Hari ke - 13
"apa kau sudah makan?" tanyaku pada Yohan ketika kami berjalan menuju garasi rumah itu.
"kau tau aku makan banyak kemarin untuk pertama kalinya sejak kita tinggal di rumah ini…
"Jadi maksudmu, masakanku selama ini tidak enak sehingga kau tidak makan banyak di rumah ini ?"
"Itu juga " responya datar. Mataku menyipit dan mengarah pada matanya seakan mataku ini bisa mengeluarkan sinar yang mampu memotong balok.
"apa kakimu sudah membaik?” tanya Yohan lagi.
"dan kau selalu berkomentar mengenai kaki-ku sepanjang kita berjalan kemarin…" sembari bertanya dan menjawab, kami menyadari bahwa mobil yang baru saja lewat di hadapan kami adalah Seok-Hoon dan Hana membuatku berhenti berkata-kata.
"apa kau tertarik pada pria itu" tanya Yohan lagi.
"apa kau harus bertanya seperti itu di saat kita bersama ?” responku dengan nada yang lebih tinggi dari biasanya, membuatku sedikit terkejut dengan diriku sendiri.
"sesungguhnya aku belum pernah menanyakan pertanyaan selugas itu sebelumnya, dan lagi, aku bertanya karena kau sedikit terpana melihat mobil yang baru saja lewat." nyatanya sambil menunjuk mobil yang baru lewat menggunakan wajahnya.
"apa yang hendak kau lakukan, hingga tiba-tiba kau ikut bersama kami ke klinik Kang-Min?" tanya Yuri saat tiba di garasi tempat aku dan Yohan berdiri saat ini, membuyarkan pembicaraanku dan Yohan sebelumnya.
"tidak ada…" jawab Yohan
"aku rasa ia hanya penasaran dengan penghuni paling sibuk di rumah," kataku menggantikan Yohan menjawab pertanyaan Yuri
"sepertinya kau bermaksud menyatakan bahwa ia penggangguran, bukan?" timpal Yuri
"sepertinya aku salah untuk memilih bergabung bersama kalian" respon Yohan sambil kami berjalan memasuki mobil.
Kami sampai di klinik Kang-Min, aku diperiksa olehnya dan diolesi beberapa obat.
"apa kau baik-baik saja?" tanya Kang-Min pada Yuri
"sepertinya begitu…" jawab Yuri
"sebaiknya kau sekalian kuperiksa, bagaimana?” tanya Kang-Min diikuti anggukan Yuri.
“ulurkanlah tanganmu" terang Kang-Min, aku dan Yohan seperti berada di tempat yang salah. Aku merasa mata Kang-Min mulai terarah pada Yuri
"apa kepala mu sering terasa pusing?" Yuri mengangguk.
Q. apakah aku sudah mulai merasa tertarik pada pria yang merawatku hari ini?
Malam harinya, aku pergi makan malam bersama Seok-Hoon, Hana, dan Hae-il.
"aku melihat Yohan sangat dekat denganmu akhir-akhir ini.." jelas Hae-il padaku.
"aku rasa begitu…"
"aku tidak begitu menyukainya, tapi aku rasa ia menyukaimu" sambungnya.
"aku kira Yohan menyukai Yuri" lanjut Seok-Hoon.
"apa kau tidak menyadarinya?" tanya Hae-il kepada Seok-Hoon.
"aku merasa perilaku Yohan pada Rael sangat jelas", Seok-Hoon merespon pertanyaan Hae-il dengan menggelengkan kepala, merasa tidak yakin dengan pernyataan Hae-il.
"aku-pun merasa begitu, aku merasa Yohan menyukai Yuri. Aku rasa Yohan hanya dekat dengan orang yang bisa ia ajak becanda, ia akan memulai segala percapakan dengan perdebatan"
"apa kau pikir Yohan akan memilihmu untuk kencan berikutnya?", tanya Hana padaku.
"aku tidak tahu… ", ungkapku, aku tidak bisa melihat ekspresi Seok-Hoon karena ia duduk di sebelahku, sedangkan Hae-il mengangguk. Seok-Hoon kembali menyeruput wine yang ada di hadapannya.
Saat kami sudah pulang dan berganti pakaian, Seok-Hoon mengetuk kamar wanita di lantai 2 dan memanggilku.
"Apa yang sedang kau lakukan? Apa kau tidak akan keluar?" tanya Seok-Hoon saat memasukki kamarku yang hanya ada diriku saat ini. Reaksiku saat bersama Seok-Hoon sangat berbeda, ia seperti kakak tertua di rumah ini, di mana aku lebih berhati-hati padanya, lebih tepatnya aku menghormatinya.
"sebentar lagi aku akan keluar.." hari ini rumah terasa sepi, hanya ada kami berempat. Yuri ada di bawah bersama Yohan. Mendengar jawabanku, Seok-Hoon bukan meninggalkan kamarku, tapi malah memasukki kamarku.
"aku merasa bahwa ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku" ungkap Seok-Hoon.
"aku tak tahu yang kau maksudkan.."
"kau tidak berkata apapun setelah aku memberikan-mu kimbab, kau tahu kimbab itu dariku….bahkan setelah obat itu…"
"aku tahu… hanya kau yang memasak dengan sangat baik…
"lalu, mengapa kau tidak mengajakku berbicara? Bahkan untuk mengucapkan terima kasih padaku?
"beberapa kali aku melihatmu bersama dengan yang lain, berduaan, sehingga aku merasa tidak tepat untuk menyapamu."
"apa benar seperti itu? Bukankah kau yang selalu bersama dengan pria lain…"
"sepertinya kita sama-sama bersama dengan orang lain….", bela-ku berusaha untuk tetap tenang, walau sepertinya ia akan memulai untuk membuka semua kondisi yang terjadi selama satu minggu terakhir ini.
"apa kau akan membiarkan orang yang kau sukai bersama dengan orang lain?"
'bukankah pertanyaan ini berlaku juga untukmu?' jawabku dalam hati-hati.
"sepertinya aku menunjukkan hal yang harus aku lakukan untuk-mu… "lanjutnya, aku rasa maksudnya adalah kimbab dan obat itu. Aku cukup merasa bersalah karena kami hampir tidak berbicara selama satu minggu kemarin bahkan saat ia memberikan obat itu padaku.
"aku meminta maaf untuk itu, aku tahu harusnya aku berterima kasih untukmu, dan terima kasih sudah mengajakku berbicara…"
Kami tidak akan berkomunikasi sampai 1 bulan lagi, atau bahkan selamanya kalau saat ini tidak ada, saat dimana hanya 4 orang di rumah ini.
"apa kau sengaja menjauhiku karena pernyataanku pada malam hari itu?" tanyanya, mengingat kembali pernyataannya terkait alasannya mengikuti acara ini. Aku tidak dapat merespon pertanyaanya kali ini, sama sekali tidak.
"jika karena itu kau menjauhi-ku, aku rasa kau harus tau alasanku…, uang merupakan hal yang realistis sangat jelas, aku tidak yakin untuk menemukan seseorang yang akan aku sukai hanya dalam waktu satu bulan. Itulah mengapa aku menyebut uang itu, aku rasa semua dari kita mengikuti acara ini karena opsi uang itu.. Minimal itu jaminan kita jika kita tidak menemukan seseorang yang cocok".
"Atau karena kau memergoki bersama dengan Hana siang itu ?"
Aku masih memproses semua pertanyaan dan pernyataannya di benakku, tapi ia sudah berjalan meninggalkan kamarku.
"apa yang terjadi?" tanya Yohan yang sudah ada di balik pintu bersamaan dengan Seok-Hoon yang meninggalkan kamarku. Aku hanya diam tak menjawab.
"sepertinya ia terlihat kesal untuk pertama kali-nya", lanjut Yohan
"pergilah…. sebaiknya kau tidak di sini.." ungkap Yuri saat berjalan di lorong menuju kamar kami. Yuri memasukki kamar kami dan sedikit mendorong Yohan yang masih belum mau beranjak dan menutup pintu kamar kami. Sepertinya Yuri tau bahwa aku linglung dengan pikiranku dan bisa saja menangis saat ini karena banyaknya hal yang ada di benakku saat ini.
"kau bisa bercerita padaku jika kau menginginkannya… " lanjut Yuri, aku menggeleng.
"kau tahu, aku yang paling tidak mengenalnya, pria yang meninggalkan kamar ini….yang pertama, bukan yang kuusir. Aku belum banyak mengobrol dengannya, aku melihatnya berkali-kali bersama Hana, menurutku, itu wajar jika kau merasa harus mundur. Jangan salahkan dirimu sendiri".
Apa yang disampaikan oleh Yuri menunjukkan bahwa ia belum mengetahui apapun tentang pernyataan Seok-Hoon subuh hari itu, selain saat kami memergokinya berduaan dengan Hana. Saat ini aku merasa bahwa aku belum tentu sanggup untuk menemuinya kembali.
Lewat tengah malam, Seok-Hoon kembali memanggilku bahkan di depan Hana. Hana cukup lama menatap kami, tapi Seok-Hoon tidak menghiraukannya.
"apa kau ada waktu besok sore?", aku mengangguk. Ia memberikan sebuah notes kecil yang berisi lokasi kami akan bertemu besok. Aku mengurungkan diri untuk masuk ke kamar, dan memilih untuk mengikuti Seok-Hoon duduk di sofa lantai 2. Yoong-Jae, Sera, Hae-il dan Yohan sudah ada di sana.
Hana datang ke tempat kami dan duduk di antara Hae-il dan Seok-Hoon. Aku memilih untuk pergi ke lantai bawah, mengambil beberapa snack, dan duduk di meja makan panjang yang dapat memuat 10 orang itu.
"apa yang kau makan? Mengapa kau bersembunyi di sini untuk makan snack itu?" usil Yohan
"jika kau mau, kau bisa memintanya padaku….", jawabku dan kami berakhir berdiam berdua di meja makan itu.
"kau mau cola? Sepertinya snack ini cocok dimakan bersama cola," aku menggeleng, namun ia berjalan ke kulkas dan mengambil beberapa minuman. Ia memberikan sebuah cola, dengan sticky notes di depannya… lokasi lagi.
"aku tidak bisa pergi besok sore," ungkapku sambil berbisik.
"kalau begitu lusa…" terang Yohan, aku mengangguk.
"apa yang terjadi denganmu dan Seok-Hoon?" tanyanya lagi aku menggeleng sambil menata pikiranku yang kembali berantakan karena pertanyaannya. Untungnya kali ini dia tidak mendesakku dengan pertanyaannya yang bertubi-tubi ataupun dengan ejekkannya yang sering memancing emosi di saat yang tidak tepat.
"aku merasa aku butuh bercerita.. " ungkapku saat aku mendapati diriku berada bersama Sera dan Yoong-Jae di teras belakang rumah.
"akhirnya kau mau bercerita.... " nyata Sera sembari meminum bir dihadapannya.
"apa yang terjadi ?" tanya Sera dan Yoong-Jae yang tidak mengetahui apapun karena mereka sedang pergi berjalan-jalan bersama penghuni lain ketika hanya ada aku, Yuri, Seok-Hoon dan Yohan di rumah ini.
"Seok-Hoon memarahi-ku tepatnya... " nyataku masih sedikit tercekat sewaktu menyatakan hal tersebut pada mereka. Aku meminum bir yang ada dihadapanku, aku bukan penikmat minuman, namun aku membutuhkannya, malam ini.
"tapi aku-pun tidak habis pikir dengannya.. " nyataku diikuti mata Sera dan Yoong-Jae yang menunjukkan rasa penasaran.
"Aku sama sekali tidak bisa membaca apa yang ada dipikiran Seok-Hoon. Aku sudah tidak berbicara dengan Seok-Hoon selama seminggu terakhir ini, banyak faktor yang membuatku tidak bisa dekat dengannya, entah itu karena aktivitasku atau memang karena pikiranku sendiri. Lalu, tadi kami makan malam bersama, aku, Seok-Hoon, Hana dan Hae-il. Hae-il memancing pembicaraan dan membuka topik bahwa Yohan dekat denganku akhir-akhir ini, aku tidak memungkirinya. Aku merasa pernyataan Hae-il membuat Seok-Hoon memarahiku. huuhfft... aku tak tahu, aku hanya merasa bahwa ia mulai pembicaraan denganku karena topik yang diangkat oleh Hae-il, jika Hae-il tidak menyatakan apapun, aku tidak yakin bahwa ia akan bertindak sesuatu.
"Kau tahu pria punya insting berburu bukan? semakin banyak pria mengejar wanita itu, ia akan lebih tertarik... " ungkap Yoong-Jae.
"Tapi itu membuatku kesal. Seandainya saja kami tidak berkumpul, ia-pun tidak akan bertindak apapun,, mengapa ia harus bertindak sekarang...
"Kau kesal karena waktunya, atau karena ia bertindak ?" tanya Sera.
"tepatnya pemicu yang membuatnya bertindak yang membuatku kesal... Aku bukan piala bergilir yang perlu diperebutkan... Aku juga tidak tertarik dengan pria yang menyukaiku hanya karena aku disukai pria lain..
"Aku mengerti maksudmu.. tapi aku rasa kalian-pun sudah cukup dekat bahkan sebelum Hae-il memancingnya seperti itu. Aku rasa ia hanya kembali mengingat dirimu ," ungkap Sera.
"dan sebelumnya ia lupa denganku padahal kami tinggal di rumah yang sama... " ujarku lagi.
"Aku rasa kalian-pun kebetulan berada di tempat dan waktu yang sama tadi, hanya kalian berempat, membuatnya mampu memberanikan diri mendekatimu." ujar Sera lagi.
"Kau tahu, terkadang kau juga terlihat sangat jutek dan menakutkan... " tambah Yoong-Jae, diikuti Sera yang memukul tangan Yoong-Jae untuk membuatnya berhati-hati dalam berbicara.
"Para penghuni pria di rumah ini... Walaupun kata-katanya terdengar menyebalkan (kata-kata Yoong-Jae) tapi aku rasa Seok-Hoon pun dapat memiliki keraguan untuk mendekatimu... entah dengan lasan apapun ... " lanjut Sera yang tetap berusaha menenangkanku.