Seok-Hoon datang ke kamarku dan mengajakku mengobrol di luar, aku menyadari Hana melihatnya memanggilku dan mendengar sedikit pembicaraan kami.
"apa yang kau lakukan?" tanyaku sedikit tergaggu dengan dia yang menggajakku tiba-tiba.
"tidak ada apa-apa… tidak ada larangan juga bagiku untuk mengajakmu berbicara," jawabnya dengan santai.
"bukankah yang lain akan mencurigai bahwa kau teman kencan keduaku?" tanyaku padanya, kami berdiri di lorong antar kamar kami, maksudnya antara kamar pria dan wanita di lantai 2. Aku yang mudah khawatir ini merasakan keresahan yang amat sangat ketika ia memanggilku di depan yang lain.
"tidak juga, bisa saja mereka mencurigai bahwa kita adalah teman kencan pertama," jawabannya bersamaan dengan keluarnya Hana dari kamar dan melewati kami yang masih berdiri di lorong. Sedangkan Yuri, dapat melihat kami dari kejauhan karena saat ini ia berada di teras belakang lantai 2. Lantai 2 ini berbentuk U (U-Shape). Di sebelah kanan lantai 2 ada tangga yang menyambungkan lantai 1 dan lantai 2, sedangkan di sisi kiri lantai 2 ada kamar wanita. Kamar wanita terletak paling jauh dari tangga dan perlu melalui ruang tamu lantai 2, teras kecil di lantai 2 serta kamar pria.
"ayo, kita beli bahan makanan… bantu aku untuk membuat makanan…." sambung Seok-Hoon setelah beberapa saat pembicaraan kami terhenti.
"apa sudah jatahmu kembali untuk memasak? Bukankah kau harus mengajak teman belanjamu ?" otakku masih berpikir karena baru saja kemarin aku bersama dengan Seok-Hoon memasak dan sekarang sudah gilirannya lagi untuk memasak? memang masakannya terlalu enak untuk dilewatkan, tapi bukankah terlalu kejam jika panitia memintanya untuk memasak setiap hari.
"aku sudah janjian dengannya dan dia akan mengajak pria yang menarik perhatiannya dan aku memilih untuk mengajakmu.." nyatanya terang-terangan padaku, membuatku terkejut, selama beberapa saat aku terdiam.
"sejak kapan kalian bersekongkol seperti itu, ini baru hari ke-5 dan kalian sudah bersekongkol ? tanyanya menyelidiki Seok-Hoon.
"aku tidak bersekongkol, aku hanya berteman," tegasnya..
"apa kau juga memiliki keahlian berdebat seperti Yuri… " tanyanya lagi mencurigaiku.
"maksudmu?
"kau tidak tahu bahwa hari ini Yuri dan Yohan bertengkar kembali? Beberapa di antara kita melihat mereka bersama dan menemukan mereka bertengkar sepanjang waktu selama hendak menyiapkan makan malam hari ini, baru saja… "
"aku melihat mereka saling menyukai… " nyataku pada Seok-Hoon.
"aku rasa tidak begitu… atau, kalaupun mereka saling menyukai, hal-hal kecil mudah menyebabkan mereka bertengkar… karena itu…. Kita beli bahan makan bersama…
"baiklah sebentar, aku akan berganti baju dan mengambil mantelku….
"aku akan menunggumu di bawah.." ujar Seok-Hoon sambil berjalan melewati ruang tamu lantai 2 dan menuruni tangga. Aku segera masuk kembali ke kamarku dan bersiap untuk berganti pakaian.
Saat aku selesai mempersiapkan diriku untuk berbelanja, aku melewati kamar pria di lantai 2 dan melihat Yohan bersama dengan Yoong-Jae.
"apa yang sedang kalian lakukan?" tanyaku pada mereka
"tidak ada, ia hanya mengobati sedikit lukanya…" jawab Yoong-Jae…
"apa yg terjadi?" aku melihat Yohan mengobati beberapa luka kecilnya….
"bukan masalah, hanya terkena sedikit minyak panas," terang Yohan
"mengapa kamu mengajak bertengkar jika kau tidak bisa menanganinya" omel Yoong-Jae
"aku tidak bertengkar dengannya… aku hanya bercanda dengannya" jawab Yohan diiringi Yoong-Jae yang bangkit berdiri dan berjalan bersamaku menuruni tangga menuju ke parkiran mobil.
"aku tidak mengerti mengapa mereka bertengkar" ungkap Sera sewaktu kami ada di dalam mobil
"jika tak kuhentikan tadi, lemparan pecah belah terjadi di rumah ini" timpal Young Jae "memang terkadang Yohan tidak bisa melihat situasi"
"aku tidak pernah dekat dengan Yuri, aku merasa memang dia cukup menyeramkan" lanjut Sera.
"aku juga belum pernah berbicara dengannya…" sambung Seok-Hoon. Aku masih menerka-nerka apa yang terjadi tadi.
"kepribadian mereka sama, mereka sangat bersemangat namun di sisi lain mereka sangat sensitif, mereka saling mengejek dan berakhir dengan kekesalan" sambung Sera.
"aku rasa memang Yohan sering mengejek seseorang, aku rasa itu gayanya untuk mengajak seseorang dekat dengannya" aku menimpali
"aku rasa pun begitu" ungkap Yoong-Jae.
"sepertinya Yuri lebih cocok dengan seseorang yang lebih hangat, bukan yang cuek seperti Yohan… penyelenggara salah untuk membuat mereka berkencan" ungkap Sera.
Seok-Hoon tidak terlalu banyak berbicara kali ini, karena ia sibuk menyetir mobil yang kami tumpangi. Aku sadar kalau teman persengkongkolann Seok-Hoon adalah Sera dan aku-pun mengetahui bahwa Sera tertarik pada Yoong-Jae, entah bagaimana caranya mengajak Yoong-Jae untuk pergi berbelanja hari ini. Kami tiba di swalayan yang cukup besar dengan beranekaragam produk berjajar di etalase toko tersebut.
"apa kamu menyukainya?" tanya Seok-Hoon sewaktu kami melewati counter kecil tempat Daifuku dijajakan. Aku mengangguk.
"ambillah, aku akan memberikannya untukmu" lanjutnya. Dengan gayanya, ia berusaha meyakiniku untuk mengambil daifuku itu.
"apa yang sudah kalian beli?" tanyaku saat menyusul Sera dan Yoong-Jae yang sudah memboyong keranjang belanjaan. "daging, telur, zuchini.. Aku rasa cukup untuk hari ini" jawab Sera
"tunggu sebentar aku akan membeli beberapa bahan untuk kimbab" Seok-Hoon
Kami hanya begong melihat tindakan implusif-nya, entah apa yang ada di benaknya sehingga ia berencana membuat kimbab…
"apa kita akan membeli cake?" tanya Sera dengan semangat..
"kue-kue ini sangat menarik, tapi barusan aku membeli daifuku, bagaimana menurutmu?"
"daifuku itu enak… daifuku untuk hari ini sepertinya lebih baik"
Lalu, kami membeli 12 daifuku dan 12 macaroni utk cemilan malam kami..
Sesampainya kami di rumah, aku dan Sera mengeluarkan bahan-bahan makan yang sudah kami beli.
"Apa yang akan kau buat?" tanyaku pada Sera karena sesungguhnya aku tidak tahu apa yang akan dibuatnya.
"Daging sapi tumis saus gochujang..." respon Seok-Hoon, entah dari mana dia, namun ia bisa menjawab pertanyaan Sera, padahal Sera tepat berada di sebelahku. Seok-Hoon menggulung lengan pakaiannya yang panjang, agar ia bisa bertindak lebih leluasan untuk mempersiapkan menu hari ini. Seok-Hoon
mulai dengan mengeluarkan sebuah kotak kosong dari lemari penyimpanan di dapur, lalu mengeluarkan potongan daging berbentuk dadu itu yang telah dibeli. Ia mulai memarinasi daging sapi itu dengan saus gochujang, menambahkan lada bubuk, dan sedikit minyak. Sambil menunggu bumbu-bumbu itu meresap ke potongan-potongan daging, Seok-Hoon mulai untuk memotong bawang bombay dan zucchini yang sebelumnya sudah dicuci oleh Sera.
Di sisi lain, Sera sibuk mempersiapkan adonan tepung untuk membuat Hobak jeon. Aku dan Yoong-Jae yang hanya tim hore hanya membantu mereka menyiapkan peralatan makan hari ini di meja makan.
"Kau mau membantuku ?" tanya Seok-Hoon saat aku masih menata sendok di atas meja makan.
"Apa yang kau perlukan ?" tanyaku pada Seok-Hoon.
"Bantu aku membuat telur dadar gulung, aku sedang mengiris zucchini ini, untuk dimasukkan ke telur.
"Aku perlu membuat telur kocok itu bukan ?" tanya ku laagi pada Seok-Hoon diikuti anggukannya. Aku mengambil mangkok bersih dan mengeluarkan 5 butir telor dan mengocoknya.
"Melihatmu memasak terasa sangat mudah...." nyataku pada Seok-Hoon yang sudah mengambil alih mangkok telur kocok itu dari tanganku dan siap untuk mulai mendadarnya.
"Kau memujiku ?" tanya Seok-Hoon, aku mengangguk. Setelah telur itu selesai didadar, aku membantu Seok-Hoon untuk mengisi telur dadar tipis itu dengan daging suwir, zucchini dan wortel yang sudah matang.
"Aku-pun merasa begitu... " respon Sera.
"Aku merasa masak tuh tidak mengasikan tapi melihatmu memasak terasa asik dan tampilan warna makannya pun terasa enak... " lanjutku.
"Kau sudah ingin makan ?" tanya Yoong-Jae padaku, aku mengangguk lagi.
"Bukankah maksudmu, kau ingin agar Seok-Hoon dan Sera memasak sedikit lebih cepat ?" ungkap Yoong-Jae meledekiku,
"Aku tidak bermaksud begitu... Kau tahu jika hasil masakanmu tidak enak, kau pasti tidak berminat untuk memasak lagi...
"Kau sedang curhat?" ejek Yoong-Jae padaku, aku tidak habis pikir mengapa Yoong-Jae sangat berani padaku, termasuk berani sekali mengajakku becanda.
"Yoong-Jae!!" teriakku padanya, diikuti Sera yang memberikan isyarat tangan padaku menyuruhku mengecilkan volume suaraku, walau ia juga ikut cekikan dengan ejekan Yoong-Jae padaku.
Setelah semua makanan siap, daging sapi tumis saus gochujang, hobak jeon, telur dadar gulung, lobak dan sawi kimchi. Kami berempat memanggil yang lainnya untuk makan bersama di meja makan. Hari ini semua penghuni berada di rumah sehingga kami dapat berkumpul bersama.
"Daging sapi ini sangat enak ," ujar Yoong-Jae memuji masakan Seok-Hoon.
"Ini sangat enak, aku belum pernah memakan masakan rumahan selezat ini," ungkap Hana dengan antusias.
"Kau memang sangat ahli memasak ," lanjut Hae-il.
"Jika kau tak keberatan, aku siap untuk menjadi penikmat makananmu setiap hari..." ungkap Bora dengan penuh semangat, sedangkan Seok-Hoon hanya tersenyum sedari tadi sambil beberapa kali mengucapkan terima kasih atas pujian yang diterimanya.
"Kau siap-kan untuk memasak setiap hari ?" goda Yoong-Jae pada Seok-Hoon.
"Apa yang kaumaksudkan ?" tanya Seok-Hoon berpura-pura tidak mengerti pertanyaan Yoong-Jae walau pada akhirnya ia tertawa. Aku hanya memperhatikan bahwa sedari tadi Yohan dan Yuri tetap diam, tidak bereaksi pada apapun percakapan yang kami lakukan di meja makan ini.
"Kami memiliki beberapa hidangan penutup, kalian mau ?" tanya Sera sambil mengeluarkan beberapa dessert yang kami beli dari lemari pendingin dan membawanya ke meja makan.