Anggasta benar-benar tidak sengaja membuat Anggreni kecewa. Malam itu Naura terus menangis ketakutan. Pria itu juga tidak tahu harus berbuat apa untuk menenangkan Naura, alhasil semalaman dia terjaga menjaga adiknya itu. “Gren,” panggilnya lembut, Anggreni masih diam, wanita itu sibuk dengan makanan di hadapannya. Kalau saja Gladys tidak datang untuk menemaninya malam itu tentu dia akan kesepian ditambah lagi mimpi buruk yang semakin sering mengganggu tidurnya. Anggasta menghela napas, merasa lelah. Pria itu menyandarkan tubuhnya di sofa, menutup mata sejenak, menunggu Anggreni selesai makan. Suara batuk Anggreni membuat pria itu terbangun, dia cukup terkejut mendapati Anggreni yang menangis. “Hei, kamu baik-baik saja?” Anggasta menepuk pelan punggung wanita itu. “Gren, aku punya ala

