya sambil membawa es jeruk yang sudah disiapkan untuknya sejak tadi. Alric tetap kekeh, dia mengejar Elang dari belakang.
"Ayolah, ok kalau lo gak mau kasih gue project itu. Gue akan bilang ke mama kalau lo...."
Mata elang terbuka lebar, dia langsung berbalik badan dan menutup mulut comel Alric.
"Nih anak, yaudah sana ambil project yang di bali. Tapi awas ya, kalau sampai gagal lo gak akan gue kasih project lagi."
"Iya iya sip my bro."
Elang membuka mulut Alric lalu pergi meninggalkannya begitu saja. "Sialan." Gumam Elang sambil berjalan. Dasar Alric, kalau saja waktu itu dia tidak tiba-tiba masuk ke kamarnya lalu melihatnya menangis. Dia tidak perlu dimanfaatkan seperti ini, hufftt harga dirinya terluka.
****
Raia duduk berhadapan dengan pamannya di meja makan kayu jati cantik yang panjang berwarna coklat. Memotong daging steaknya perlahan-lahan, dengan anggun dia melahap daging empuk dengan kualitas terbaik yang di buat oleh chef khusus untuk keluarganya. Dirumah itu hanya ada mereka berdua, sangat sepi.
"Rai, kamu sudah siap?"
"Siap apa om?" Ujarnya malas, sambil melahap daging steaknya.
"Ingat kamu akan masuk ke perusahaan itu sebagai Rachel Permata bukan Raia."
"Rachel? Saya suka nama itu."
"Good, kamu harus fokus sekarang. No more party okay."
"Enough om, I get it."
"Okay okay, I'll stop here."
"Om, saya mau pindah dari rumah ini." Ujar Raia ragu-ragu.
"Kenapa?" Tanya Djaya bingung.
"Bukannya orang-orang akan curiga kalau Rachel tinggal di sini, lagipula saya gak betah terus di sini. Semua barang-barang disini terlalu mengingatkan saya."
Om Djaya mengangguk "Kamu benar juga, yasudah terserah kamu." lalu dia melirik ke tangan Raia yang memegang pisau "Keadaan kamu sepertinya sudah sangat membaik?"
"Yup, thanks to the doctor. Saya sudah sanggup untuk makan dengan pisau. Dan hidup di London, it help me a lot."
"Syukurlah."
"Saya masih minum obat kok Om kalau panik saya sedang kambuh. Dan pisau ini." Raia mengangkat pisaunya "Saya masih suka takut, saya tidak bisa berlama-lama berdekatan dengan benda tajam ini."
"Salad?"
"Of course." Raia mengambil salad dari tangan Om Djaya.