19. Yogyakarta (3)

1177 Kata
"Selamat datang di tebing breksi, kawasan wajib senyum." --------------------------------------------- Vania keluar dari kamar mandi kamar hotelnya, gadis itu memilih baju yang pas yang akan ia kenakan hari ini. Cukup simpel, hanya dengan sweater putih tulang dan rok selutut berwarna pink. Entah mengapa Vania sedang menyukai memakai rok akhir-akhir ini. Setelah semua urusan pakaian selesai, Vania meraih lip-balm favoritnya, memoleskan lip-balm tersebut di bibirnya. Sempurna! Semuanya sempurna! Ini semua sangat natural namun fresh di wajah Vania. Tubuh semapainya pun sangat pas jika mengenakan rok selutut. Semua urusan selesai, Vania meraih sling bag serta sepatu sendal yang akan ia kenakan, bukankah semuanya sangat simpel? Gadis itu membuka kenop pintu, memunculkan wajah Adev yang menunggunya persis di depan pintu kamar. "Good morning, Princess." Adev mengacak rambut Vania, membuat sang empu mengerucutkan bibirnya. "Berantakan, Dev!" decak Vania sebal. "Gapapa, masih tetap cantik. Yuk sarapan dulu!" Saat ini jam memang masih menunjukkan pukul setengah tujuh, masih sangat pas untuk sarapan. "Ayo! Gudeg di Malioboro, ya?" pinta Vania dengan tatapan mata yang memohon. "Iya." Melihat tatapan Vania yang memohon, Adev sangat merasa bersalah jika tidak mengabulkan permintaannya. Adev dan Vania berjalan keluar hotel, melangkahkan kaki mereka menuju jalan khas Yogyakarta, apalagi kalau bukan Jalan Malioboro. Jalan dengan plang hijau sebagai identitasnya. Jarak dari hotel dan Malioboro memang dekat, cukup dekat, oleh karena itu mereka memilih berjalan kaki saja. *** Mata Vania masih berbinar saat mendapatkan satu piring gudeg kesukaannya. Ini sangat enak, benar-benar enak, rasanya Vania ingin memakan ini terus saja. "Kamu kaya gak pernah makan gudeg aja, matanya masih berbinar." Adev masih terkekeh geli melihat sorot mata Vania. "Ini tuh enak banget, Dev. Aku suka banget kaya gini. Rasanya aku pengen tinggal di sini selamanya." Itu harapan Vania, Vania menginginkan tinggal di kota kenangan ini, daripada di kota yang menjadi jantung perekonomian Indonesia. "Nanti kalau udah menikah aku bangun rumah di sini, ya." Adev mulai serius dengan ucapannya. Ia pun senang jika tinggal di sini. Ia pun senang jika harus menjadi orang sini. "Ih apaan sih! Bahasnya nikah mulu!" ujar Vania dengan pipi yang merona. "Gapapa dong, asal nikahnya sama kamu," ledek Adev semakin menjadi-jadi. "Bodo amat! Hari ini mau ke mana, Dev?" tanya Vania yang mulai penasaran dengan agenda hari ini. Selama di Yogyakarta Vania sama sekali tidak mengetahui akan ke mana saja. Adev lah yang memikirkan semuanya, dari kendaraan apa yang digunakan, biaya, serta destinasinya. "Ke tebing breksi, di sana bagus banget. Destinasi penting yang wajib banget kita kunjungi," sahut Adev. *** Vania menatap sekeliling, saat ini sudah pukul sembilan, tebing-tebing yang menjulang tinggi membuatnya berdecak kagum. Ini sangat indah, benar-benar indah. Yogyakarta memang istimewa, menyajikan ribuan destinasi yang menyenangkan mata. "Bagus banget, Dev!" ujar Vania yang masih diam membisu akibat kekagumannya. "Ini emang bagus, Van. Makanya aku bawa kamu ke sini. Yuk naik!" ajak Adev yang langsung menggenggam tangan Vania, Adev langsung membawa Vania menaiki tebing, melihat ke sana kemari. "Selamat datang di tebing breksi, kawasan wajib senyum," ujar Adev membaca papan di ujung sana. Sontak Vania yang mendengarnya langsung tertawa. Adev ini unik, Adev ini menarik, ia mempunyai ribuan cara untuk membuat Vania tersenyum. Adev ini segalanya. "Aku senyum nih," sahut Vania yang langsung melebarkan senyumnya. Gadis itu sangat cantik sekali dengan senyumnya, apalagi saat matanya hanya terlihat separuh, hanya lengkungan bulan sabit saja. "Sipit!" ejek Adev yang langsung meninggalkan Vania, pria itu berlari menuju atas. Vania yang tidak terima dengan ejekan Adev langsung menyusul pria itu, setelah beberapa langkah lagi langkahnya dan langkah Adev sama, Vania langsung memeluk erat tubuh Adev dari belakang. "Tadi kamu bilang apa?" tanya Vania dengan nada ketus. Bukannya menjawab pertanyaan Vania, Adev malah mengeratkan jemari Vania yang melingkar di pinggangnya. "Enggak, Sayang. Ayo foto di sana," ujar Adev yang langsung melihat spot foto dengan bunga-bunga sakura buatan sebagai background tersebut. Vania langsung melihat spot foto yang Adev tunjuk. Wow, ini sangat indah. Spot itu sangat menarik dan tentunya memikat. "Ayo!" seru Vania yang langsung berlari ke spot tersebut. "Berapa, Mas?" tanya Adev kepada mas-mas penjaga spot foto tersebut. "Seikhlasnya, Mas. Asalkan isi kaleng ini saja," jawab mas-mas tersebut. Dengan cekatan Adev langsung mengangguk. Pria itu mendekati Vania untuk mengambil dompetnya. "Dompetku, Van," pinta Adev dengan lembutnya. Vania yang tengah asik-asiknya ber-selfie langsung mengerucutkan bibirnya. Gadis itu membuka sling bag lalu mengeluarkan dompet milik Adev. "Buruan, ya! Aku mau ke atas." Ya, benar. Spot tersebut masih berada di bawah, belum sampai puncak, padahal jika di puncak, lebih banyak sekali spot foto yang menarik, Vania jadi ingin berfoto di semua spot yang disediakan. Adev menangkup wajah Vania dengan lembut. "Iya, Sayang." Setelah itu pria dengan kaos hitam memasukkan uang di dalam kaleng yang mas-mas tadi minta. Vania dan Adev bergaya banyak sekali di dalam spot tersebut. Dari tersenyum riang, tertawa ngakak, candid, bahkan ada juga Adev yang mencium kening Vania. Tulisan tebing breksi di depan spot bunga sakura menambah foto tersebut semakin menarik. Ini semua sangat indah, Vania sangat menyukainya. "Makasih ya, Mas." Vania berterima kasih kepada mas-mas yang memiliki spot tersebut, mas tersebut pun mengangguk sebagai jawaban. "Dev, gendong!" pinta Vania sambil mengangkat alisnya, niat Vania hanyalah meledek Adev. Adev yang menganggap niat Vania sebagai permintaan pun langsung menurunkan tubuhnya, ia mempersiapkan Vania untuk menaiki punggungnya. "Buruan naik!" Vania tersenyum bahagia, dengan langkah cepat gadis tersebut menaiki punggung Adev yang lebar. Cup! Saat sudah menaiki punggung tersebut, Vania mengecup pipi Adev secara singkat. "Makasih, Adev." "Sama-sama, Vania!" Adev langsung berlari menaiki tangga menuju atas, ia semakin bersemangat saat dikecup singkat oleh Vania. Ini semua berarti bagi Adev. Apapun yang Vania lakukan sangatlah berarti bagi Adev. Adev menurunkan badan Vania saat sudah sampai puncak. Vania yang sangat gembira pun langsung berlari dari satu spot menuju spot yang lain, mengambil banyak gaya yang disuguhkan oleh badan semapainya. Senyum Vania yang tak pernah luntur pun membuat Adev semakin bersemangat. Pengaruh Vania sangatlah kentara bagi Adev. Adev ingin Vania tetap tersenyum. Adev ingin Vania tetap menjadi dunianya. "Dev, sini foto!" teriak Vania yang sedang berada di spot foto dengan ranting-ranting yang mengelilingi, di spot tersebut menunjukkan bagaimana uniknya tebing breksi, menyuguhkan banyak spot yang menarik. Adev langsung berlari mendekati Vania, pria tersebut langsung bergaya seperti apa yang Vania minta. "Bukan gitu gayanya, Adev. Kamu senyum aja, tapi jangan yang manis, nanti banyak yang suka sama kamu!" omel Vania yang tidak setuju dengan gaya Adev. "Kaya gini?" tanya Adev mengurangi sedikit senyumnya. "Bukan! Itu masih terlalu manis! Kurangi lagi!" omel Vania lagi. "Gini?" tanya Adev dengan datarnya. "Senyum, Adev. Bukan datar," decak Vania sebal. Gadis itu mengerucutkan bibirnya, Adev sangat menyebalkan. Gaya yang Adev keluarkan bisa membuat semua cewek teriak histeris jika terlalu manis. Melihat bibir Vania yang mengerucut membuat Adev terkekeh geli, Adev langsung mengecup singkat bibir tersebut. Cup! "Jangan dimajuin bibirnya, nanti aku khilaf lagi." "ADEV! VANIA MALU!" teriak Vania yang langsung menutupi wajahnya. Vania malu, Tuhan! Hari ketiga di Yogyakarta semakin bahagia. Vania senang bisa menikmati hidupnya dengan Adev. Vania senang bisa sarapan berdua dengan cita rasa khas Yogyakarta. Ditambah menikmati salah satu destinasi menarik di kota kenangan ini. Terima kasih, Tuhan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN