"Vin... Gimana rasanya pacaran sama cowo?" Tanya Darren dalam gelapnya malam. "Kenapa? Kamu penasaran? Jangan aneh-aneh lah! Posisimu gak cocok untuk percintaan seperti itu." Jawab Kevin sambil tersenyum kecil. "Vin... Bukannya cinta adalah cinta? Kenapa aku harus memikirkan posisi?" Pertanyaan Darren membuat Kevin tertegun. Dia segera duduk sambil menatap ke arah Darren. Darren yang melihatnya duduk tanpa alasan, ikut duduk juga.
Kevin : "Darren, apa yang ingin kamu ketahui sebenarnya?"
Darren : "Aku hanya penasaran! Ada beberapa teman sekolahku yang juga gay, jadi... Aku agak penasaran,nikmatnya dimana..." Suara Darren terdengar bimbang.
Kevin pikir daripada rasa penasaran ini disalurkan dengan cara ngaco, lebih baik dia yang mengajarkannya sendiri : "Tutup mata." Darren tertegun : "Ah! Kamu mau ngapain?! Tunggu aku gak mau ciuman sama pacar orang hahaha..." Kevin : "Dia cuma teman tidur, aku gak punya rasa sama dia. Jadi kamu gak perlu kebanyakan mikir. Tutup mata!" Entah apa yang merasuki Darren, dia menutup mata dan dadanya berdegup kencang.
Bibir lembut,hangat, dan berbau mint menekan bibir tebal Darren. Hanya sebuah kecupan biasa. Kevin segera menarik diri dan hendak bertanya, tetapi Darren malah maju dan kembali mengecupnya. Seolah kecupan tadi belum cukup, dia masih ingin merasakan lebih dan lebih. Kevin sontak mendorong bahu Darren : "Kamu yang ngapain! Darren, apa kamu tahu apa yang sedang kamu lakukan?" Darren membuka mata dengan perlahan : "Aku cuma... Ingin lebih..." Kevin melihat mata Darren yang berkaca-kaca sambil menggigit bibirnya. Hal itu membuat Kevin tidak tahan dan ingin merasakan bibir itu sekali lagi, tali logika terakhirnya copot malam itu. "Kamu masih penasaran kan.. Baiklah!" Kevin bangkit dan menarik Darren ke dalam pelukannya, tangannya terangkat sambil mencengkram tengkuk Darren.
Kali ini bibir mereka tidak hanya saling menempel, tetapi Kevin menggigiti bibir bawah Darren sampai dia membuka bibirnya karena sakit, kemudian lidah Kevin merangsek masuk dan menyapu tiap inci dari bibir Darren. Kevin sedang menunggu sampai Darren ketakutan dan melepaskannya, dia tahu betul respon dari pria straight akan seperti apa. Tetapi Darren bukannya ketakutan, malah mengeluarkan desahan kecil dari sela-sela ciuman mereka. Kevin terkejut, dan segera melepaskan Darren. "Celaka!" Hanya kata ini yang muncul dalam otaknya. Dari cahaya lampu tidur yang temaram, Kevin dapat melihat reaksi bocah itu dengan jelas! Dia bukan cowo straight.
Darren masih bingung kenapa Kevin malah melepaskannya untuk yang kedua kali. "Kamu..... Kenapa?" Tanya Darren dengan hati-hati. Kevin hanya menghela napas panjang, lalu berkata : "Mulai saat ini, jangan berani-berani mencari pria lain lagi! Tidur sana!" Kemudian dia beranjak menuju toilet dan melepaskan gairah yang tertahan. Dalam toilet dia terus membayangkan wajah Darren dan reaksinya barusan, dia tahu jika ciuman mereka berlanjut pasti akan berakhir buruk.
Sekembalinya dari toilet, dia melihat mata Darren masih terbuka lebar dalam kegelapan malam. "Kenapa gak tidur?" Darren menarik napas dalam lalu berkata : "Kamu sendiri ngapain di toilet lama gitu? Sama-sama cowo... Ngerti sendirilah!" Kevin terkejut dengan kejujuran Darren. Tapi dia pikir itu semua pengaruh dari hormone abg yang sedang menggebu-gebu. "Aku bantu." Kali ini giliran Darren yang melonjak kaget. Ciuman hanya untuk meyakinkan perasaannya, tapi kalau lebih dari itu... Dia Darren belum siap Kakak!
Kevin telah berdiri di sisi ranjangnya, lalu hendak membuka celana Darren : "Stop...! Aku... bisa sendiri!" Baru dia mau bangkit menuju toilet, tubuhnya telah ditahan oleh Kevin : "Sekalian, biar kamu gak macem-macem di luar!" Darren langsung berteriak : "Apa kamu pikir aku sudah gila? Ketemu sembarang cowo terus mau coba-coba?! Kalau kamu seperti itu, jangan samakan semua orang seperti kamu!" Kemudian dia melangkah menuju toilet dan meninggalkan Kevin yang mematung di tempatnya.
Kevin terkejut dengan ucapan Darren. "Tidak mau dengan sembarang orang" dan hanya penasaran jika melakukannya denganku. Kata-kata ini membuat Kevin ketakutan! Ada sebuah rahasia yang tertanam lama dalam dirinya, dia takut bocah itu... juga memiliki rahasia.
...................
Setelah malam itu, Darren pulang ke rumah dan beraktivitas seperti biasa. Sementara Kevin memilih untuk mengakhiri hubungannya dengan Leroy. Selain atasan dan bawahan tidak ada hubungan lain. Lalu dia bertukar asissten dengan sahabatnya Aska. Leroy menjadi assisten Aska, sementara asissten Aska yang bernama June menjadi assisten Kevin.
Aska tahu betul kisah hidup Kevin, mereka sudah berteman sejak masih di sekolah. Sementara keluarga Aska sudah bekerja turun temurun di perusahaan Candra. Tukaran assisten berarti hubungan Kevin dan Leroy telah kandas. Apa alasannya? Tentu saja karena ada pria lain yang menguasai pikiran Kevin. Aska sudah sering mengamati gerak-gerik Kevin. Tidak susah bagi dia menebak siapa pria itu. Tapi Aska juga tahu, pria itu harus menjadi rahasia. Selamanya.
.................
Suatu malam, Kevin yang mendatangi kamar Darren. Jika kamar Kevin berada di lantai dua, kamar Darren berada di lantai satu. Kamar mereka kurang lebih sama besarnya, yang berbeda cuma kamar Darren dilengkapi dengan berbagai jenis game. Dasar Bocah! Pikir Kevin.
Setelah berbaring, Kevin berkata : "Aku dan Leroy sudah putus." Sebelumnya Darren sudah mendengar sendiri dari Kevin kalau Leroy tidak penting baginya, jadi dia tidak terlalu kaget. Dan setelah ciuman malam itu, mereka berdua sama-sama kecanduan! Seperti ada magnet yang terus membuat mereka ingin mendekat. Darren memberanikan diri memeluk pria yang berada di sampingnya. Tubuh Kevin menegang karena kaget, tetapi dia tahu perasaan tidak dapat ditahan. Kevin balik memeluk Darren sambil mengecup keningnya dengan lembut. Dan entah kenapa, kebiasaan itu terus berlanjut hingga berbulan-bulan lamanya.
Ada sesuatu yang berubah dalam hubungan mereka. Pelukan, rangkulan, gandengan, bahkan ciuman telah menjadi hal lumrah. Kadang mereka merasa hubungan mereka seperti sepasang kekasih, tetapi mereka tidak pernah mengucapkan rasa suka mereka secata terang-terangan. Seolah semua mengalir begitu saja. Lebih tidak masuk akalnya lagi, mereka juga sering melakukan kegiatan "saling membantu" antara sesama pria.
Awalnya Darren sangat menolak tindakan tersebut, tetapi saat dia ulang tahun yang ke 18. Ciuman mereka memanas. Dengan dalih merayakan ulang tahun, mereka berdua menginap di Apartment. Lalu dari ciuman demi ciuman panas, perlahan berubah menjadi saling meraba. Kevin menuntunnya ke kamar dan pertama kali mengajarinya tentang hubungan "saling membantu" antar pria itu seperti apa. Erangan dan desahan mereka menyambut bertambahnya usia Darren. Sejak malam itu, hubungan mereka bertambah intim. Seolah batasan di antara mereka hanya setipis kertas yang tinggal disobek!
Mereka bahkan sering saling menggoda dalam tiap sudut rumah, entah itu di taman, ruang baca, atau atap. Tubuh mereka seperti ada magnet yang tidak bisa dilepaskan. Terutama Kevin, dia seperti kecanduan soal mencium Darren.
Tetapi Darren teringat akan ucapan Kevin soal "teman tidur" , abg polos seperti Darren mulai bertanya-tanya tentang posisinya dalam hati Kevin. Apalagi Kevin pernah bilang jika dia memiliki seseorang yang membuatnya yakin kalau dia adalah gay.
Suatu malam sebelum mereka tidur, Darren bertanya dengan gugup : "Vin, kamu pernah bilang kalau ada cowo yang membuat kamu sadar kalau kamu adalah gay. Siapa dia?" Akhirnya! Pikir Kevin. Hampir setahun hubungan tidak jelas mereka, dan Darren akhirnya ingin tahu. Kevin menghirup napas panjang lalu berkata : "Aku menulis sebuah diary. Dia selalu hidup dalam diary itu. Aku harap dia cukup hidup di sana. Maaf, aku tak bisa cerita."
Darren curiga pria itu adalah pria straight makanya Kevin harus begitu menahan perasaannya. Darren akui kalau dia cemburu, tetapi toh pria itu tidak bisa bersama dengan Kevin. Cuma hidup dalam diary, biarlah dia tetap hidup dalam diary! Pikir Darren.