"Dek kita mau kemana lagi sih?" Tanya Javin berulang kali karena sedari tadi adeknya ditanya hanya jawab 'jalan aja bang nanti juga tau sendiri', pasalnya Javin sudah mengelilingi jalan yang hampir sama beberapa kali, sehabis dari minimarket Anes hanya mengajaknya muter-muter gak jelas tanpa tujuan yang pasti.
Anes hanya menghiraukan ucap Javin yang sudah kesal, sambil menengok kesana kemari dan ya ketemu. Setelah menemukan sesuatu anes pun menyuruh Javin untuk melajukan mobilnya kesana.
"Bang Javin ayok kesana" tunjuk Anes pada gerombolan orang banyak.
"Mau ngapain sih dek kesana, gak usah kesana deh, bahaya" ucap Javin menghalangi Anes.
"Ayo dong bang kita liat disana itu ada apa" bujuk Anes sambil terus menarik tangan Javin.
"Gak boleh, disana banyak anak motor, kita putar balik aja ya" cegat Javin.
Javin mengetahui disana adalah area balap bahkan dia sering kesana bersama temannya begitu juga dengan Anan dkk, dan Javin gak mau adek ceweknya itu tahu apa lagi sampe salah pergaulan nanti.
"Ayo dong bang kita kesana" bujuk Anes, javin yang gak tega pun akhirnya menurut.
Anan yang dibelakang mobil Javin pun hanya mengikuti kemana mobil didepan itu pergi, karena Anan ingin tau kemana mereka pergi jadi hanya mengikuti dari belakang.
Anan bingung kenapa mobil abangnya itu mengarah kearea balap, "masa iya abangnya mau ikut balapan saat bersama adeknya, gak mungkin kan?" Batin Anan.
Kedua mobil pun berhenti didepan banyak orang mereka turun dan Anan melihat ada Edward dan dua temannya ada disana anan pun menghampiri mereka.
Lain halnya dengan Javin dan Anes mereka malah menuju ketengah area balap, karena Anes yang sedari tadi menarik lengan Javin untuk kesana.
"Dek ngapain kita kesini, mending kita dipinggiran aja sama teman abang dan yang lain" ucap Javin sambil menunjuk Edward dkk dan kedua temannya.
"Gue tuh kesini bukan mau nonton bang" kesal Anes melihat kelakuan abangnya yang sedari tadi selalu menghalanginya.
"Lah kalau gak mau nonton ngapain tadi kamu ngajak abang kemari" heran Javin pada adeknya.
"Ya mau balapan lah bang" ucap Anes santai.
"APA, abang gak mau balapan ya. Abang gak bisa ada-ada aja kamu" kaget Javin.
"Siapa juga yang nyuruh abang buat balapan sih" greget Anes.
"Lah terus, siapa yang mau balapan?" Tanya Javin heran dengan kelakuan adeknya itu.
"Ya gue lah bang yang mau balapan" ucap Anes santai berlalu untuk mendaftarkan dirinya.
"apa, dek yang bener saja kamu" Javin syok, bagaimana mau balapan naik motor aja gak bisa batin Javin mulai panik.
"Tenang bang gue bisa kok bawa motor, jadi abang gak perlu khawatir" Anes menepuk pundak Javin dan berlalu menuju Edward dkk.
Gimana Javin gak khawatir, soalnya setau dirinya adeknya itu gak bisa naik motor.
"Edward" panggil Anes, Edward hanya mengangkat kedua alisnya.
"gue pinjem motor lu dong" ucap Anes, Edward pun bingung buat apa minjem motor.
"Penjem ya bentar aja, buat balapan" pinta Anes, mereka pun kaget.
"Apa gak, gak, gak boleh" sela Anan.
"Apa sih gue minjem motor Edward
Bukan motor lu" sewot Anes.
"Ya gue sebagai temannya, mewakili buat menjawab" sewot Anan tak mau kalah.
"Boleh" ucap Edward menyerahkan kunci motornya.
"Apaan sih Ward, kenapa lu kasih pinjem motornya" marah anan tak suka jika Edward meminjamkan motornya pada Anes.
"Gue cuma mau tau sejago apa dia bawa motor dan sejauh mana dia telah berubah" ucap Edward santai.
"Lu gila ya?, dia itu gak bisa bawa motor tau" marah Javin yang baru saja menghampiri mereka.
"Kalau dia gak bisa bawa motor, gak mungkin dia mau ikut balapan kan"
"Kita liat aja gimana pertandingannya" lanjut edward sambil berjalan menuju penonton paling depan, mau tak mau yang lain pun mengikutinya, karena mereka juga penasaran.
Anes pun sudah berada didepan garis start, hanya satu peraturan dari pertandingan ini yaitu ga boleh mencelakai satu sama lain, dengan taruhan uang 10 juta dari tiap peserta dan lawan Anes ada 3 orang.
Kemudia dari samping ada seorang wanita berpakaian minim menggarah kedepan mereka mengacungkan tangannya kemudia melempar sesuatu keatas dan pertandingan dimulai.
Anes awalnya santai saja bahkan belum melajukan motornya sama-sekali, Javin dan yang lainnya sudah cemas.
Javin pun menghampiri Anes memberitahu untuk mundur dari pertandingan, tak masalah jika dia harus mengeluarkan uang 10 juta untuk taruhannya, asalkan adek ceweknya tak mengikuti balapan itu, tapi belum juga sampai anes sudah melajukan motornya terlebih dahulu dengan kecepatan diatas rata-rata.
Anes menyusul pembalap yang ada didepannya, sehingga mereka berempat saling salip menyalip dijalan besar dan sampailah anes digaris finis terlebih dahulu.
Sorak-sorak dari penonton pun terus bergema disepanjang jalan.
"selamat ya ini hadiah lu" seorang melempar 3 kantung plastik berisi uang masing-masing 10 juta.
"Thanks" ucap Anes berlalu menghampiri Edward dkk dan abangnya.
"Ya ampun dek lu gak apa kan?" Tanya Javin cemas, memutari tubuh Anes.
"Gak bang, gue gak apa kok" ucap Anes.
"Syukur deh, tadi kamu keren banget loh bawa motornya" ucap Javin semangat.
"Nih kunci motor lu, thanks dan ini buat lu" ucap Anes sambil menyerahkan kunci dan salah satu kantung plastik pada Edward.
"Wih keren banget tadi adek lu Nan" ucap Adam salah satu teman Edward menepuk pundak Anan.
"Iya gue juga gak nyangka adek gue bisa balapan" ucap Anan masih tak percaya bahwa yang tadi memenangkan balap ialah adeknya sendiri.
"Yuk bang kita pulang" Anes menarik lengan Javin.
Mereka yang melihat hanya melongo, "apa bener tadi itu Anes gadis yang dulu sangat manja, bener-bener berubah drastis" batin mereka.
"Dek tadi itu kamu bener-bener keren banget" ucap Javin semangat sambil menyetir.
"Iya bang gue tau, tapi abang udah ngucapin itu terus dari tadi" ucap Anes greget pasalnya sedari tadi Javin hanya mengucapkan hal sama berulang kali.
"Bener loh dek lu itu.." ucap Javin terjeda.
"Iya bang, iya" kesal Anes, Javin pun mengacak rambut Anes.
"Ihs apaan sih bang" ucap Anes menyingkirkan tangan Javin dari atas kepalanya.
"Yaudah yuk turun kita dah sampai" ucap Javin saat sampai didepan rumah.
Anes pun turun mengikiti langkah Javin dari belakang dan langsung menuju kekamarnya.
"Huhh, akhirnya gue bisa balapan lagi, rindu gue pada area balap akhirnya terobati juga" ucap Anes senang.
Anes pun langsung beranjak untuk membersihkan dirinya, walau pun sudah hampir tengah malam Anes tak masalah jikalau harus mandi.
Menurut Anes lebih baik mandi dimalam hari yang membuat badannya segar dari pada tidur dengan keadaan badan lengket karena kringat, dia gak akan nyaman tidurnya nanti.