Naura mulai aktif bekerja di perusahaan Daneswara. Untuk pertama kalinya Naura bisa merasakan pekerjaan yang benar-benar layak. Naura mengamati penampilannya pagi itu, anggap saja dia aneh. Biasanya Naura hanya mengenakan celemek lalu melayani orang-orang, kini dia bisa berpakaian rapi dan wangi sesuai yang dia impikan. Dia memang cerdas tetapi tidak seberuntung Anggasta yang langsung mendapatkan pekerjaan di tahun pertama lulus kuliah. “Nau, Makan yuk,” ajak Anggreni, Naura mengangguk, mengikuti langkah Anggreni. Di meja makan Anggasta sudah duduk tenang dengan laptop di hadapannya itu, pria itu terlihat fokus. Naura bahkan tidak berkedip, dari dulu Anggasta tidak berubah sama sekali, tetap menjadi pria tampan pujaan hatinya. “Angga, makan dulu,” tegur Anggreni. Mendengar nama panggila

