"Aku pasti akan menjadi pelangimu, Van. Pelangi kebahagiaan yang akan kamu jemput. Aku pasti akan menjadi segalanya bagi kamu. Kita gapai semua dengan bersama. Kamu segalanya bagi aku, dan aku segalanya bagi kamu. Aku pasti akan membuat kamu bahagia dan tersenyum selalu, kalau aku berbuat salah aku minta maaf ya, tolong tegur aku dan jangan tinggalin aku." Vania mengangguk mendengar kata-kata manis yang Adev katakan padanya. Ia percaya pada Adev, Adev pasti akan menjadi pelanginya.
"Yuk pulang!" ajak Vania sambil menggenggam erat tangan Adev. Adev langsung menyetujui itu. Mereka berlari keluar dari taman dengan raut wajah riang nan gembira.
Adev memberikan helm kepada Vania dan langsung mengenakan helm tersebut kepada kepala Vania, tak lupa untuk mengaitkan kaitannya juga. Saat Adev melakukan hal tersebut, Vania menatap wajah tampan Adev dari jarak yang sangat dekat, ia bisa melihat bagaimana napas Adev yang memburu. Ia juga bisa merasakan bagaimana detak jantung Adev yang sangat kencang.
"Dev!" panggil Vania dengan jarak dekat, membuat Adev yang sedang mengaitkan pengait helm Vania hanya mengangkat kedua alisnya.
"Makasih untuk semuanya. Aku bahagia bisa kenal sama kamu. Makasih untuk segala hal yang udah kamu berikan sama aku." Adev hanya mengangguk sambil tersenyum kepada Vania. Pria itu memeluk Vania setelah selesai mengaitkan helm yang akan Vania kenakan.
"Sama-sama, Van. Kamu gak perlu bilang makasih, karena aku melakukan semua ini dengan ikhlas. Kamu itu sumber segalanya bagi aku, kamu itu semestaku." Jantung Adev semakin berdegup lebih kencang saat menepis semua jaraknya bersama Vania, saat ia memeluk Vania dengan sangat eratnya. Saat ia bersatu dengan Vania.
Ada rasa yang menyelinap masuk di hati Adev, tentang rasa yang entah teramat dalam dari mana. Ada rasa yang begitu besar saat Adev bersama Vania, entah rasa apa itu, Adev pun sama sekali tidak mengerti. Yang Adev tahu, Vania adalah segalanya bagi Adev.
Vania pun merasakan hal yang sama. Ada rasa yang berbeda saat berada jauh bersama Adev. Perasaan apa ini? Perasaan apa yang membuatnya tersenyum manis saat Adev melakukannya spesial? Perasaan apa yang membuat jantung Vania berdegup lebih kencang saat berada di dekat Adev? Perasaan nyaman apa yang terjadi saat Vania selalu memikirkan Adev?
Mata Adev yang teduh, hidung Adev yang terpahat rapi, bibir Adev yang tipis nan sangat manis. Postur tubuh Adev yang semapai tinggi menjulang. Vania menyukai ini semua. Ia menyukai bagaimana indahnya Adev yang sesungguhnya. Adev yang luar biasa.
"Van kamu tau gak? Aku bingung sama perasaanku, aku selalu deg-degan di deket kamu, aku selalu merasa nyaman saat ada di samping kamu. Ini namanya apa? Perasaan apa ini? Aku gak tau sama sekali." Adev bertanya dengan polosnya kepada Vania. Pria yang sama sekali belum pernah merasakan jatuh cinta itu memang tidak tahu perasaan apa ini.
Vania mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu. Ia bukan Adev yang mengetahui bagaimana suasana hati pria tersebut. Ia bukan Adev yang mengetahui perasaan semacam apa itu.
"Ya udah gak usah dipikirin, yuk pulang!" ajak Adev yang langsung menaiki motornya. Vania langsung menaiki motor hitam besar milik Adev, ia membonceng Adev dengan sangat tenang, seperti biasa ia juga menyenderkan kepalanya di bahu Adev. Nyaman, satu kata yang mewakilkan segala-galanya. Nyaman, satu kata yang membuat Vania bisa tersenyum saat ini. Adev segalanya bagi Vania. Adev pelengkap Vania.
Motor hitam besar milik Adev membelah jalanan ibu kota dengan sangat hati-hati. Mereka berdua—Adev dan Vania, menikmati perjalanan dengan sangat baik. Melihat sana sini yang membuat mata mereka berbinar.
Vania sangat nyaman kepada Adev, kepada pria yang tengah mengendarai motor yang kini sedang ia gunakan. Pria tampan dengan segala kelebihannya. Vania nyaman kepada pria tampan tersebut.
Motor berhenti tepat di depan panti, membuat Vania langsung turun dari kendaraan roda dua tersebut. Gadis itu memberikan helm yang Adev pinjamkan kepadanya. "Makasih, Dev."
"Sama-sama, Van. Aku pulang dulu, ya. Sampaikan salamku sama Bu Naira juga. Aku pamit. Oh iya, besok aku jemput kamu pagi hari, jangan sampai terlambat, Sayang." Adev mengatakan apa yang ingin ia katakan kepada Vania, membuat senyum di bibir Vania terbit sempurna.
"Siap! Good night and see you tomorrow, Dev!" salam perpisahan Vania. Adev pun mengangguk dan mengecup singkat kening Vania, menyalurkan segala salam perpisahannya.
"Good night too, Vaniaku. See you tomorrow juga. Jangan lupa mimpiin Adev, jangan mimpiin indah," ledek Adev seperti biasa, membuat Vania mendecak sebal.
"Iya-iya! Udah sana pulang!" ujar Vania penuh kesal. Adev yang mendengar kekesalan Vania pun langsung melajukan motornya membelah jalanan padat rayapnya ibu kota.
Vania memasuki panti asuhan dengan sangat hati-hati, ia melihat Bu Naira yang berada di ruang tamu sambil membaca novel.
"Assalamualaikum, Bu Naira!" salam Vania sambil mendekati Bu Naira.
Bu Naira menurunkan novel dengan sampul pink yang sedang ia baca, ia melihat Vania yang mendekatinya dengan memberikan salam. "Waalaikumsalam, Sayang! Sini dulu, kamu habis dari mana tadi?" tanya Bu Naira yang penasaran habis dari mana Vania dan Adev sebenarnya.
"Tadi abis dari rumah mamah Vania, Bu. Abis itu Vania ke acara pertunangan papah sama Tante Saf. Terus ke rumah mamah lagi buat bicara sebentar sama orang tua. Abis itu Adev ajak Vania ke taman juga." Vania menceritakan semua yang terjadi hari ini. Bagaimana Adev bersamanya, berbagi keluh kesah dan lain sebagainya. Vania sangat menikmati prosesnya.
"Ibu rasa kalau Adev itu suka loh sama kamu, Van. Dia gak pernah sekhawatir itu sama orang lain, dia juga gak pernah peduli yang seperti itu ke orang lain. Dia itu dingin, sangat dingin. Melebihi es batu kali, tapi pas sama kamu, dia jadi hangat banget, menegangkan, memberikan berbagai macam perlindungan, ibu suka itu. Ibu suka saat kalian berdua saling mengerti, memahami, mengayomi, dan lain sebagainya. Ibu menyukai saat kalian saling membutuhkan satu sama lain." Bu Naira memberikan pendapatnya kepada Vania.
Menurut Bu Naira, seseorang akan berubah jika memiliki tujuan tertentu, jika memiliki seseorang yang akan menjadi pacuannya berubah. Ia sangat yakin seratus persen, valid no debat kalau Adev menyukai Vania. Semua itu sangat kentara bagaimana Adev melihat tatapan Vania. Bagaimana Adev melihat senyum Vania. Bagaimana Adev mendengarkan kata Vania, kabar tentang Vania, dan lain sebagainya. Bu Naira sudah lama mengenal Adev, ia baru pernah merasakan Adev seperti ini saat bersama Vania. Saat Adev berusaha sekuat tenaga melindungi Vania.