*** Una dan Sisil mengakhiri pembicaraan beberapa menit setelah itu. Sisil kembali pada pekerajaannya, sedangkan Aruna juga kembali pada pekerjaannya. Perempuan itu tidak tahu harus melakukan apa, sebab semua pekerjaan manejer sudah dibereskan oleh manejer lama di kafe Bagus. Bagai anak hilang Una dibuatnya. Ia hanya terduduk bingung tak tahu arah. Sudah bertanya pada manejer senior, tetapi jawabannya sungguh menyebalkan. “Bagus benar-benar mau nyiksa gue kayaknya!” geram Una karena menjadi manejer tidak seenak yang dirinya bayangkan. Demi apa, baru beberapa hari ia menduduki status barunya ini, tetapi hidupnya sudah tertekan. Namun, memikirkan gaji yang akan Bagus berikan padanya bulan depan, membuat Una bertekat untuk bertahan. Ketika semua pekerjaan yang seharusnya ia lakukan su

