Kencan di Taman Hiburan

1199 Kata
"kau hampir berumur 30 tahun dan kau mengajak berkencan di taman hiburan?", ia memulai perdebatan lain, selain jaket itu. "kau memang pandai membuat orang lain kesal" ujarku "tapi memang benar, umurmu sudah hampir 30 dan kau menyiapkan kencan di taman hiburan… "ingin sekali aku berkata, jika kau ingin mundur dari kencan di taman hiburan ini silakan, aku tak memaksa-mu untuk berkencan denganku.. " ungkapku merasa sedikit tersinggung dengan pernyatannya. "kau tahu ini adalah bagian dari program ini, sepertinya tidak ada opsi untuk aku mundur", untuk sekian kalinya jawabanny tidak pernah mau mengalah denganku… "tidak bisakah jawabanmu sedikit lebih ramah untukku, sebentar lagi aku akan emosi dan memukulmu juga…”omelku sambil mengepalkan tanganku hendak memukulnya. "kau tahu, aku tak mungkin mundur untuk seseorang yang menyiapkan hadiah spesial ini untukku, walaupun itu berarti aku harus menemanimu seharian di taman hiburan ini”, sejujurnya aku tak tahu harus senang atau sedih atas pernyataan dan kepercayaan dirinya. Senyum dan lesung pipinya, meluluhkan omelan ku saat itu. "ke mana kau ingin bermain?" "thunderfalls.." "kau sungguh ingin bermain? apakah kaki-mu sudah sembuh?", baru kali ini aku merasakan pertanyaan terdengar serius, mengkhawatirkan kondisiku "lagian kau bermain di sini, tempat ini besar, kau perlu banyak berjalan di sini, apa tidak apa-apa kau di sini?" ia melanjutkan cecaran pertanyaan. "sejak kapan kau mengomel seperti ibu-ibu begini, kaki-ku sudah membaik dan aku ingin bermain di sini… "kau ingin bermain bukan berkencan, aku pikir kamu asal memilih jaket, karena kamu ingin bermain di sini. Atau kau sengaja memilih jaket ini, karena kau rasa aku yang paling cocok untuk diajak bermain?" Pertanyaannya menunjukkan sedikit kerisau-annya namun terdengar lucu bagiku, bagaimana bisa ia merasa bahwa ia yang paling cocok untuk diajak main di taman bermain? Walau tidak ku-pungkiri bahwa dia adalah orang yang paling asik untuk diajak bermain, orang yang paling menyenangkan untuk diisengin juga. "Apakah kamu sudah sehat? Aku melihatmu sedikit pucat tadi pagi…", tanyaku balik padanya. "Apa kau membalas mengkhawatirkanku? Setelah hampir 2 minggu, baru sekarang kau menanyakan keaadanku. Aku baik-baik saja…" "Sepertinya selama 3 hari kita makan malam bersama, aku selalu menanyakan kondisimu... " "tidak juga ... " jawabnya singkat, membuatku mem-flashback apa saja yang kami bicarakan selama 3 hari terakhir kemarin. "Sepertinya kita akan diam di papan petunjuk arah ini sampai 5 jam lagi jika kita terus membicarakan hal seperti ini… " omelku tiba-tiba melupakan pikiranku sebelumya sambil berjalan entah ke arah mana… aku hanya menikmatinya, ia sedikit tersenyum dan mengejar langkahku yang masih lambat.. "apa kamu akan memainkan semua permainan air hari ini?", tanyanya ketika kami semakin dekat dengan permainan air. "apa kau tidak menyadari untuk apa aku memberikanmu jaket ini? Apa gunanya kalau tidak digunakan?" jawabku ngasal, sambil menarik-narik kembali ujung jaketnya dan sedikit berusaha membuatnya jengkel.. "Sesungguhnya aku agak malas untuk bermain air di tengah musim gugur.. Tapi karena kau sudah meyiapkannya, baiklah…." gerutunya kembali membuatku tersenyum. Kami memainkan beberapa mainan air seperti thunderfalls, kami juga memaminkan merry-go-round dan sisanya kami lebih banyak berjalan-jalan mengunjungi toko cendera mata. Beberapa kali saat kami berjalan, ia mengecek keadaanku, menanyakan apakah aku masih sanggup berjalan, dan berkali-kali juga aku nyatakan bahwa aku baik-baik saja. "sepertinya, di rumah nanti kau akan menuduhku bahwa aku yang menyebabkan kaki-mu bengkak" nyatanya saat kami melangkah meninggalkan everland. "kau konyol… siapa yang akan peduli dengan hal tersebut… "aku rasa ada beberapa... dari sini, kemana kau akan mengajakku? "makan! sebelum aku harus mengeluarkan seluruh tenagaku untuk berdebat denganmu" Ia tersenyum "energi ku habis menanggapimu seharian ini… " lanjutku. Kami makan di sebuah restaurant khas korea. Ayam rebus yang enak itu, membantuku memulihkan tenagaku.. "kau meminumnya dengan soda" nyatanya diiringi anggukanku.. "aku sangat lelah, dan aku membutuhkan minuman manis yang dingin ini" "apa kau bersenang-senang hari ini? "apa kau melihatku senang hari ini? "mengapa kau jarang menjawab pertanyaanku? Kau mengajakku bertengkar. "sebaiknya kau mulai mengenali orang lain dari ekspresinya.. "apa tidak bisa pernyataan itu keluar dari mulutmu, bukan dari perasaanku saja? "... " aku kembali menggelengkan kepala, menolak untuk memberikan jawaban yang ia harapkan. "Belum waktunya, suatu saat pasti aku akan menjawabmu" jawabku iseng… Kencan ketiga kami ini memperjelas perasaan kami, juga semakin jelas terlihat oleh penghuni lain walau waktu, tempat dan teman kencan tidak disebutkan secara eksplisit. Kedekatan satu dan yang lainnya semakin jelas. Q. Apakah hatiku beralih? Atau hatiku tetap sama pada pilihan pertamaku? "ahh, aku semakin tidak yakin pada pilihaku" ungkap Sera. Aku mengiyakan pernyataanya dalam hati. "aku merasa tidak ada yang menyukaiku.." Bora "kamu bertemu orang yang salah hari ini…" lanjutku.. "aku rasa, aku sudah tahu pria kedua, yang tidak masuk dalam daftar-ku… " "secepat itu" tanya Sera, Bora mengangguk "apa kalian sudah memutuskan yang kalian sukai?", tiba-tiba Yuri datang menimbrung percakapan kami, tentu kami kaget dengan perkataannya karena biasanya ia sangat cuek dan tidak mau terlibat. "kami belum memutuskan apapun…", jawab Sera "kami hanya memutuskan pria yang ingin kami jauhi, aku tepatnya…. " terang Bora. "aku pun memutuskan pria yang berkencan denganku hari ini" ungkap Yuri dengan juteknya, "apa ia seburuk itu? Sampai kau mengungkapkannya begitu kencang…" tanyaku. "tidak, sama sekali tidak… dia tidak buruk, dia menarik, tapi bukan menarik bagiku… kau mengerti maksudku? Aku merasa aku bisa menjadi teman yang sangat akrab dengannya, tapi kami bukan dalam relasi pria dan wanita." terang Yuri "aku mengerti maksudmu, aku rasa, aku-pun memiliki satu teman pria seperti yang kau gambarkan…" lanjutku. "apa yang kalian bicarakan" tanya Seok-Hoon dengan gaya jalannya yang cepat, ngomongnya yang cepat, berjalan melewati meja makan yang kami tempati, beralih ke tempat dispenser air minum. "Oppa, jika kau punya kesempatan melepaskan 1 wanita dari kami berlima, apa kau sudah memikirkan orang tersebut?" tanya Bora.. Seok-Hoon mengangguk dan meninggalkan kami.. Aku dan Yuri tertawa, kami berpikir bahwa Seok-Hoon takut ditanya pertanyaan yang lebih frontal lagi oleh Bora. "aku menduga orang yang dimaksud oleh Bora adalah Seok-Hoon" nyata Yuri sewaktu kami di kamar wanita lantai 2. Aku mengangguk. "apa kamu menyukai teman kencanmu hari ini", tanya Hana. Walau kami sekamar, rasanya sudah 2 minggu kami tidak pernah berbicara intens terutama mengenai pendapat dan padangan kami. Aku mengangguk. "aku tidak… kau tidak mendengarnya Hana, aku tidak merasa bahwa teman kencanku hari ini adalah orang yang aku sukai sebagai pria, aku hanya melihatnya sebagai teman. "kau tahu, aku pernah berbicara dengan Yohan dan bagiku aku tidak bisa berbicara nyambung dengannya.." "aku tahu, aku pernah melihatmu pergi denganya…" ungkap Yuri.. Sesuatu terlewat lagi dari hadapanku "aku rasa ia menyukaimu, Hana" "aku rasa, ia menyukaimu Yuri, timpalku" dan kami bertiga tertawa. Kami punya cara pandang yang berbeda dan kami baru menyadarinya sekarang. Di saat yang sama Hae-il memanggil Hana. Aku lihat melihat mereka menjadi dekat, spertinya setelah kencan ketiga kami, aku tidak tahu kemana hati Seok-Hoon berlabuh. Tidak lama dari itu, Kang-Min menghampiriku di hadapan Yuri. --------------------- "kakimu sudah membaik" tanya nya sambil melihat dan menyentuh pergelangan dan punggung kakiku. "seperti yang kukatakan kau bisa ke klinikku besok".. "sepertinya aku tidak bisa… "kalau kau keberatan ke klinikku, kau bisa ke klinik lain… tapi kakimu harus diobati" terangnya sambil berjalan keluar dari kamar kami. "aku akan menemanimu ke kliniknya, sepertinya ia bersikeras untuk kau pergi ke sana" lanjut Yuri "aku tidak yakin bisa ke kliniknya besok.. "bagaimana dengan lusa…" tanya Yuri, aku berpikir selama beberapa saat lalu aku menggeleng dan menjawab "sebaiknya besok saja"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN