Untuk ke sekian kalinya, Naura menatap foto masa kecilnya dengan Anggasta. Dua orang yang tertawa lepas. Dulu, dia adalah satu-satunya orang yang berhasil membuat Anggasta begitu khawatir membuat Anggasta ketar-ketir karena dia terlambat pulang sekolah. Naura pernah bermimpi saat besar, dia dan Anggasta akan menjadi sepasang kekasih yang saling mencintai. Nyatanya, cintanya hanya bertepuk sebelah tangan. Anggasta hanya menganggap dia sebagai seorang adik, bukan wanita yang berhak diistimewakan. “Minum dulu,” Rendy menyerahkan satu cup minuman kesukaan gadis itu, Naura tersenyum. “Sedekat apa dulu kamu sama Gasta?” tanya Rendy ikut memperhatikan foto tersebut. Naura tersenyum tipis. “Sangat dekat sampai aku pernah berpikir kalau aku itu istimewa untuk, Bang Gasta. Ternyata aku salah, dia

