Manusia mempunyai cara tersendiri untuk memperoleh kebahagiaan. Beberapa ada yang mengorbankan kebahagiaannya untuk orang lain, dan beberapa lainnya mengorbankan kebahagiaan orang lain untuk kebahagiaannya.
-Vania Raselia Arkarna.
---------------------------------------------
"Udah, Van?" tanya Adev memasuki kamar Vania.
Vania tersenyum ke arah Adev. "Udah, Dev."
"Mau sekarang ke rumah papah?" tanya Kiara dari depan pintu kamar Vania yang hanya dibalas dengan anggukan.
"Nanti mamah nyusul sama Om Genta, kamu duluan aja."
"Oke, Mah. Ayo Dev!"
Mamah mengelus punggung Vania lembut. "Barang-barangmu ditaruh depan aja, nanti abis pulang dari tunangannya papah kamu ke sini, ambil barang."
"Iya, Mah."
"Kamu boleh bawa mobilmu, itu hakmu. Kamu berhak bawa rekeningmu, itu kewajiban mamah dan papah untuk menafkahimu."
Hak? Bahkan Vania lupa jika dirinya mempunyai hak sebagai anak. Dirinya tidak membutuhkan hak tentang materi, yang ia butuhkan hanya kasih sayang orang tua yang utuh. Kewajiban? Bahkan dirinya lupa mengingatkan pada orang tua bahwa kewajiban orang tua bukan hanya memberi nafkah, tetapi juga mendidik.
"Mau berapa uang yang kamu butuhkan dalam sebulan?" tanya Om Genta dengan nada mengejek.
Vania menatap Genta intens. "Papah saya masih mempunyai uang yang berlimpah, berapapun yang saya minta akan dia beri dengan senang hati. Jadi saya tidak membutuhkan uang seseorang yang bukan siapa-siapa saya. Jika Anda ingin memberi uang, jangan berikan kepada saya, berikan kepada keluarga Anda."
"Vania, kamu keterlaluan!" bentak Kiara pada Vania.
"Bukan Vania yang keterlaluan, tapi orang tua Vania yang menampar Vania yang keterlaluan," sindir Vania membuat Kiara mati kutu.
"Mamah akan aduin kamu ke papah supaya papah gak ngirim kamu uang," ancam mamahnya.
"Terserah."
Vania menarik tangan Adev, membawanya menuju halaman rumah.
"Ayo ke rumah papah sekarang!" ajak Vania.
"Ayo!"
Adev melajukan motornya membelah jalanan, ada rasa kecewa yang Adev lihat di mata Vania.
Adev memanggil Vania yang sedang melamun. "Udah sampai, Van."
"Van!" panggil Adev lagi.
"Vania!" Adev masih berusaha menyadarkan Vania dari lamunannya.
Tatapan Vania kosong, entah memandang apa.
Adev menggenggam tangan Vania membuat Vania menoleh.
"Udah sampai," ucap Adev membuat Vania melihat sekitar. Gedung pertunangan papahnya.
Adev menyandarkan kepala Vania pada bahunya. Mata Vania menutup menghilangkan kecewa. Adev mengusap rambut Vania lembut, berusaha menenangkan.
"Aku gak tau kalau mamah akan seperti ini. Berani menampar puterinya demi selingkuhannya, berani berteriak kepada puterinya, berani menilai puterinya dengan uang." Air mata Vania luruh.
"Masuk yuk! Nanti kita telat, ceritanya nanti di panti, ya. Sekarang kamu netralin pikiranmu dulu, nanti aku bakalan jagain kamu di panti," ucap Adev menghasilkan anggukan kepala Vania.
Vania turun dari motor Adev, Adev membantu Vania melepas helm yang Vania kenakan. Adev dan Vania masuk ke dalam gedung. Meriah, satu kata yang menggambarkan suasana di gedung tersebut.
"Arkavino Arkarna dan Safira Cahaya Neswari." Tulisan yang terpampang jelas di dalam gedung. Banyak media dari pertelevisian Indonesia yang meliput, banyak media dari majalah juga yang meliput mengingat Arka–papahnya adalah seorang pembisnis hebat.
"Papah!" teriak nyaring seseorang yang mengenakan dress putih dengan senyum menghias sempurna di bibir.
Papah bahagia melihat senyum puteri semata wayangnya. Papa memeluk Vania. "Vania, papah pikir kamu gak dateng, Nak."
"Vania pasti dateng dong, Pah. Oh iya pah, kenalin dia Adev, temen Vania." Vania mengenalkan Adev pada papahnya.
"Adev, Om," sapa Adev sopan.
Papah mengembangkan senyumnya, menepuk punggung Adev. "Jaga puteri saya ya, Adev."
"Tentu, Om."
"Mamah kamu tidak hadir, Vania?" tanya papah.
"Tadi Vania ke rumah mamah, katanya mamah dateng sama Om Genta. Mungkin lagi di jalan."
Awak media langsung meliput kejadian saat Vania datang.
"Bukankah dia puteri tunggalmu, Tuan Arka?"
"Bagaimana perasaan dia saat mengetahui orang tuanya berpisah dan akan mempunyai keluarga baru?"
"Bukankah dia yang akan meneruskan bisnis keluarga Arkarna?"
Pertanyaan demi pertanyaan selalu dilontarkan dari awak media.
"Nanti akan saya jawab." Papah menanggapi semua pertanyaan awak media.
"Orang tuamu kerja di mana, Dev?" tanya papah tiba-tiba.
"Dia pengusaha sama seperti om," jawab Adev sopan.
"Benarkah? Siapa dia?"
"Saya Raffasya Adev Azain putera tunggal dari Revanar Azain dan Rasya Alkirana Putri Azain, Om."
"Wah om tidak menyangkan akan bertemu dengan kau, Adev. Sampaikan salam om pada ayah dan ibumu. Om sangat berteman baik dengan ayahmu, dia sahabat om saat SMA. Jangan lupa ajakan makan malam bersama keluargamu, om sangat merindukan mereka, Adev." Papa tertawa menceritakan kepada Adev.
"Baik, Om."
Sepasang kekasih memasuki gedung pertunangan Arka dan Safira. Tangan wanita yang datang memeluk pinggang prianya, menandakan bahwa ia lah kekasihnya. Ya, mereka adalah Kiara Avia Arkarna dan Genta Satria Pramana.
"Congrats ya, Mas. Doakan kita menyusul." Kiara menyapa mantan suaminya serta mengucapkan selamat.
"Selamat ya Saf, semoga bahagia selalu," ucap Kiara pada Safira.
"Cepat beri dia kepastian, Ta," ledek Arka.
"Secepatnya." Genta membalas ledekan Arka tersebut.
Awak media langsung gempar karena melihat Nyonya Kiara Avia Arkarna yang berstatus sebagai mantan istri Arkavino Arkarna datang tanpa rasa kecewa sedikitpun. Ditambah membawa sosok pria yang nampak seperti kekasihnya.
Acara pertunangan di mulai, rangkaian acara demi acara telah berlangsung dan berakhir.
"Congrats ya, Pah. Congrats Tante Saf." Vania memberikan hadiah yang ia beli di mall tadi.
Papah mengecup kening puterinya. "Terima kasih, Sayang."
"Congrats kalian berdua!" Mamah memberikan hadiah kepada Tante Saf.
"Thanks, Ra. Thanks, Ta."
"Selamat ya, Om," ucap Adev.
"Terima kasih, Adev."
Awak media langsung meliput dan memberi pertanyaan kepada Arka.
"Bukankah dia puteri tunggalmu Tuan Arka dan Nyonya Kiara?" tanya awak media.
"Ya, benar. Dia Vania Raselia Arkarna, puteri tunggal kami."
"Lalu siapa pria yang bersamanya?"
"Dia Adev. Raffasya Adev Azain putera tunggal pembisnis yang jauh lebih hebat, Revanar Azain dan Rasya Alkirana Putri Azain."
"Ada hubungan apa Adev dengan Vania?"
"Saya tidak bisa menjawab, biar mereka saja yang menjawab."
"Ada hubungan apa kau dengan Tuan Adev, Nona?"
"Kami berteman baik," jawab Vania.
"Bukankah dia puteri tunggal keluarga Arkarna, Tuan? Jadi dia yang akan melanjutkan bisnis keluarga Arkarna?"
"Ya, benar. Dia puteri tunggal keluarga Arkarna. Dan dia yang akan meneruskan bisnis kami."
"Lantas siapa pria bersamamu Nyonya Kiara? Bukankah kau mantan istri Tuan Arka?"
"Dia kekasihku, kami akan segera bertunangan. Ya, saya mantan istri Tuan Arka."
"Lalu Nona Vania bagaimana? Dia ikut dengan siapa?"
"Saya akan hidup mandiri," jawab Vania cepat.
"Apakah di sebuah apartemen Nona?"
"Tidak."
"Apakah di sebuah rumah yang Tuan Arka belikan?"
"Tidak, saya akan tinggal di sebuah tempat yang menurut saya nyaman."
"Bukankah Anda sekolah di SMA Kirana, Nona Vania? SMA Kirana dikenal SMA populer bukan? Lantas teman di samping Anda satu sekolah dengan Anda?"
"Ya saya sekolah di SMA Kirana, sekolah populer dan favorite. Dia Adev, teman saya. Dia juga sekolah di sana."
"Tuan Arka, bagaimana jika Anda dan Nyonya Safira memiliki anak? Apakah Vania yang tetap meneruskan bisnis Anda atau anak Anda dengan Nyonya Safira?"
"Tetap Vania, dia sebentar lagi lulus, mungkin membutuhkan waktu 5 tahun untuk menamatkan sekolah dan kuliahnya."
"Apakah Vania akan diberi hak yang sama? Diberi uang perbulan? Atau sebuah mobil dan rumah mewah?"
"Tentu saja. Dia puteri saya satu-satunya. Saya akan memberi dia hak yang berlimpah, mulai dari uang perbulan, mobil, dan rumah. Tapi sepertinya rumah yang saya berikan akan kosong sementara waktu, karena dia memilih tinggal di tempat yang membuatnya nyaman."
"Apakah di antara Tuan Arka dan Nyonya Kiara tidak akan menjodohkan Nona Vania demi memajukan perusahaan?"
"Tidak akan, saya tidak akan merebut cinta anak saya. Dia berhak memilih cintanya, tidak perlu dipilihkan," jawab papah.
"Saya juga tidak akan menjodohkan puteri saya dengan kolega bisnis atau semacamnya. Saya akan membiarkan puteri saya bahagia dengan cintanya," jawab mamah.
"Baiklah, terima kasih Tuan, Nyonya, dan Nona Arkarna."
Setelah awak media pergi papah memerintahkan Vania untuk ke rumah mamah, membahas suatu masalah, katanya.
Ya, di sinilah Vania sekarang. Kediaman Kiara Avia Arkarna. Ralat, Kiara Avia. Bukankah sudah tidak ada nama Arkarna di akhir nama mamahnya?
Papah yang sudah di depan pintu langsung memanggil Vania. "Sini,Nak."
"Iya, Pa. Ayo, Dev."
Sesampainya di rumah mama. "Kamu beneran mau tinggal di tempat yang membuatmu nyaman? Gak mau di rumah yang papah belikan?" tanya papah.
"Iya, Pah. Vania bukan anak kecil lagi. Suatu saat pasti Vania akan ke rumah itu, tapi tidak sekarang."
"Di mana kau akan tinggal, Nak?" tanya mamah.
"Yang pastinya tempat yang ramai, membuat Vania tidak merasa kesepian."
"Dengan Adev?" tanya Om Genta.
"Tidak."
"Berapa juta yang kamu butuhkan perbulan, Vania?" tanya Tante Safira.
"Bukankah papah saya yang akan memberikan uang kepada saya? Mengapa Anda perlu tau? Apakah Anda akan membatasi hak saya?" Vania meninggikan suaranya.
"Vania, lebih sopan kepada Tante Saf! Dia akan menjadi ibumu!" peringat papah.
"Apa yang kau butuhkan perbulan, Nak? Berapa juta perbulan? Mobil apa yang sedang kau inginkan? Apalagi yang kau mau?" tanya papah.
"Tidak banyak. Vania ingin uang lima puluh juta perbulan. Papah harus memberi Vania lima puluh juta perbulan, dan mamah harus memberi lima puluh juta perbulan. Mobil yang Vania inginkan hanya mobil sederhana, carikan apa saja. Vania butuh rumah mewah, belikan yang paling mewah ya, Pah?"
"Baiklah," jawab papah.
"Tidak bisa begitu Vania, papah harus menafkahi saya nantinya. Jika lima puluh juta perbulan maka saya tidak dapat setengahnya," protes Tante Safira.
"Setiap bulan saya mendapat lima puluh juta. Saya tidak menambahkan nominalnya. Bahkan setiap bulan penghasilan papah berlimpah. Mamah tetap bisa mengatur keuangannya, tetap bisa hidup mewah. Bukankah ini hak saya? Mengapa Anda yang mengatur?" respon Vania.
"Tapi tidak dengan nominal itu," protes Tante Safira lagi.
"ITU HAK SAYA DARI DULU, MENGAPA ANDA INGIN MENGAMBIL HAK SAYA?" bentak Vania.
"Sudah! Vania benar, itu hak dia dari dulu, Saf. Kamu tidak berhak mengaturnya. Kamu juga akan mendapatkan hakmu," lerai papah.
"Bagaimana, Mah? Apakah mamah setuju?" tanya Vania kepada mamah.
"Tidak masalah, hidup mamah sudah mewah. Bisnis mamah juga sedang jaya, bahkan seratus juta tidak masalah bagi mamah," jawab mamah.
"Tidak, Vania tidak akan meminta hak yang lebih," sindir Vania.
"Besok datang ke kantor papah, kita cari rumah yang kau inginkan," ucap papah.
"Papah cari sendiri yang menurut papah sesuai seleraku, aku sedang sibuk."
"Adev, om titip Vania padamu, ya?" pinta papah pada Adev.
"Tentu, Om."
"Bagaimana sekolahmu, Sayang?" tanya papah.
"Baik, hanya saja belakangan ini ada yang mengganggu ketenangan Vania."
"Siapa?" tanya mamah.
"Thalia Bening Pramana, anak Om Genta. Dia ingin ayahnya pulang. Tante Intania Jasmin Pramana sedang sakit, tidak seharusnya seorang kepala keluarga meninggalkan keluarganya demi wanita lain. Apalagi menumpang hidup dengan wanita lain di rumah wanita lain. Bahkan tidur berdua padahal masih mempunyai istri," sindir Vania.
"Apa yang Thalia katakan padamu?" tanya Om Genta.
"Seperti itu, dia ingin ayahnya pulang. Ibunya membutuhkan ayahnya."
"Kau akan pulang, Mas?" tanya mamah pada Om Genta.
"Iya." Om Genta menjawab pertanyaan mamah dengan mengambil kunci mobilnya. Pergi dari rumah mamah.
"Sudah siap menjadi penerus perusahaan papah?" tanya papah.
"Sangat siap."
"Kapan kau akan bertunangan dengan Genta?" tanya papah membuyarkan lamunan mamah.
"Sesegera mungkin, menunggu Genta bercerai dengan istrinya."
"Apa mamah tega membuat Tante Tania menderita? Tante Tania yang tau kalau suaminya selingkuh saja sakit, apalagi jika tau suaminya menceraikan dia." Vania mengingatkan.
"Bukan urusanmu, Vania."
"Benar apa yang diucapkan Vania. Cari lelaki lain saja, Kiara. Jangan membuat Tania yang tidak tau apa-apa menjadi sakit," peringat papah.
"Lalu kau pikir berselingkuh dengan sahabatku adalah jalan yang terbaik?" sindir mamah langsung membuat papah skakmat.
"Maaf sebelumnya tante. Saya teman baik Thalia. Thalia sosok yang rapuh, dia sering bercerita kalau ayahnya gonta-ganti selingkuhan. Mamahnya menderita, selalu dibentak, disiksa oleh papahnya. Apa tante yakin jika Om Genta mencintai tante? Dia hanya mencintai uang tante." Adev membuka suara.
"Apakah kau kenal Genta?" Mamah bertanya pada Adev.
"Sangat kenal, kami tetangga. Om Genta sering meminjam uang kepada papah saya untuk bermain dengan wanita lain."
Ucapan Adev membuat Kiara terkejut.
"Mamah jangan sama Om Genta, ya?" Vania menatap mamahnya intens, ada rasa berharap di mata tersebut.
"Mamah akan cari pria lain."
"Kenapa, Mah?"
"Karena mamah butuh."
"Terserah. Ayo Dev pulang," ajak Vania.
Vania selalu saja dikecewakan oleh kedua orang tuanya. Tak ada yang memikirkan Vania, mereka semua egois.
***
Di tempat lain papah dan Tante Safira sudah sampai di rumah papah. Papah membuka hadiah yang Vania berikan. Rupanya sebuah berlian yang sangat mewah. Ada surat di kotak tersebut.
Selamat ya, Pah. Selamat Tante Saf. Semoga kalian bahagia selalu. Semoga papah bahagia dengan pilihan papah, walaupun cara memilih papah salah. Papah membuang Vania hehe. Tapi gapapa, Pah. Vania gadis yang kuat kok. Kata papah, papah selalu menjadi bahu untuk Vania bersandar, tapi sekarang udah enggak ya pah:) Kata papah, rumah selalu menjadi tempat ternyaman untuk pulang, tapi sekarang Tante Safira yang menjadi tujuan pulang papah. Kata papah, raga papah selalu melindungi Vania, tapi sekarang raga papah hilang. Papah menghilang, menjauhi Vania. Terlalu naif pah saat Vania terlihat baik-baik aja, padahal Vania butuh keluarga untuk berbagi keluh kesah. Vania pengin egois, Pah. Pengin bilang ke mamah sama papah supaya tetap bersama. Tapi hati Vania berontak. Mamah sama papah harus bahagia, walaupun kebahagiaan mamah dan papah membuang Vania. Doain aja ya, Pah. Semoga Vania kuat selalu. Janji sama Vania kalau papah dan Tante Saf harus bahagia. Love you♥
-Vania Raselia Arkarna
Buliran bening jatuh dari pelupuk mata seorang Arkavino Arkarna. Dirinya dibuat sadar oleh surat yang puterinya berikan. Dirinya terlalu egois memikirkan perasaannya tanpa memikirkan puteri semata wayangnya. Apakah dia akan bahagia dengan pilihannya?