Gadis cantik dengan rambut panjang digerai itu menuruni tangga rumahnya dengan langkah ringan. Gadis itu tersenyum melihat kemesraan kedua orangtuanya yang terkadang suka lupa umur. Anggreni selalu bermimpi untuk memiliki keluarga seperti ini, keluarga kecil yang harmonis. Anggreni adalah satu-satunya anugrah yang diberikan Tuhaan untuk keluarga Faresta, keluarga yang terkenal dengan kesuksesannya. Mereka tidak palus, semua yang beredar di berita tetang mereka adalah kebenaran.
Anggreni berharap bisa menjaadi seperti ibunya yang begitu lembut, apa adanya dan selalu bisa mendinginkan keadaan. Wanita cantik yang jadi panutan Anggreni untuk menjadi wanita sesungguhnya. Wajar saja papanya sangat mencintai ibunya itu, wanita yang selalu mendampingi papanya bahkan di saat-saat terburuknya.
“Greni ikut dung,” ucap gadis itu membuat kedua orangtuanya yang tengah berpelukan menoleh menatap gadis itu. Anggreni tersenyum menggoda.
“Ganggu aja kamu,” ucap tuan besar Faresta, Minara langsung saja memberikan cubitan pada pria paruh baya itu, membuatnya meringis.
“Kenapa sih Ma,” protes Faresta, Anggreni terkekeh.
“Pa, Ma, sebentar lagikan Greni ulang tahun yang ke 22 tahun, Greni boleh dong request kadonya,’ ucap gadis itu, Faresta dan Minara bertukar pandang. Tumben putrinya itu meminta kado sebelum ulang tahunnya, biasanya juga Anggreni terima aja apa pun yang kedua orang tuanya berikan.
“Minta apasih, kok tumben?’ tanya Minara.
“Ehm, minta adek lagi dong, masa Greni sendiri mulu yang pakai nama besar Faresta,” ucap gadis itu yang membuat Minara membelalakan matanya terkejut. Berbeda dengan Faresta yang justru tersenyum menggoda.
“Bilangin sama mama kamu tuh, papa sih siap-siap aja kalau dimintai adik lagi,” balas Faresta, ayah dan anak kini memojokan Minara, wanita paruh baya itu mendengus kesal. Apa mereka pikir mengandung dan melahirkan anak itu semudah membalikan tangan apa.
“Apaan dah, Papa juga. Dulu aja waktu melahirkan Greni Papa langsung jera, pake bilang udah gak usah ada anak lagi yang tambah, gak kuat Papa lihat Mama kesakitan,” cibir Minara mengingatkan pria paruh baya itu.
“Ooo, jadi Papa yang gak mau Greni punya adik lagi, hem?” kini Greni fokus pada pria paruh baya yang menggaruk telinganya.
“ Kenapa Greni gak segera nikah aja, biar Mama sama Papa segera gendong cucu,” ucap Minara tiba-tiba, Anggreni terdiam, usianya memang sudah terbilang akan dewasa, namun sampai sekarang gadis cantik itu belum menemukan seseorang yang bisa mengisi hatinya. Anggreni cukup trauma dengan mantan kekasihnya yang meninggalkan dia setelah mendapatkan apa yang dia mau. Yah, Rendy, mantan kekasihnya itu hanya memanfaatkan Anggreni untuk dekat dengan sahabat gadis itu, Gladys namanya, gadis kalem dan yah harus Anggreni akui lebih cantik darinya.
“Greni masih belum memikirkan ke sana Ma, maaf,” balas gadis itu yang justru membuat Minara merasa bersalah.
“Lagipula Papa belum mau melepas putri kesayangan Papa ini,” tutur Faresta membuat senyum putrinya kembali.
“Aaaa sayang banget sama Papa,” Aggreni masuk ke pelukan pria yang merupakan cinta pertama bagi anak perempuan mana pun.
“Mama gak diajak nih,” ucap gadis itu berpura-pura ngambek membuat Faresta dan Anggreni terkekeh lalu menarik wanita itu untuk bergabung bersama mereka. Anggreni senang memiliki mereka yang selalu melindunginya, mendukung apa pun yang dia inginkan.
Gadis cantik itu berjalan-jalan di toko buku. Hari ini dia sedang ingin menikmati waktunya sendiri. Satu tahun yang lalu Anggreni telah menyelesaikan pendidikannya dari manajemen bisnis di salah satu universitas terbaik di Bandung. Anggreni berniat meneruskan perusahaan keluarga Faresta sebelum menemukan masa depannya.
Anggreni mengambil salah satu buku berjudul zero to one karya Peter Thiel, gadis itu terlarut dengan isi buku tersebut. Ada banyak hal yang bisa dia ambil dari sana. Gadis itu mengalihkan perhatiannya dari buku saat mendengar suara yang tidak asing.
“Rendy?” gumam gadis itu. dia masih sama, masih pria yang berhasil membuat Greni jatuh sejatuh-jatuhnya, yang membuat Anggreni tidak bisa membuka hati lagi, kenapa mereka harus bertemu lagi bahkan di saat Anggreni berusaha untuk melupakannya.
Pria itu tersenyum saat bertemu pandang dengan Anggreni. Terhitung sudah setahun sejak mereka putus, namun Anggreni akui hatinya masih tertuju pada Rendy.
“Hai, apa kabar?” tanya suara khas pria itu, suara yang dulu selalu mengucapkan kata-kata manis untuk Greni, yang selalu menemani gadis itu, namun kini dia adalah orang asing yang tengah menyapanya.
“Baik, kamu sendiri gimana kabarnya? Aku dengar kamu udah tunangan ya sama Gladys?” tanya Anggreni, anggap saja dia bodoh menanyakan hal yang akan membuatnya semakin sakit. Rendy mengangguk, membenarkan pertanyaan mantan kekasihnya itu.
“Doain aja dalam waktu dekat aku dan Gladys akaan melangsungkan pernikahan. Aku akan mengirimkan undangan khusus untukmu. Datang ya, kalau bisa sama kekasihmu juga,” tutur Rendy yang membuat Anggreni malah terdiam. Sudah satu tahun yang lalu dia dan Rendy putus, namun sampai sekarang gadis itu belum menemukan seseorang yang bisa menggantikan Rendy dalam hidupnya.
“Aku usahakan,” balasnya.
“Ehm lagi ngapain?” tanyaa Rendy, pria itu mengalihkan perhatian pada buku yang Anggreni baca.
“Masih suka bisnis ternyata,” gumam pria itu, Anggreni terkekeh, Rendy sudah sangat mengenal dirinya, apa yang dia sukai, apa yang dia tidak suka, semuanya telah Rendy ketahui.
“Kamu tau persis apa yang aku impikan. Menjadi pengusaha hebat, namun sampai sekarang belum bisa aku wujudkan,’ balas Anggrei.
“Kamu wanita tangguh, aku yakin kok, kamu pasti bisa meraihnya,” hanya sederhana namun berhasil membuat Anggreni tersenyum senang.
“Ren!’ panggil seorang gadis yang tidak lain adalah sahabat Anggreni dulunya, Gladys.
“Oh hai Greni. Udah lama gak jumpa, apa kabar?” meski pernah menyakiti Anggreni dengan merebut Rendy namun tidak dapat dipungkiri kalau Anggreni sendiri merindukan sang sahabat.
“Aku baik. Senang bisa bertemu kamu lagi, Glad. Aku rindu,” gumam Anggreni.
Gladys juga merasakan hal yang sama, gadis itu memeluk sahabatnya. Kata maaf terucap berulangkali dari bibir Gladys. Gadis itu juga tidak mengetahui kalau Rendy hanya memanfaatkan sahabatnya Anggreni untuk bisa dekat dengannya. Jika punya pilihan Gladys juga tidak ingin menyakiti sahabatnya, namun dia sendiri tidak punya pilihan selain menerima Rendy yang sudah sangat terobsesi padanya.
Yup, Gladys menyadari Rendy tidak sungguh mencintainya, pria itu hanya terobsesi dengan kecantikan yang dia miliki. Pria itu bahkan terlalu possesive padanya, melarangnya melakukan ini itu, memerintahnya sesuka hati, seolah Gladys adalah boneka yang bisa Rendy gerakkan sesuka hati. Mereka baru berpacaran namun Rendy telah bersikap seperti itu, bagaimana jika nanti mereka menikah, Gladys pasti akan kehilangan seluruh kebebasannya.
Rendy menarik tangan Gladys menjauh dari Anggreni, mengajaknya menuju toko awal sesuai tujuan mereka.
Anggreni hanya menatap kepergian mereka, sudah saatnya dia move on dari Rendy, pria itu akan menjadi milik sahabatnya seutuhnya, dan Anggreni hanyalah mantan kekasih pria itu.
Anggreni tersenyum tipis, dia sudah ikhlas dengan apa yang terjadi, inilah yang terbaik untuknya. Gadis itu memilih untuk melanjutkan aktivitasnya yang tertunda. Mungkin untuk sekarang Anggreni akan fokus mengelola perusahaan keluarga Faresta, masalah cinta akan dia pikir nanti, gadis itu sangat yakin kalau ada seseorang yang lebih baik yang semesta ciptakan untuk mengobati luka hatinya.