bc

True Love ( Gasta dan Greni )

book_age16+
510
IKUTI
1.5K
BACA
goodgirl
sweet
serious
brilliant
city
first love
like
intro-logo
Uraian

“Aku akan mendampingimu sampai saat kau menutup mata. Aku akan memandangmu sempurna meski perlahan tubuhmu semakin rapuh dan tidak berdaya,” tutur Gasta pada wanita cantik berwajah pucat di hadapannya. Wanita yang akan dia nikahi dan jaga di sisa hidup yang dia miliki, Anggreni Faresta, gadis tangguh yang berhasil merebut hati Anggasta Daneswara.

“Aku hanya akan merepotkanmu Angga,” balas gadis dengan selang infus di punggung tangannya pada pria yang menjadi alasan dia bertahan sejauh ini. Anggasta menggeleng, mendekat ke arah Anggreni, mengecup kening gadis yang amat dia cintai.

“Menikahlah denganku Greni, kita hadapi ini bersama-sama,” ucap Anggasta dengan yakin.

chap-preview
Pratinjau gratis
BAB 1. Keputusan
Pria itu mondar-mandir di depan ruang rawat darurat tersebut. Dia tidak tenang menunggu pria berjas putih keluar dari ruangan tersebut. Dia khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada orang yang paling dia sayangi. Wajah pucat dan bibir gadis itu yang memucat membuat Anggasta benar-benar panik. Beberapa waktu yang lalu keduanya tengah makan siang bersama di sebuah restauran saat kekasih yang sudah dua tahun terakhir bersamanya, Anggreni Faresta tiba-tiba mengeluh mual. Anggasta Daneswara biasa di sapa Gasta oleh orang lain, pria itu berpikir makanan yang mereka pesan tidak bersih sehingga meminta pelaayan mengganti dengan yang baru, namun gadis itu masih saja mual dan lebih parahnya lagi gadis itu mulai muntah-muntah sebelum dia pingsan. “Bagaimana keadaan dia Dok?” tanya Gasta, pria itu biisa melihat raut wajah tegang di wajah pria berjas putih itu. “Dia baik-baik saja bukan?” tanyanya lagi, rasa khawati menyusup lebih dalam saat pria berjas putih itu terlihat ragu menyampaikan kabar yang sepertinya bukan kabar baik. “Apa anda keluarganya?” tanya dokter tersebut. “Saya tunangannya Dok,” balas Gasta, pria itu mengangguk, mengajak Anggasta untuk berbicara ke ruangan pribadi miliknya. Anggasta duduk di hadapan pria itu. Alfari, name tag di jas putih yang dia pakai. Pria itu melepas kacamata yang dia pakai, sebelum mengambil semacam hasil laboratorium. “Nona Anggreni beberapa waktu yang lalu datang kemari untuk melakukan tes lab, dan itu hasilnya. Saya pikir anda adalah orang yang paling berhak mengetahuinya terlebih dahulu,” tutur dokter tersebut. Anggasta membuka amplop tersebut. Dia membacanya dengan hati-hati. Jantungnya rasanya berhenti saat itu juga. Gadisnya sakit, sakit parah. “Stadium akhir dok?” tanya pria itu,bibirnya bergetar, sesuatu yang tidak pernah dia sangka sebelumnya. “Yah, gagal ginjal stadium 5 atau stadium akhir. Kondisi terparah dari jenis kerusakan pada organ ginjal,” jelas pria itu. Hening. Anggasta tidak mengerti harus merespon seperti apa, pikirannya kacau. Dia dan Anggreni sudah memutuskan untuk menikah dalam waktu dekat. Anggasta menutup matanya guna menenangkan diri. Dia mencintai Anggreni, dia aakan menerima semua kekurangan gadis itu. “Apa tindakan yang bisa kita ambil?” tanya Anggasta, dia harus bertindak, dia harus memastikan gadis yang amat dia cintai akan baik-baik saja. “Cuci darah atau mencaari pendonor ginjal yang cocok. Opsi pertama harus dilakukan secaara rutin untuk mennjaga agar tidak terjadi komplikasi pada organ lain akibat darah yang tercemar karena ginjal pasien yang tidak lagi berfungsi dengan baik, selain itu paasien juga harus benar-benar menjaga polah hidup baik dari segi pola makan maupun aktivitasnya harus dibatasi,” tutur Alfari, Anggasta mengangguk mengerti. Dia akan menjaga gadis itu. “Bagaimana dengan opsi kedua?’ tanyanya. “Jika kita menemukan pendonor yang cocok, maka kita hanya perlu melakukan transplantasi ginjal, tetapi tidak mudah mendapatkan pendonor yang cocok,” jawabnya. Anggasta keluar dari ruangan tersebut dengan amplop berisi kabar buruk tersebut. Apa mungkin Anggreni bisa menerima apa yang dia alami. Saat Anggasta membuka pintu ruangan Anggreni, gadis itu tengah berbicara dengan kedua orangtuanya. Wajah cantik yang biasanya terlihat ceria itu kini terlihat sangat pucat, bibirnya juga tidak semerah biasanya. “Angga!” panggil gadis itu membuat Anggasta tersadar. “Maaf,” ucap pria itu membuat semua orang memandangnya bingung. Pria paruh baya yang merupakan papa dari Anggreni mulai berpikir yang macam-macam, pria itu sudah akan memberi pukulan pada Angga sebelum suara serak milik Anggreni membuatnya terpaku. “Makin parah ya?” tanya gadis itu. Anggasta menatapnya, netra itu terlihat sendu. Apa mungkin Anggreni sudah mengetahui semuanya. “Greni tau kndisi ginja Greni pasti makin rusak iyakan?’ Anggasta mendekat lalu memeluk gadis itu, mencium keningnya berkali-kali. Dalam pelukan Anggasta Anggreni terisak. Papa Anggreni mengambil haasil lab dari tangan Anggasta, membacanya perlahan. “Stadium lima? Kenapa Anggreni gak pernah bilang sama papa dan mama?’ bibir Faresta bergetar, hatinya hancur mengetahui kondisi putrinya yang sudah sangat parah. “ Maafin Greni Pa, Greni terlalu takut. Maaf hiks,” gadis itu terisak. “Sayang!” panggil Minara, ibunda gadis itu. “Ma, Greni takut,” pecah sudah tangis Minara. Putri tangguhnya sedang ketakutan dan rapuh sekarang. Dia sebaagai ibu merasa tidak berguna, bisa-bisanya dia tidak mengetahui kondisi putrinya yang sudah separah ini. “Kita pasti bisa melalui ini semua. Pasti ada cara. Ingat apa yang selalu mama ucapkan?” Angggreni mengangguk. “Tidak ada masalah yaang datang tanpa solusi,” balas gadis itu. Minara mengangguk, menarik gadis itu ke pelukannya. “Semua akan baik-baik saja,” ucap wanita paruh baya itu berkali-kali. Sementara Anggasta masih terpaku, berbagai hal terputar dalam pikirannya. “Saya akan menikahi Anggreni dalam waktu dekat,” tuturnya tiba-tiba menarik perhatian gadis itu dan kedua orangtuanya. Faresta menatap Anggasta penuh intimidasi. Apa pria itu sudah tidak waras, menikahi seorang gadis yang tidak sempurna, gadis yang mungkin hanya akan menjadi beban sepanjang waktu. “Tidak. Biarkan Greni menjadi tanggungjawab kami sampai dia sembuh,” tolak Faresta. “Saya mencintai Greni sepenuh hati dan saya bersedia bertanggungjawab penuh atas dia. Saya akan mendampingi dia selama menjalani prises pengobatan, kami akan menghadapi ini bersama-sama. Beri saya kesempatan untuk menjaga putri anda tuan Faresta,” ucap Anggasta yakin, pria itu bahkan tidak merasa terintimidasi dengan tatapan Faresta. “Baiklah, semua tergantung pada Anggreni. Kami hanya bisa mendukung sebagai orangtua,” balas Faresta setelah melihat kesungguhan pemuda tersebut. Minara memberi akses padaa Anggasta untuk mendekat pada putri tunggalnya. Gadis itu menatap Anggasta dalam, pria yang amat dia cintai, pria yang membuatnya kuat sampai hari ini. “Aku akan mendampingimu, aku akan menjagamu sampai maut yang memisahkan kita,” ucap Anggasta sungguh-sungguh, pria itu menggenggam tangan mulus yang tidak diinfus. “Aku tidak sempurna Angga. Aku hanya akan merepotkanmu dengan kondisiku yang seperti sekarang. Aku hanya akan menjadi beban dalam hidupmu,” balas Anggreni. Dia sangat ingin menerima Anggasta, namun dia juga tidak bisa menjaadi penghalang untuk kebaahagiaan Anggasta, pria itu berhak menemukan wanita sempurna yang bisa mendampinginya, pria sukses yang namanya kini menyebar ke penjuru dunia. Anggasta Daneswara, pemuda yang sukses di usia mudanya. “Ingat siapa yang ada di belakang aku saat aku jatuh, yang selalu mengatakan kalau aku pasti bisa saat aku sendiri ragu untuk melangkah lagi, itu kau Anggreni, gadis yang sangat aku cintai,” tutur Anggaasta. Yup sudah dua tahun mereka bersama. Dari titik terendah, Anggrenilah yang mendukungnya, yang memberinya semangat saat dia mulai menyerah, sampai akhirnya dia berada di titik tersebut, titik puncak kesuksesannya. Dia sudah berjanji akan menikahi gadis itu dan menempatkannya sebagai wanita yang akan selalu dia banggakan. “Menikahlah denganku Anggreni Faresta, mari hadapi ini bersama-sama,” ucapnya yakin. Suatu keputusan yang sudah dia pikirkkan matang-matang. Dia akan menerima Anggreni apa adanya. Dia akan mendampingi gadis itu sampai kondisinya kembali pulih sama seperti saat Anggreni mendukungnya yang berada di titik terendah. Anggasta seorang anak yatimpiatu yang berusaha untuk sukses dengan usahanya sendiri. Bahkan saat dia masih rendah dan tidak dianggap, Anggreni yang merupakan putri pengusaha sukses tidak ragu menggenggam tangaannya, dan mengakui dia yang bukan siapa-siapa sebagai kekasihnya. Anggasta menarik gadis berwajah pucat itu ke dalam pelukannya, sekarang dia akan bertanggungjawab penuh atas gadis itu. Anggreni Faresta, gadis yang sangat dia cintai.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
236.0K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
1.9K
bc

TERNODA

read
201.4K
bc

Kali kedua

read
221.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.4K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook