"S-sakit, Zavi." Zavier menghentikan gerakannya dan menatap Zia yang hampir menangis. Mereka kini sudah kembali mengulang kejadian semalam. Seluruh pakaian sudah terlepas. Dengan tubuh yang saling berbagi kehangatan, Zavier tidak ingin mereka kembali gagal. "Kamu sendiri tadi yang minta, dan aku nggak akan berhenti," balas Zavier, lalu menciumi telinga Zia. Gadis itu menggeliat di bawah tubuhnya, namun tidak mendorongnya menjauh. Alih-alih mendorongnya, tangan Zia perlahan menggapai wajah Zavier dan menariknya hingga mereka kembali berhadapan. "Aku nggak minta kamu berhenti," ucapnya dengan mata berkaca-kaca. "Hanya lakukan dengan lembut. Pelan-pelan saja, ya?" Ucapan bernada lembut Zia membuat Zavier seketika merasa bersalah. Ia sadar sudah terlalu menekan Zia. Meskipun ia sudah berk

