Pria itu dengan terburu-buru memasuki ruang kerjanya, dia terlambat beberapa menit karena harus mengurusi beberapa hal. Dia menghela nafas saat mendapati bosnya tengah menunggu. Pria bersiap menghadapi kemarahan pria paruh baya itu.
“Harus berapa kali saya memperingatkan kamu?” tanya pria itu tajam.
Bukan tanpa alasan dia sering terlambat. Pria itu baru saja merintis usaha dengan kemampuan serta skill yang dia peroleh dari kuliahnya. Yup, dia berhasil menyelesaikan pendidikan dengan usahannya sendiri. Nama lengkapnya Anggasta Daneswara, pria yang hidup sebatangkara, kedua orangtuanya meninggal saat pria itu masih kecil. Anggasta berbeda dari orang lain. Dia adalah pria tangguh yang memiliki impian.
Sejak kecil Anggasta hidup bersamaa anak-anak yatim piatu lainnya di sebuah panti asuhan. Pria berparas tampan itu tidak berhenti belajar, meski dengan segala keterbatasan yang dia miliki. Berkat otak cerdas dan kerja kerasnya akhirnya Anggasta mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi. Pria itu bahkan harus kerja paruh waktu ditengah kesibukan belajarnya demi memenuhi kebutuhan hidupnya.
Semua terbayar dengan ilmu dan gelar yang akhirnya dia dapatkan. Anggasta masih mengingat bagaimana wajah haru yang ditunjukan oleh wanita paruh baya yang dengan tulus merawatnya serta anak-anak yang lain. Tekad untuk merubah nasib membawa Anggasta sampai pada perusahaan impian dia. Pria itu akhirnya diterima sebagai manajer pabrik di perusahaan tersebut, namun sepertinya nasib pria itu kurang baik.
Pria itu mempunyai potensi yang baik untuk merintis usaha baru hanya saja belum memiliki modal untuk itu. Anggasta mencoba merintis usahanya namun malah membuatnya sering melupakan tanggung jawab sebagai manajer di perusahaan tersebut, sehingga membuatnya terkena teguran dari atasan.
Jika tidak mengingat dan memperhitungkan jasa Anggasta di perusahaan tersebut sudah sedari awal mereka memecatnya karena tidak konsisten dalam waktu kerja.
“Maafkan saya Pak,” gumam Anggasta, pria paruh baya itu terlihat memijit keningnya.
“Sebenarnya apa masalahmu Gasta? Ini sudah yang keempat kalinya kamu datang terlambat, belum lagi dengan laporan kemajuan yang akhir-akhir ini sering telat kamu serahkan pada saya,” tutur pria paruh baya itu.
Sejujurnya dia juga berat jika harus kehilangan karyawan secerdas Anggasta, namun peraturan tetaplah peraturan. Peraturan dibuat untuk ditaati dan sebagai pembatas agar tidak terlalu semena-mena dalam bertindak.
Anggasta hanya bisa tertunduk, siap dengan segala resiko yang harus dia tanggung.
“Maaf Gasta, tetapi ini adalah keputusan yang harus saya ambil. Mulai hari ini kamu dipecat. Saya sudah beri kamu maaf sampai tiga kali, berharap kamu akan memperbaiki kesalahan kamu, ternyata masih sama. Jadi, mulai hari ini dan seterusnya kamu tidak perlu datang lagi,” keputusan final sudah dibuat, dan Anggasta harus menerimanya.
Pria itu dengan berat hati membereskan semua barang-barangnya dan bersiap untuk keluar dari kantor tersebut.
“Gasta!” panggil Dino, pria itu adalah sahabat seperjuangan Anggasta.
Dino menatap prihatin pada sahabatnya itu.
“Tidak apa. Ini salahku,” ucap Anggasta mengerti isi pikiran sahabatnya.
Dino menepuk bahu Anggasta.
“Gue yakin lo pasti bisa bangkit lagi. Anggasta yaang gue kenal itu sangat tangguh dan tidak mudah menyerah,” tutur Dino, Anggasta terkekeh menanggapi ucapan sahabatnya.
Entahlah, dia sendiri masih belum mengetahui akan melakukan apa setelah ini. Usaha yang baru dia rintis juga kacau dan sekarang dia kehilangan pekerjaan yang jadi penopang usaha barunya.
Anggasta pulang ke rumah miliknya, hasil jeri payahnya selama ini. Yah, tidak besar namun nyaman untuk ditinggali, apalagi jika dari hasil usaha kita sendiri.
Anggasta meletakan barang bawaannya di meja. Pria itu berjalan menuju kamarnya, merebahkan tubuhnya yang entah sejak kapan terasa lelah. Pria itu menatap langit-langit kamarnya. Dia punya impian besar sehingga memberanikan diri untuk merantau ke kota besar tersebut, meninggalkan keluarga panti asuhan demi mewujudkan impiannya itu. Anggasta memijit keningnya yang terasa pusing, mengapa tidak ada yang berjalan sesuai ekspetasinya.
Anggasta pikir dengan merintis usaha dia akan bisa memajukannya perlahan sembari mengumpulkan uang dari kerjanya sebagai manager, namun semua berantakan karena satu client yang melarikan diri, membawa semua uang yaang harusnya Anggasta gunakan untuk merintis usahanya, sekarang dia juga kehilangan pekerjaan karena sibuk mengurusi masalah tersebut.
Ponsel Anggasta berdering membuatnya terpaksa bangun untuk mengambil ponsel tersebut. Tertera nama bunda di layar ponselnya itu. dengan ragu Anggasta mengangkat panggilan tersebut.
“Siang, Bunda,” sapanya pada wanita paruh baya yang selama ini merawat serta membesarkannya.
“Kamu gak sedang sibuk, bukan? Atau Bunda ganggu kamu kerja?” tanya wanita paruh baya itu.
“Enggak Bun, tenang saja. Gimana anak-anak, semua baik-baik ajakan?” tanya Anggasta yang tertuju pada adik-adiknya yang harus dia tinggal. Sesekali Anggasta akan mengirimkan uang demi membantu biaya anak-anak tersebut. Anggasta pernah berada di posisi mereka, pria itu paham bagaimana rasanya kekurangan biaya,, harus menahan diri untuk membeli sesuatu sampai berusaha untuk mendapatkannya dengan kerja keras sendiri.
Anggasta berharap bisa membantu merekaa untuk bangkit, namun sekarang dia bahkan tidak memiliki jaminan apa pun lagi.
“Ada apa Bunda?” tanya Anggasta saat merasa wanita paruh baya itu ragu menyampaikan isi pikirannya pada Anggasta.
“Bunda gak usah segan untuk cerita, Gasta akan bantu kalau masih bisa,” lanjut pria itu.
Wanita paruh baya yang tidak lain adalah Siva menghela nafas, sejujurnya dia tidak ingin membebani anak asuhnya itu, namun Siva sendiri bingung harus meminta bantuan pada siapa lagi. Hanya Anggasta yang bahkan setelah sukses masih mau membuka dii untuk membantu anak-anak panti yang lain, dan yah hanya Anggasta yang bisa diharapkan.
“Jadi begini Nak. Beberapa hari yang lalu ada orang yang datang menggugat kepemilikan tanah yang dipakai sama panti, mereka meminta ganti rugi atau meminta kita untuk keluar dari wilayah mereka. Mereka juga akan merobohkan panti asuhan jika kita tidak segera membayar uang ganti ruginya,” tutur Siva, Anggasta terdiam mendengar kabar tersebut.
Kenapa masalah tidak berhenti mendatanginya. Dia baru saja kehilangan pekerjaan, kehilangan banyak uang untuk usahanya dan sekarang panti asuhan tempat anak-anak kurang beruntung itu bernaung terancam akan digusur.
Anggasta memijit keningnya yang semakin pusing, jika sudah begini apa yang harus dia lakukan. Anggasta tidak mungkin membiarkan anak-anak itu kehilangan tempat tinggal mereka, namun Anggasta juga sedang tidaak punya uang sekarang.
“Berapa yang mereka minta, Bun?” tanya pria itu.
“ Ehm, 200 juta Nak,” balas Siva.
Sebanyak itu uang yang mereka butuhkan. Bagaimana Anggasta bisa mendapatkannya, apa yang harus dia lakukan.
“Nanti Anggasta coba pikirkan solusinya ya, Bun. Gasta mau lanjut kerja dulu,” ucap pria itu. dia berbohong agar wanita paruh baya itu tidak khawatir padanya.
“Ya sudah, jangan terlalu dipaksa kerjanya, jaga kesehatan ya. Salam dari anak-anak yang lain juga. Mereka rindu sama kamu,” balas Siva sebelum menutup panggilan.
Sudah beberapa menit berlalu sejak panggilan terputus namun Anggasta masih diam dengan pandangan kosong. Dia kebingungan haarus melakukan apa.
“Apa aku minta tolong sama Doni? Tapi dia pasti juga lagi kesulitan sekarang,”
Anggasta memilih menutup matanya guna meringankan rasa pusing yang semakin menjadi. Dia akan memikirkan jalan keluarnya nanti saat dia sudah merasa lebih baik. Anggasta berharap akan menemukan keajaiban untuk bisa menyelesaikan masalah tersebut. Seandainya dia bertemu wanita yang beberapa kali dia lihat saat pergi ke toko buku. Anggasta menggeleng, apa yang dia pikirkan. Anggasta mencoba mengenyahkan pikiran anehnya dan mulai masuk ke alam mimpi.