"Aku pulang." Ucap Al setelah sampai dirumah Caca
"Gak mau mampir dulu?" Tanya Caca
"Gak usah. Udah malam." Jawab Al lalu pergi meninggalkan Caca tanpa berpamitan.
'Hati-hati ya sayang' Batin Caca
Caca langsung pergi kekamar dan berbaring di tempat tidurnya itu. Dia berusaha untuk tertidur namun tetap tidak bisa. Caca terus melihat kearah HP nya berharap Al mengirimkan pesan Ucapan Selamat Malam untuknya.
Lama Ia menunggu tapi tidak ada notif yang masuk.
Sampai akhirnya ada suara pintu yang terbuka.
"Woii" Teriak Devin
"Ngapain sih lo kesini?!" Tanya Caca ketus
"Wow. Galak amat. Lo PMS?" Tanya Devin
"Gak" Jawab Caca
"Lah terus?" Tanya Devin
Caca memeluk Devin. Lalu menangis.
"Lah malah nangis. Lo kenapa sih? Tadi galak banget sekarang malah nangis." Tanya Devin heran.
Tapi Caca tetap menangis. Mau tak mau Devin juga harus memeluk adik semata wayangnya itu. Caca menumpahkan semua airmatanya dalam dekapan Devin.
Setelah tenang baru Devin mengulang pertanyaannya.
"Lo kenapa sih Ca?" Tanya Devin
"Gue gak apa-apa" Jawab Caca
"Lo itu tadi nangis. Kalau gak ada apa apa ngapain lo nangis? Lo miring?" Tanya Devin
"Gue masih waras. Enak aja lo bilang gue udah miring. Lagian siapa yang nangis sih?" Tanya Caca
'Nih anak waras kagak sih?' Batin Devin
"Baju gue sampai basah kayak gini gara gara lo dan lo malah gak ngaku kalau tadi itu lo nangis?" Tanya Devin kesal
"Ck, iya iya gue nangis." Jawab Caca
"Kenapa? Gara Al?" Tebak Devin
Caca mengangguk.
"Dia ngapain lo? Dia gak macam-macamkan?" Tanya Devin
"Ya enggaklah. Dia gak b***t kayak lo."Jawab Caca
"Dah dipinjamin bahu malah ngatain. Dasar adik gak tau diri." Ucap Devin
Caca terkekeh.
"Emang ada apa sih sebenarnya?" Tanya Devin
Lalu Caca menceritakan semuanya dari bibit,bebet sampai bobotnya.
Devin mengangguk tanda mengerti.
"Mendingan gini aja deh, Lo chat Al sekarang!" Saran Devin
"Kalau dia udah tidur gimana?" Tanya Caca
"Gak ada sejarahnya Al tidur jam 10 malam. Palingan paling mentok jam 3 pagi." Jawab Devin
"Ha? Jam 3 pagi? Lo tau dari mana?" Tanya Caca
"Taulah. Kitakan begadang." Jawab Devin
"Kita? Maksud lo 'kita' itu siapa aja?" Tanya Caca dengan penekanan di kata 'kita'.
"Empat cowok tampan." Jawab Devin
"Siapa?" Tanya Caca
"Biasa. Gue,Al,Dio,Iyan." Jawab Devin
Caca mengangguk.
"Yaudah chat buruan." Ucap Devin
'Lah dia masih ingat. Kirain udah lupa' Batin Caca
"Malah bengong. Buruan." Ucap Devin sambil membalas chat dari teman temannya.
"Iya iya." Jawab Caca
CacaCarla : Al?
Delieve.
"Tumben delieve. Biasanya langsung read." Ucap Caca heran.
"Delieve? Chat gue barusan dia balas." Ujar Devin ikutan bingung.
"Coba gue chat lagi." Ucap Caca
CacaCarla : Al?
CacaCarla : Al?
AlannoGery : Ya
CacaCarla : Blm tidur?
AlannoGery : Blm
'Kok dia gak nanya balik sih?' Batin Caca.
CacaCarla : Kenapa?
AlannoGery : Ga ngantuk
CacaCarla : Ohh
Read.
CacaCarla : Kamu marah ya Al?
AlannoGery : Ga
CacaCarla : Maaf ya Al soal yang tadi:(
AlannoGery : Ya
CacaCarla : Jgn mrah yaa
Read.
Caca menghembuskan nafasnya kasar.
"Gimana?" Tanya Devin
Caca memperlihatkan chatnya yang tadi.
"Gila. Dingin banget." Ucap Devin
"Selama ini dia gak pernah sedingin itu." Ucap Caca menahan airmatanya.
"Ya ampun. Gue baru ingat." Ucap Devin yang mengundang rasa penasaran Caca
"Ingat apa?" Tanya Caca
"Gue kayaknya tau deh alasan Al kayak gitu sama lo." Ujar Devin yang mengundang rasa penasaran Caca bertambah.
"Kenapa?" Tanya Caca
"Tadi itu waktu pulang sekolah. Empat cowok tampan sama yang lain niatnya mau tanding basket. Tapi diperjalanan ban motor Al pecah karena kena paku. Yaudah goyang-goyanglah tuh motor. Dan hampir aja Al mau nabrak truk yang tiba tiba datang dari lawan arah. Untung Al pandai ngendaliin motornya. Coba kalau enggak? Gue gak jamin Al masih hidup. Terus Al malah nabrak dinding bangunan terus jatuh dan motor gedenya dia itu nimpa kakinya dia." Jelas Al panjang lebar
'Pantas Al tadi pincang.' Batin Caca
"Trus gimana?" Tanya Caca meminta kelanjutan cerita Devin
"Waktu kita ngehampiri dia, dianya malah kabur ketoko sambil terpincang pincang tuh kaki. Pulang-pulang dia bawa boneka,cokelat sama bunga. Kasihan banget gue lihat dia. Untung gue bawa mobil. Jadinya motor dia dibawa kebengkel, dianya sama gue." Jelas Devin lagi
Caca mengangguk tanda mengerti. Dia tau apa alasan Al bersikap seperti itu. Dia tau pasti Al kecewa.
"Pertandingannya gimana?" Tanya Caca
"Dibatalinlah." Jawab Devin
Caca tidak bisa membendung airmatanya. Dia menangis.
"Udah gak usah nangis." Ujar Devin menenangkan.
Caca mengangguk.
Setelah sampai dirumah, Al langsung pergi kekamarnya. Reno, Papa Al dan Susi, Mama Al heran melihat anak laki laki mereka.
"Al kenapa ya Ma?" Tanya Reno
"Gak tau. Coba mama cek dulu." Jawab Susi.
******
Susi pergi kekamar Al dan menemui Al sedang berbaring di kasurnya.
"Al?" Panggil Susi
"Ya Ma?" Jawab Al langsung bangkit dari tidurnya dan duduk di sebelah Susi.
"Kamu kenapa? Kok tumben cemberut gitu?" Tanya Susi
"Muka Al emang gini ma" Jawab Al
"Muka kamu itu biasanya datar. Ini kok malah cemberut sih? Ada masalah?" Tanya Susi lagi.
"Gak kok ma." Jawab Al
"Bohong. Coba cerita sama mama." Ucap Susi lembut.
"Al punya pacar. Namanya Rebecca Carla Bozares. Biasa dipanggil Caca. Al sa-"
"Tunggu." Ucap Susi memotong pembicaraan Al.
"Kenapa ma?" Tanya Al
"Bozares? Kayaknya mama pernah dengar." Ucap Susi
"Dia anak teman Papa ma." Ujar Al
"Ohh terus gimana kelanjutan cerita tadi?" Tanya Susi
"Al sayang sama Caca. Tapi Caca gak sayang sama Al. Al udah berusaha buat dia sayang sama Al. Tapi dia tetap belum bisa ma." Jelas Al
"Tunggu deh. Kalau dia emang gak sayang, ngapain dia nerima kamu?" Tanya Susi heran.
"Al yang maksa." Jawab Al
"Sayang, itu wajar kalau dia emang belum bisa. Kamu taukan kalau cinta itu gak bisa dipaksa? Kamu gak seharusnya kayak gitu." Ucap Susi
"Dia cinta pertama Al ma. Al gak bisa biarin dia direbut sama cowok lain. Kalau nanti cowok itu cuma mau macam-macam sama Caca gimana? Al gak mau Caca kenapa-kenapa ma" Jelas Al
Susi tidak bisa berkedip. Tidak biasanya Al bicara sepanjang ini padanya. Mungkin anak semata wayangnya ini benar benar jatuh cinta berat pada Caca.
"Bukannya Al perhitungan, tapi Al udah rela nyewa restoran mahal sampai uang jajan bulanan yang dikasih papa habis. Al juga hampir kecelakaan cuma karena mau beli hadiah buat dia. Sampai sampai kaki Al sebelah kanan terkilir ma. Tapi apa? Dia bahkan gak hargai itu semua. Al mau marah. Tapi gak bisa ma, Al tau kok cinta emang gak bisa dipaksa" Jelas Al lagi.
"Caca tau kejadian itu?" Tanya Susi
Al mengedikkan bahunya.
"Mungkin aja dia gak tau sayang. Lagian lebih baik dia jujur daripada bohongkan? Lagian cinta emang gak dipaksa. Kamu punya hak untuk suka sama dia, tapi dia juga punya hak untuk nolak kamu. Karena itu perasaan dia, dia yang tau perasaanya ke kamu itu gimana" jelas Susi
"Al tau ma, Al cuma kecewa aja" ujar Al
"Terus kamu mau gimana sekarang?" Tanya Susi
"Gak tau." Jawab Al dengan nada dingin
"Yaudah. Terserah kamu. Mama percaya sama kamu. Kalau kamu bisa selesaikan masalah ini." Ujar Susi
Al mengangguk.
"Nanti kalau kalian udah baikan. Kamu ajak Caca main kesini ya? Mama sama papakan juga mau ketemu sama calon menantu." Ucap Susi sambil terkekeh..
"Apaan sih ma." Ucap Al
"Yaudah mama pergi dulu. Dan soal uang jajan kamu yang habis itu. Nanti mama kasih lagi." Ucap Susi
Al mengangguk.
Al belum bisa tidur. Dia masih memikirkan chat dari Caca yang Ia balas tidak seperti biasanya. Sebenarnya saat Caca chat tadi, Al berada di taman tempat Ia dan Caca waktu itu pergi bersama.
Al menghembuskan nafas kasar.
'Mungkin ini jalan yang terbaik.' Batin Al