"apa yang kau lakukan?" tanya Yohan padaku saat melihatku duduk di ruang tamu lantai 2. Kami telah menyantap makan malam kami, lalu aku teringat akan pekerjaan-ku yang belum kuselesaikan yaitu mengirimkan email ke salah satu klien kami, laporannya harus dikirim malam ini sehingga segera setelah selesai makan aku memilih kembali ke kamarku, mengambil laptop dan menyelesaikan pekerjaanku sebelum aku diteror oleh atasanku.
"hanya mengerjakan sedikit kerjaan untuk besok, mengapa kau tidak makan tadi? Apakah masakan kami begitu tidak enak?" tanyaku, lebih banyak daripada pertanyaannya.
"mengapa kau menyangkutkannya dengan tidak enak? Aku memang tidak berselera untuk makan. Apakah pekerjaanmu ribet?" tanya nya sambil menengok layar laptopku.
"yaa bisa jadi….” Jawabku dengan mataku yang masih berfokus pada layar laptopku, 'sedikit lagi akan selesai' pikirku.
"apakah kau juga akan mengajak ku bertengkar?" aku rasa sini sensitif manusia ini kembali keluar, padahal aku hanya terlalu berfokus pada pekerjaanku sehingga aku menjawabnya dengan terlalu singkat. Aku kembali teringat pernyataan Seok-Hoon, apakah aku memang seahli itu berdebat? Dalam satu hari, dua pria menyebutkan bahwa aku ahli berdebat. Aku merasa menemukan skill baruku di acara ini 'new skill unlocked', the weird thought of mine.
"bukankah semua perkataan mu memang memancing keributan?" jawabku santai sampai mencomot sepotong macarons dan menutup laptop yang sedang kugunakan. Akhirnya aku berhasil menyelesaikan pekerjaanku, menutup laptopku sebelum ada kegaduhan untuk kedua kalinya hari ini karena aku akan bertengkar dengan Yohan apabila aku tidak menutup laptopku sekarang. Aku menyadari bahwa aku menjadi orang yang sangat berbeda ketika aku sedang bekerja, sesungguhnya aku sangat tidak suka diganggu saat aku bekerja.
"apa perkataanku yang membuatmu merasa aku mengajakmu bertengkar ?" tanyanya lebih tenang setelah aku menutup laptopku dan memperhatikannya dengan lebih baik.
"jawaban cuekmu, terkesan asal bagiku… dan mungkin sensitif bagi sedikit wanita.." responku padanya.
"sensitif ?", ia mengulang pernyataanku sebelumnya.
"aku tak tahu apa yang membuat mu bertengkar denganya hari ini… tapi, mengingat waktu kita bersama masih lama sebaiknya kita menjaga hubungan kita satu sama lain," ungkapku, entah mengapa aku menasihatinya.
Aku pun melihatnya beranjak menuju kamar wanita di lantai 2 dan mengajak Yuri mengobrol, mereka berada di teras lantai 2 saat ini.
"apa kamu yang menyuruhnya menemui Yuri ?" tanya Yoong-Jae…
"Aku tidak menyuruhnya, aku cuma menyatakan bahwa kita perlu menjaga hubungan di sini karena waktu kita bersama masih lebih dari 20 hari. Tentunya, mereka tidak mungkin saling menghindari terus-menerus selama 20 hari ke depan, bukan ?"
"dia sepertinya menyukainya, tapi aku-pun merasa mereka..." lanjut Yoong-Jae
"kau sempat berbicara dengan Yuri?" tanyaku
"belum, kau teman sekamarnya, kau pasti lebih mengenalnya…"
"tidak juga… aku merasa asing dengan teman sekamarku…
"memang terkadang orang terdekat dengan kita adalah orang yang paling tidak bisa kita kenali… aku-pun tidak mengerti alasan Yohan bersikap seperti itu…
"aku yakin ada sesuatu yang terjadi di antara mereka sewaktu mereka berdua… " terang Seok-Hoon, yang muncul entah dari mana, lalu duduk di antara aku dan Yoong-Jae. Pernyataanya membuka black box di otakku.
"maksudmu, mereka kencan hari ini?" tanya Yoong-Jae, sepertinya Yoong-Jae memiliki black box yang sama denganku.
"aku rasa begitu" lanjut Seok-Hoon.
Tiba-tiba Hana datang dan memberikan kode untuk memanggil Seok-Hoon ke bawah. Seok-Hoon pun mengikut ajakan Hana dan meninggalkan aku kembali berdua dengan Yoong-Jae.
"Aku rasa Hana tertarik pada Seok-Hoon" nyata Yoong-Jae padaku ketika Seok-Hoon sedang menuruni tangga menuju ke lantai bawah, aku menggangguk.
"Kamu tahu siapa yang mulai menyukaimu?" tanyaku padanya dan ia menjawab dengan sedikit anggukan tak yakin. Sejujurnya, aku masih penasaran apa yang terjadi diantara Yuri dan Yohan.
"Bagaimana denganmu, kau tahu siapa yang mulai menyukaimu ?"
"Aku tidak yakin dengan itu, aku merasa ia masih ingin mengenal lebih banyak wanita di rumah ini." responku. Lalu Sera dan Bora muncul dari tangga, ikut bergabung dengan aku dan Yoong-Jae, tentunya Sera mengambil posisi di sebelah Yoong-Jae dan Bora menempati posisi di sebelahku. Sera dan Yoong-Jae terlihat semakin dekat, mereka seperti hendak saling mengenal lebih jauh.
"Bagaimana teman kencamu hari ini, Yoong-Jae ?" tanya Bora blak-blakan seperti biasanya. Yoong-Jae tidak langsung merespon pertanyaan Bora karena sepertinya itu membingungkan baginya, kencan hari ini yang diatur penyelenggaran atau kencan kami ke supermarket tadi.
"Aku rasa bagi mayoritas pria, ia wanita yang menarik, pembicaraan kami mengalir dengan lancar ?" jawab Yoong-Jae. Jawaban Yoong-Jae membuatku berpikir apakah teman kencan kedua Yoong-Jae adalah Sera, sehingga mereka melakukan hampir dua kali kencan hari ini, atau sebenarnya itu wanita yang berbeda sehingga Sera mencoba menjaga hubungan dengan Yoong-Jae dengan mengajaknya ke supermarket hari ini.
'Huuhfftt, memikirkan ini benar-benar membingungkan bagiku...'
"Kencan mana yang lebih kau sukai, kencan pertama-mu, atau kencan keduamu ?" Bora memang selalu memiliki pertanyaan yang membuat orang lain kesulitan untuk menjawabnya.
"Aku lebih menyukai teman kencan pertamaku karena aku merasakan energi yang positif darinya, sedangkan teman kencan keduaku, ia memiliki pesona visual yang menarik.. "
Karena sudah ada 3 wanita di tempat ini, aku dengan mudah menduga teman kencan pertama dan kedua Yoong-Jae. Jawaban Yoong-Jae memperjelas semuanya, kencan pertamanya ada dengan Sera, dan kencan keduannya dengan Hana. Tapi, apakah jawaban Yoong-Jae benar-benar jujur atau karena ada Sera di sampingnya.
"Bagaimana denganmu, Bora? Kau lebih menyukai teman kencanmu yang mana?" tanya Sera sedikit menyelamatkan Yoong-Jae dari cecaaran pertanyaan Bora.
"hmm pria pertama yang berkencan denganku memiliki aura yang sangat kuat yang menarik perhatianku. Aku menyukainya. Dan pria kedua senang berpetualang seperti-ku, ia menyukai aktivitas fisik dan olahraga sepertiku. Aku belum bisa memilih diantara mereka." nyata Bora antusias dengan kedua teman kencan pria-nya. Pantas saja auranya terpancar semakin cerah semakin harinya.
"Bagaimana denganmu, Kang-Min" tanya Bora pada Kang-Min yang baru saja duduk di Sofa sebelah -ku.
"Aku masih memerlukan waktu untuk membangun koneksi personal dengan mereka berdua, mereka berdua memiliki kepribadian yang baik dan aku bisa merasakan ketulusan mereka berdua sewaktu berbicara denganku.." pernyataan Kang-Min terdengar begitu lembut seakan dia memujiku, padahal ia memuji dua wanita dalam waktu yang bersamaan. Di saat yang lain mulai menonton bersama acara TV bersama, aku pergi ke kamarku untuk memikirkan semua yang terjadi selama 5 hari ini.
Q. Apakah aku terganggu dengan Hana yang menunjukkan perasaan pada Seok-Hoon? Apakah aku mulai tertarik dengan seseorang di sini? Atau aku hanya penasaran karena Hana yang mengetahui bahwa Seok-Hoon berorientasi pada uang?
"apa yang membuatmu bertengkar dengannya?" tanyaku dari balik selimut saat Yuri baru saja memasukki dan menutup pintu kamar kami.
"tidak ada" jawab Yuri terdengar cuek juga. Sepertinya Yohan dan Yuri memiliki keahlian untuk menjawab dengan singkat sehingga terdengar ketus bagi sebagian orang.
"aku tidak pernah secara langsung melihat kalian bertengkar..
"apa kamu ingin melihat aku dan dia bertengkar secara langsung?" tanya-nya sambil tertawa.
"bukan itu maksudku….
"aku tahu… aku rasa, aku hanya tidak cocok dengannya… di hari pertama, kami sangat dekat" tuturnya.
Aku mengingat samar-samar kejadian di hari pertama, sejujurnya aku tidak terlalu mengingatnya, karena aku terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri untuk beradaptasi di rumah dan lingkungan yang asing ini. Aku ingat bahwa banyak bercanda sehingga mencairkan suasana kami ber-10 yang awalnya tegang.
"aku tahu, dia tidak ada maksud jahat. Aku-pun tidak membenci-nya, namun terkadang kejahilannya berada di waktu yang tidak tepat. Itu yang membuat kami menjadi ribut. Aku tidak memukulnya, aku hanya hendak memukulnya dan ia menyenggol wajan yang berisi minyak panas dan melukai tangannya sendiri. Namun yang lain menyangka kami bertengkar hebat. Itu tidak seperti yang kalian bayangkan… kamu tahu bagaimana kami saling mengejek satu sama lain bukan?" ungkap Yuri, dan aku hanya mengangguk.
"dan kami sudah berbaikkan, barusan... " lanjut Yuri.