10. Kamu Pasti Bisa, Van!

1016 Kata
Adev mengendarai motornya dengan kecepatan sedang, ia melihat kaca spion menampakkan Vania yang sedang bersandar di bahunya, menatap jauh entah ke mana, tersenyum getir entah kepada siapa. Mungkin senyum getir pada garis takdir? Atau mungkin juga tersenyum getir pada goresan luka? Adev sama sekali tidak tahu itu. Vania semakin membenamkan wajahnya di bahu Adev, bahu ternyaman setelah papahnya pergi. Bahu ternyaman setelah semua luka ini menghampirinya. Karena memang hanya bahu Adev lah yang ada. Karena memang hanya Adev lah yang memberikan bahunya kepada Vania. Di sela-sela mengendarai motor, Adev meraih punggung tangan Vania menggunakan tangan kanannya, ia menggenggam erat tangan gadisnya itu dengan penuh makna, memberikan kasih sayang yang teramat dalam. Memberikan kasih sayang tulus yang bahkan Adev tidak tahu dari kapan ia seperti ingin melindungi Vania. Tangan Adev menggenggam tangan Vania penuh dengan rasa, rasa yang mungkin akan sangat kentara bagi Vania. Adev lalu mengusap pelan punggung tangan tersebut. "Van!" panggil Adev sedikit berteriak. Dengan cekatan Vania langsung mengangkat kedua alisnya. "Kenapa?" tanya Vania sambil menaikkan kaca helm yang ia gunakan. "Kamu mau ke taman dulu? Nanti aku bawa kamu ke taman deh," tawar Adev yang sangat peka terhadap kondisi mood Vania. Adev hanya ingin Vania kembali seperti dulu, menjadi gadis yang sangat ceria. Adev hanya ingin Vania bahagia. Mata Vania berbinar-binar mendengar kata taman, entah sejak kapan ia sangat menyukai taman. Entah karena alasan apa ia juga menyukai taman. "Mau banget!" seru Vania tanpa menolak. Adev yang mendengar persetujuan Vania pun langsung melajukan motornya menuju taman, taman yang sejak dulu selalu Adev nikmati keindahannya. Taman yang dari dulu selalu Adev senangi suasananya. Motor Adev berhenti di taman ini, taman dekat panti asuhan dengan keindahan yang terpancar nyata. Taman dengan lampu kelap-kelip di saat malam. Taman dengan ribuan kenyamanan. Vania berlari menuju taman dengan kecepatan maksimal. Gadis itu tersenyum riang saat bisa duduk lagi di bangku taman, bangku yang dulu mengandung ribuan cerita masa kecil. Dulu mamah dan papah sangat menyukai taman, mereka berdua selalu mengajak Vania ke taman saat tengah bosan. Vania pun menyukai taman sejak itu. Bagi Vania taman adalah penawar segalanya, penawar luka yang ditorehkan nyata di hati Vania. Penawar dari betapa pedihnya pengkhianatan, penawar dari betapa terpuruknya Vania. Vania sangat menyukai taman. "Kamu suka sama taman, Van?" tanya Adev yang bingung dengan raut wajah Vania. "Suka! Suka banget malah! Taman itu penawar segalanya, penawar rasa capek, rasa kecewa, rasa sedih, rasa kehilangan, dan lain sebagainya. Taman itu suatu tempat nyaman yang sangat aku sukai. Taman itu segalanya." Vania mengangkat kedua tangannya, menikmati bagaimana angin kencang menghembus menerpa kulitnya. Vania berlari ke sana ke sini untuk menikmati ribuan sudut taman, ribuan kenangan, ribuan filosofi, ribuan makna, dan segalanya. Vania sangat bahagia, Tuhan. Adev menghampiri Vania yang sedang tertawa sendiri, bukan karena gadis itu gila atau sebagainya. Kadang saat ada masalah kita perlu menertawakan masalah tersebut. Kadang saat sedang kecewa kita perlu menertawakan juga rasa kecewa tersebut. Masalah akan semakin sakit jika dirasakan, tetapi masalah akan biasa saja jika ditertawakan. Ya walaupun susah untuk tidak merasakan masalah tersebut, tapi kita tidak boleh menyerah, kita harus kuat. "Kamu pasti bisa, Van! Kamu pasti bisa membuka lembaran baru dengan torehan warna yang jauh lebih cerah bersama aku. Kamu pasti bisa mengubah semua rasa kecewa kamu menjadi rasa bahagia kamu. Kamu berhak bahagia, Van. Kamu berhak menikmati hidup ini, kamu berhak tertawa terbahak-bahak saat menjalani hidup ini, jangan menangis terus, aku gak mau kalau kamu nangis." Adev mengucapkan semua yang ada di benaknya. Ia ingin Vania tertawa lagi, ia ingin Vania bahagia. Ia ingin segalanya yang terbaik untuk Vania. Vania tersenyum kecil sambil menepuk bahu Adev. "Aku juga pengen kaya gitu, Dev. Jauh lebih pengen. Aku juga pengen menikmati hidup layaknya bahagia, tapi Tuhan percaya kalau masalah ini akan baik-baik aja jika di tangan aku. Aku udah berusaha mensyukuri ini semua, menikmati ini semua, karena apa? Karena percuma kalau aku terus terpuruk dan berhenti lama di dalam hidup. Itu gak akan mengubah apapun. Itu gak akan buat mamah dan papah kembali. Itu juga gak akan membuat papah memilih mamah daripada Tante Saf. Aku jauh lebih ingin bahagia. Aku jauh lebih ingin hidupku sempurna, tapi Tuhan berkata dan berkehendak lain. Aku harus syukuri itu semua kan Dev? Aku lagi berusaha, aku lagi berusaha menjadi manusia yang lebih baik. Kamu tenang aja." "Kamu pasti bisa, Van!" Adev memberikan semangat pada niat yang sedang Vania lakukan. "Aku pasti bisa, aku pasti semangat. Ribuan orang jauh di sana ada yang lebih menderita daripada aku. Aku pasti bisa." Vania menguatkan dirinya sendiri. Ia pasti bisa. Ia pasti bisa melewati ini semua. Ia pasti bisa bahagia. Tuhan pasti mengirimkan ribuan pelangi jauh di ujung jalan sana. Yang perlu Vania lakukan hanyalah berlari tanpa mempedulikan duri yang bertebaran di jalan. Yang harus Vania lakukan hanyalah menggapai pelangi tersebut dengan langkah-langkahnya sendiri. Vania bukan gadis lemah, Vania pasti bisa! "Kamu pernah bilang kan Dev kalau ada pelangi di ujung jalan sana yang akan menyambut aku, dan aku percaya itu. Aku percaya kalau aku bisa dengan segera menggapai pelangi itu. Aku percaya kalau langkah-langkah yang akan aku ambil akan menjadi langkah yang membawa aku ke pelangi itu. Yang harus aku lakukan sekarang hanyalah berlari, hanyalah berusaha. Aku harus menggapai pelangi itu dengan segera. Aku tau setiap jalan pasti ada lubang, pasti ada paku, pasti ada penghalang. Aku harus bisa melewati itu semua. Aku harus bisa menghiraukan itu semua. Kadang menepi boleh, tapi jangan lama-lama. Kadang berhenti dan membersihkan luka boleh, tapi jangan terlalu larut. Doain aku bisa sampai dengan segera. Doain aku kalau pelangi aku itu adalah kamu." Vania sangat berharap bahwa pelangi kebahagiaannya yang berada di ujung jalan sana adalah Adev. Ia berharap Adev lah satu-satunya orang yang tidak mengecewakan Vania. Vania berharap hanya Adev lah hidup Vania. "Aku pasti akan menjadi pelangimu, Van. Pelangi kebahagiaan yang akan kamu jemput. Aku pasti akan menjadi segalanya bagi kamu. Kita gapai semua dengan bersama. Kamu segalanya bagi aku, dan aku segalanya bagi kamu. Aku pasti akan membuat kamu bahagia dan tersenyum selalu, kalau aku berbuat salah aku minta maaf ya, tolong tegur aku dan jangan tinggalin aku."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN