"Kamu gay?! Sejak kapan?!" Pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Darren membuat Kevin tertawa gelundungan di ranjang. "Eh! Aku tuh nanya serius malah diketawain! Jawab woyyy!" Darren menendang Kevin dengan kesal. "Adoh! Bocah mulai kurang ajar yaaa..Berani nendang Paman sendiri!" Teriak Kevin. Setelah menenangkan diri, dia bicara tapi masih sambil menahan tawa "Cuma pertanyaan kamu itu loh... hahahaha... Udah jelas bawa cowo masih ditanyain gay apa bukan! Darren kamu membuatku sangat kecewa! Aku pikir kamu akan bertanya tentang hal yang lebih smart! Tapi kamu gay?? hahahaha... pertanyaan macam apa itu!" Kevin kembali terbahak-bahak sambil memukul ranjang.
Darren cemberut mendengar ucapan Kevin. Tapi dia sendiri juga bingung, kenapa malah menanyakan hal sekonyol itu. Cuma... "Ya udah, darimana kamu tahu kalau kamu gay!" Darren berusaha supaya pertanyaannya terdengar lebih keren. Tetapi Kevin malah tertawa makin menjadi-jadi.. Dalam bayangannya, dia pikir Darren akan bertanya "Sejak kapan kalian bersama, apa kamu sudah yakin untuk bersama dengannya, jalan kalian pasti susah.. dan kalimat pertanyaan ala orang tua lainnya" Dia tidak menyangka pertanyaan Darren sangat..... Ah iya, dia memang masih bocah! Karena selalu tampil sok dewasa, Kevin kadang lupa jika Darren masih bocah berusia 17 tahun. Lalu dia mengacak-acak rambut bocah itu dengan tangannya sambil berkata : "Darren, bocah... aku pacaran dengan pria jadi aku pasti gay! Darimana aku tahu kalau aku gay... Karena aku gak nafsu sama wanita. So simple bro!" Lalu dia melanjutkan tawanya.
Jawaban Kevin membuat Darren mundur beberapa centi dari tempat duduknya : "Kamu gak nafsu sama wanita... tapi sama pria..." Melihat wajah polos Darren yang ngeri dengan jawabannya membuat Kevin tidak tahan untuk menggodanya. Lalu dia mendekatkan diri pada Darren dan memandangnya lekat, lalu tangannya menahan pundak bocah itu sambil berkata sepatah demi sepatah : "Aku... nafsunya... sama pria... jika melihat bibir pria... rasanya... gak tahan...."
Mata Darren langsung terbelalak dan dia hanya terpaku melihat bibir tipis Kevin. Karena jarak yang sangat dekat, dia dapat mencium aroma napas Kevin yang berbau mint, bau rokok favorit Kevin.
"Tapi... aku... gak mungkin... nafsu.. sama.. bocah ingusan!" Hahahaha Tawa Kevin memenuhi ruangan itu. Darren tersadar dari lamunannya lalu langsung menimpuk wajah Kevin dengan bantal di sampingnya. "Siapa yang kamu bilang bocah!!! Aku gini-gini sudah pernah pacaran loh!" Hardik Darren menjaga harga dirinya yang minimalis. Kevin malah semakin ngakak mendengar jawaban itu. "Pacaran yang pegangan tangan aja gak pernah itu hahaha... Yang di tinggal cewe nya ke Amerika itu... hahahaha"
"Ah! Kamu tahu darimana?!" Darren merasa gak pernah membahas masalah detil seperti itu dengan Kevin. "Kemarin kata Tom pas datang nyari kamu.. Waktu kamu mandi dia cerita, katanya kamu seharusnya patah hati.. tapi berhubung gandengan aja belom pernah.. harusnya gak ada yang perlu diratapi." Jawab Kevin sambil menahan tawa. Tom adalah anak dari Kakak kedua Kevin, dia cuma lebih kecil beberapa bulan dari Darren.
Sejak kecil mereka bertiga bersahabat dekat, lebih tepatnya Kevin dan Darren bersahabat dekat lalu akan membully Tom bersama.
Darren kembali cemberut. Kevin melihat wajah Darren yang terbully jadi tidak tega. Lalu dia menghela napas panjang dan berusaha bicara serius. "Aku gak tahu sejak kapan aku mulai suka sama cowo. Tapi ada satu masa ketika aku berusia 15 tahun, aku malah berkhayal tentang seseorang. Lalu sejak itu aku semakin tidak tertarik pada wanita dan mulai menyukai pria yang mirip dengan bayanganku itu." Selesai bicara, Kevin mematikan lampu mejanya dan bersiap tidur. Dia pikir Darren akan cukup puas dengan jawabannya. Darren ikut mematikan lampu dan berbaring di samping Kevin. Saat Kevin pikir Darren sudah tertidur, tiba-tiba tangan hangat Darren menggenggam tangannya "Selama ini kamu pasti sudah sangat menderita." Mata Kevin perih, bukan karena ucapan Darren tetapi karena penderitaannya masih tertanam dalam benaknya. Dan dia tahu, duri itu akan terus tertancap di sana seumur hidupnya.
...............
Beberapa bulan kemudian Darren mulai jarang pulang. Alasannya sibuk mempersiapkan ujian masuk universitas dan sibuk mempelajari keadaan perusahaan, jadi untuk sementara dia akan tinggal di apartment yang dekat dengan kantor pusat.
Sebelum tidur, malam ini dia tiba-tiba teringat akan malam terakhir dia dan Kevin tidur bareng. Genggaman tangan itu dan suara isakan Kevin yang tertahan. Setelah beberapa kali melihat Leroy datang ke rumah mereka, ada perasaan tidak nyaman dalam diri Darren. Apalagi saat dia memergoki Kevin dan Leroy berciuman dalam kamar Darren. Di atas ranjang yang biasa menjadi tempat mereka saling curhat. Dia kesal tanpa alasan, lalu sejak hari itu sudah dua minggu lamanya dia tidak pulang. Tidak hanya menolak pulang, dia juga berusaha menghindari Kevin. Berkali-kali mereka berjumpa di kantor, Darren akan langsung kabur seperti melihat rentenir!
Sebenarnya Kevin tahu saat Darren melihatnya berciuman dengan Leroy, tanpa sadar dia melihat ke arah pintu dan melihat Darren tengah mengintip dari belakang pintu. Lalu dia buru-buru mendorong Leroy menjauh, dia tahu Darren pasti terkejut. Jadi dia memberi waktu untuk Darren mencerna itu semua. Tetapi dia tidak menyangka, dua minggu lamanya dan bocah itu masih menghindarinya! Kevin sudah tidak tahan lagi! Dia selalu memiliki rasa posesif yang berlebihan tentang bocah itu. Selama kabur 3 tahun, dia sering diam-diam datang ke sekolah Darren untuk sekedar mengintip keadaannya. Dan sekarang bocah itu berani menghindarinya! Dia pasti sudah bosan hidup!
Meski di depan Darren, Kevin selalu menjadi kakak penurut dan siap sedia baginya tetapi semua orang tahu betul sifat Kevin sangat buruk! Dia tipe perfeksionis yang akan langsung ngamuk saat kenyataan bertentangan dengan keinginannya. Dengan alasan mencari Darren, dia pamit pada kakak dan kakak iparnya : "Malam ini aku ikut Darren tidur di Apartment. Sekalian aku akan membawa beberapa pakaian ganti untuk dia." Kakaknya segera mengiyakan sambil titip membawakan beberapa makanan favorit Darren juga. Sementara Hardi hanya menatapnya dengan tajam tanpa kata. Kevin agak terkejut melihat tatapan Kakak Iparnya itu, tetapi dia segera menepis pemikirannya.
Di Apartment, Darren terkejut melihat Kevin yang berdiri dalam ruang tamunya. "Ngapain ke sini?" Tanya Darren. "Baju ganti dan makanan dari mami mu." Jawab Kevin singkat. "Oh! Taruh saja di meja, dan kamu..." Belum selesai bicara, dia melihat Kevin sudah masuk dengan langkah cepat ke dapur, lalu menaruh semua makanan ke dalam kulkas. Kemudian dia masuk ke dalam kamar dan menaruh pakaian Darren dalam lemari pakaian. Karena tubuh Kevin yang jauh lebih tinggi di tambah jalannya yang cepat, Darren kalah cepat. "Kok masuk kamar orang lain sembarangan sih!" Gerutu Darren. "Kamar orang lain?!" Kevin mengulangi ucapan itu dengan suara tegas. Darren sadar dia sudah salah bicara, di antara mereka tidak pernah ada perbedaan. Milikku adalah milikmu, dalam segala hal termasuk kamar. "Darren, perbaiki ucapan mu!" Kata Kevin dengan dingin. "Maaf. Tapi aku sudah dewasa dan kamu saja sudah punya pacar! Kita harus sadar akan batasan privasi masing-masing!" Balas Darren tak mau kalah. "Privasi masing-masing! Sudah dewasa?!" Kevin segera berjalan dengan cepat ke arah Darren, lalu dia mengangkat tangannya sambil mencengkram tengkuk Darren. Dengan tatapan tajam dia berkata : "Kamu tidak akan memiliki privasi meskipun kamu sudah menikah! Ingat itu baik-baik Darren!"
Darren tertegun dengan ucapan Kevin, itu pertama kali dia melihat Kevin yang selalu membuat orang kantor ketakutan. Mereka selalu bilang Kevin memiliki aura yang mendominasi, tetapi Darren pikir itu karena mereka belum mengenal Kevin yang sebenarnya. Sampai malam ini, Darren mulai bertanya-tanya... Apa cuma dia yang belum mengenal Kevin yang sebenarnya?
"Kenapa tidak pulang dan menghindari ku?" Kevin tipe yang to the point, dia tidak suka membuang waktu dengan basa-basi. "Aku tidak menghindari mu, kan aku sudah bilang..." Darren belum selesai bicara tetapi ucapannya sudah di potong Kevin. "Pikirkan baik-baik jawabanmu, kamu tahu aku tidak suka basa-basi." Selesai bicara Kevin duduk di ranjang sambil menunggu jawaban bocah di depannya. Sebenarnya Kevin tidak ingin menunjukkan sisi terburuk dari dirinya pada Darren, tapi dia tahu bocah itu tidak akan jujur jika dia tidak tegas. "Aku... cuma butuh untuk menenangkan diri." Jawab Darren dengan suara kecil. "Duduk di sampingku. Sini!" Perintah Kevin. "Aku berdiri aja.. aku lagi pengen berdiri." Balas Darren cepat. Kevin menghela napas lalu berdiri dan menuntun Darren untuk duduk di sampingnya. "Kamu pasti kaget karena melihat aku berciuman dengan Leroy. Maaf, mungkin kamu merasa jijik..." Kali ini giliran Darren yang memotong ucapan Kevin : "Kamu tahu aku... Ah! Aku bukan bermaksud untuk ngintip.. Dan bukan karena jijik... Aku cuma..." Darren bicara terbata-bata lalu menghentikan ucapannya. Kevin menyipitkan mata sambil menatap Darren dengan lekat : "Kamu cuma apa? Kamu bukan jijik tapi??"
Darren menghela napas panjang, lalu tiba-tiba dia memeluk Kevin : "Aku takut kalau kamu akan merasa cowo lain lebih penting, lalu mulai memiliki kehidupan sendiri. Jadi aku menjauh duluan supaya aku yang terbiasa lebih dulu." Suara Darren lebih terdengar seperti bisikan. Kevin membalas pelukannya sambil berkata : "Sampai kamu menikah pun aku akan selalu menjadi ekormu, jadi bagaimana mungkin aku dapat memiliki kehidupan sendiri? Bodoh! Isi otakmu ini apa aja sih?!"