Tidak ada yang berubah dari rumah itu, tempat Anggreni biasa menghabiskan waktu saat pulang sekolah dulu, tempat penuh kenangan. Wanita itu melangkahkan kakinya ke belakang rumah, terdapat semacam gubuk kecil tempat dia dan Gladys bermain, sembari menunggu Emily pulang dari butik mereka. Anggreni menarik nafas dalam-dalam, terasa menyejukkan berada di tempat itu. Dia masih mengingat semuanya. Bayangan dua gadis tengah berbicara santai di pondok tersebut, membuat Anggreni tersenyum. Dia ingin mengembalikan semuanya seperti dulu, meski kini kebebasan mereka mungkin tidak lagi sama, keduanya kini sudah memiliki prioritas masing-masing. “Sayang!” panggil Anggasta membuat wanita itu menoleh. “Tiba-tiba klien minta ketemu. Ehm, kamu gak apa-apa di sini sama Ibu, nanti sore aku jemput atau mau

