Hari ke-14
Pagi ini aku berdiam diri cukup lama di depan meja rias-ku, meja rias ku yang berada hampir sejajar dengan ranjangku, terletak di paling kiri bersebarangan dengan pintu masuk kamar kami dan tepat di sebelah kiri perbatasan antara kamar dan walk-in-closet. Untuk kesempatan yang aneh, aku memikirkan Kang-Min. Secara karakter, Kang-Min yang paling cocok denganku, walau hal paling buruk saat kami bersama adalah suasana menjadi sangat sunyi terutama ketika kami tenggelam dalam pikiran kami masing-masing. Setelah beberapa waktu kebersamaan kami, aku cukup penasaran kenapa aku tidak menerima sticky notes darinya. Aku memang mencurigai bahwa Kang-Min mulai tertarik dengan Yuri sejak kebersamaan kami di kliniknya, namun kenyataan kali ini menghantamku cukup keras. Aku tidak mengerti mengapa Kang-Min tidak mengirimi-ku sticky notes dan malah Seok-Hoon dan Yohan yang memberikannya padaku. Sesungguhnya aku sangat membencinya karena Seok-Hoon mengirimkan sticky notes padaku tepat setelah pembicaraan kami berempat malam itu.
Aku kembali pada kenyataan (sebelumnya aku masih terbang di alam mimpiku) saat Yuri keluar dari ruang ganti di sampingku.
"Ada apa denganmu? Kau tidak siap-siap untuk berangkat kerja?" pertanyaan yang keluar dari Yuri hanya untuk memastikan aku tersadar dari lamunanku.
"Iya, aku perlu bersiap-siap " responku.
"Ada yang kau pikirkan? " tanyanya lagi padaku
sesungguhnya aku benar-benar ingin bertanya padanya 'bukankah kau juga menerima surat yang aneh? bukankah seharusnya sticky notes yang kita dapatkan tertukar?'
"aku tidak bisa menyatakannya saat ini" , ia mengangguk sambil menuju meja riasnya.
Aku menemui Seok-Hoon di sebuah restaurant western pada sore hari setelah aku menyelesaikan pekerjaanku hari ini. Aku dengan enggan menemuinya, namun tidak ada opsi menolak kencan hari ini.
"kau sudah lama?" tanyaku. Ia menggeleng
"lebih lama waktumu mendiamkanku… " jawabnya setengah becanda.
"apa kau perlu mengungkit hal itu lagi ?" tanyaku sedikit kesal dengan pertanyannya.
"aku tak bermaksud " katanya sambil berusaha menutup mulutnya lagi, aku yakin sebenarnya ia masih ingin melanjutkan perkataannya.
"kau tahu, aku terbiasa untuk mencoba membuat makanan western seperti ini…" jelasnya berusaha melupakan pembicaraan kami sebelumnya.
"kau harus memasakkanku makanan western yang kau kuasai…"
"kau harus memakannya di depan mataku sehingga aku dapat mengetahui ekspresimu dan kau harus berterima kasih secara langsung padaku…" aku tersenyum, mengiyakan pernyataanya.
"kau tahu, makanan western adalah makanan favoritku.." sambungku.
"kau hanya mau aku memasakkan sesuatu untukmu, kau memang memiliki keahlian itu…
"keahlian apa?
"keahlian untuk membuat seseorang melakukan yang kau inginkan… " ujar Seok-Hoon.
"darimana kau menyimpulkannya?
"tidak tahu, aku melihatnya seperti itu…
"sejujurnya, aku merasa bersalah padamu… aku seharusnya menyapamu, berterima kasih atas usahamu dan kimbab itu… " ungkapku. Ia hanya melihatku dengan mata sedikit terkejut.
"aku tidak bermaksud membuatmu merasa bersalah.. Aku hanya mengungkapkan apa yang kurasakan, kurasa kau menghindariku..
"aku merasa kita menghindari satu sama lain..
"aku rasa begitu.." kami kembali terdiam, berusaha mengingat apa yang terjadi di minggu pertama itu, yang menyebabkan pembicaraan kami terputus.
Makanan bergaya itali di sajikan di depan kami. Kami memesan hungarian soup, cheesy mushroom, carmanera gambas, pasta dengan udang yang cukup besar, bolognaise potato beef, dan 2 gelas americano.
"Apa kau merasa senang dengan kencan kita ?" tanya Seok-Hoon saat kami sudah menghabiskan hampir setengah makanan kami.
"Aku menyukainya...
"Mana yang lebih kau sukai? Kencan pertama kita, saat kita masak dan ke swalayan bersama atau saat ini ?" tanya Seok-Hoon secara mendetil. Aku membutuhkan waktu beberapa saat sambil beberapa kali memasukkan pasta ke mulutku.
"aku menyukai saat kita ke swalayan dan memasak bersama hari itu ?
"mengapa ?"
"karena saat itu, aku tidak memiliki beban untuk mengenalmu..." jawabku lagi.
"Rael, apa yang membuatmu merasa terbebani dengan kencan kita saat ini ?" tanyanya, sepertinya ia menyadari perubahan sikapku padanya.
"Beberapa kali kau mengungkit tentang tindakanku mendiamkan-mu, mengapa kau melakukannya ?" tanyaku balik.
"Aku hanya bermaksud bercanda...
"mungkin sebenarnya aku tersinggung dengan pernyataanmu... " sesungguhnya aku ingin berkata panjang lebar padanya, menanyai Seok-Hoon, 'mengapa kau mengirimkanku stickynotes itu, padahal kau bersama dengan Hana selama ini, itu juga yang menyebabkan ku tidak ingin berusaha untuk berbicara dengannmu'. Selain itu, perkataanya seolah-olah menyudutkanku dan aku yang salah atas komunikasi kami yang retak waktu itu. Aku masih banyak terdiam saat bersamanya karena aku masih terus memikirkan apakah aku perlu menyampaikan perasaanku ini atau tidak padanya.
"Sesungguhnya, aku merasa tersinggung dengan pernyataan dan perbuatanmu... " ungkapku pada akhirnya, aku tidak mampu untuk menahan kekesalanku padanya saat aku berada di hadapannya. Ia sedikit terkejut dengan pernyataanku, dan ia menegakkan posisi duduknya sedikit menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi di belakangnnya. .
"Apakah dinner kita bersama Hae-il dan Hana begitu mempengaruhi mu sehingga kau mengajakku berbicara persis setelah makan malam itu. Bukankah sebenarnya ada hari-hari lain dimana kamu bisa mengajakku berbicara atau jika kau ingin memarahiku ?" Ceceran pertanyaanku ini membuatnya terdiam selama beberapa waktu, aku ingin menatapnya namun aku mengurungkan niatku dan ku malah menatap makanan yang dihadapanku sambil ia mulai merespon pertanyaanku.
"aku mengerti kenapa kamu merasa seperti itu, ya aku merasa sedikit tersentil. Percakapan kita malam itu memang jadi pemicu utama aku ingin berbicara serius denganmu. Tapi bukan berarti aku tidak ingin bicara denganmu di waktu-waktu lain. Sebenarnya, sudah beberapa hari ini aku ingin mengobrol denganmu, tapi entah kenapa kemarin menjadi momen yang pas untukku. Aku tidak menyangka bahwa kau akan tersinggung dengan perbuatannku..."
"Apa alasanmu mengirimkan sticky notes itu padaku, dan bukan pada Hana ?" tanyaku lagi padanya.
"Karena aku ingin membuat kenangan yang menyenangkan denganmu. Aku perlu mengenalmu lebih jauh sehingga aku tidak akan menyesal dengan keputusanku nanti... " ungkapnya ringan. Jawabannya memang menurunkan kekesalanku padanya. Aku merasa penjelasannya masuk akal dan aku menerimanya. Aku sadari bahwa tiga hari yang kuhabiskan di minggu kemarin membuatku tidak terlalu mengenal rumah itu, dan membuat kami kesulitan memperbaiki pembicaraan kami.
"Apakah ada momen di mana aku melewatkan waktu untuk berbicara denganmu ?" tanyaku lagi, ingin memastikan pikiranku mengenai beberapa momen kami bersama yang terlewat.
"Saat kita bersama di kencan bersama itu.
"Tapi kita tidak dapat kesempatan untuk kencan bersama, kau bersama Hana dan Bora.
"Aku tahu, tapi sebenarnya kita bisa saling mengobrol agar kita bisa lebih mengenal lebih baik... dan kau menghindari tatapanku selama kencan itu. Kau menghindariku karena kau melihatku bersama Hana ?"
"Ya... " jawabku pada akhirnya.
"Aku memang dekat dengan Hana, tapi itu tidak berarti aku tidak bisa mengenalmu lebih jauh. Aku masih mencari tahu siapa yang paling cocok denganku." terang Seok-Hoon padaku. Aku tahu, bahwa sampai hari kebersamaan kami ke-30, kami memang masih berproses untuk berkenalan satu sama lain, tapi kebersamaan mereka di depan mataku, membuatku meraasa mereka tidak bercelah.
"Kau tidak pernah menunjukkannya saat kau tertarik pada seseorang ?" tanya Seok-Hoon lagi memecahkan pikiranku.
"Aku berusaha menunjukkannya... " nyataku sembari masih berpikir apakah ia tidak menyadari bahwa aku memang menyukainya. Apakah terputusnya hubungan kami karena ia merasa aku tidak menyukainya? karena aku tidak berusaha apapun. Aku melihatnya sembari menyeruput ekspresso ku dan menyadari bahwa ia ingin melontarknya pertanyaan
"Apa kau pernah menunjukkan sesuatu padaku ?" , pertanyaannya membuatku kembali mereflesikan apakah aku pernah menunjukkan sesuatu itu padanya, apakah semuanya benar kesalahanku karena aku tidak pernah memberikan simptom apapun yang membuatnya sedikit saja mengetahui perasaanku yang menyukainya. Ia menyadari bahwa jawabannya 'tidak'.
"Jika kau memiliki sesuatu yang kau rasakan, aku harap kau bisa menunjukkannya sehingga orang lain dapat menyadarinya setidaknya orang yang hatimu tuju, " ungkap Seok-Hoon dengan intonasi yang lebih halus dari biasanya.
"Diantara 3 kali kita bersama, seperti yang kau tanyakan padaku sebelumnya, manakah yang paling kau sukai ?" tanyaku akhirnya menjadi diriku kembali yang memang suka bertanya jika hanya berdua-an tentunya.
"Kencan pertama kita...
"Bagian apa yang paling kau sukai ?" tanyaku lagi.
"Dirimu.... " membuatku kehabisan kata-kata, bagaimana ia bisa menunjukkan perasaannya seeksplisit itu padaku.
"Apa? yang mana?" tanyaku lagi.
"Kau menjadi lebih ceria dibandingkan kita bersama, tidak sependiam biasanya. Kau mampu mengutarakan pandanganmu, dan itu menarik bagiku... " terang Seok-Hoon dan otakku berkata :
'bagimu menarik? dan bagiku memusingkan, karena pandangan kita sangat berbeda di mana dia memprioritaskan pekerjaan sedangkanku memprioritaskan hubungan dengan orang terdekatku, lalu bagaimana nanti kita bisa bersama, bukankah aku akan banyak terluka?'
Sesungguhnya aku cukup merasa puas dengan pertemuanku dengan Seok-Hoon, minimal ia membuat pikiranku yang terus berputar-putar dan bertanya-tanya menjadi tertata lebih baik dan jelas.