“Ini … di mana?” tanya Awan ketika mobil yang disetiri Adel berhenti di halaman sebuah rumah di kawasan puncak. “Villa-ku, sejak kemarin,” jawab Adel. “Hadiah pernikahan dari Kakek.” Awan melongo. “Hadiah pernikahan?” Keluarga sultan memang beda. “Apa keluarga orang-orang tajir selalu kayak gitu?” Adel menggeleng. “Nggak juga. Kadang hadiahnya saham atau mall, atau resort, tergantung, sih.” Awan meringis. “Itu sih, sama aja.” “Beda, lah! Kamu nggak bisa bedain villa sama mall?” sinis Adel. Awan memilih diam. Dahlah, mengalah saja. Toh, Awan tak mungkin mendapatkan keduanya juga. “Kamu nggak turun?” tanya Adel tajam. “Iya, ini mau turun. Semua kan butuh proses,” Awan membela diri. Adel memutar mata dan turun lebih dulu. Awan mendesis kesal ke arah punggung wanita itu, tapi

