Break The Rules

1544 Kata
Flo sudah memejamkan matanya dengan rapat jika sampai Bima berbuat yang tidak-tidak lagi padanya. Tapi ternyata apa yang ditakutkannya tidak terjadi. Meskipun kini Bima sedang merengkuh pinggangnya dan menutup pintu, Bima tidak melakukan apa-apa. Gadis itu membuka kedua matanya perlahan dan bingung dengan tatapan Bima. “Kenapa nutup mata?” tanya cowok itu sambil tersenyum geli. “Emang kamu pikir aku mau ngapain?” Ya, menurut ngana aja pikir! Di tengah-tengah ruangan yang potensial dilewati banyak orang saja berani nyium apalagi di tempat sepi dan tertutup kayak gini. “Terus mau ngapain nutup pintu dan saya dipeluk kayak gini?” Flo membalikan pertanyaan yang ditujukan padanya. Meskipun gadis itu tahu dengan menyodorkan pertanyaan tersebut harga dirinya sedikit dipertaruhkan. Bima mengangkat kedua bahunya. “Nggak tahu,” jawabnya enteng. “Pengin aja godain kamu.” Mendengar itu wajah Flo langsung sewot. “Apaan sih?!” desisnya tajam kemudian berusaha melepaskan diri. Hanya beberapa detik saja Flo terbebas dari rengkuhan Bima. Sebab setelah dia memberikan wajah judesnya itu, Bima malah seperti ter-triggered. Jadi, adegan yang ditakutkan oleh Flo semula kini telah betul-betul terjadi. Dengan penuh hasrat dihisapnya bibir Flo. Bima bahkan seakan tidak rela memberi ruang antara dirinya dan gadis itu. Pelukannya menguat dan gerakan di bibirnya semakin intens dan dalam.  Awalnya Flo jelas meronta dan melepaskan diri. Sama persis seperti yang dilakukannya di ruangannya sendiri tadi. Namun semakin lama, ciuman Bima bertambah dalam dan membuat naluri alamiahnya bangkit begitu saja. Naluri yang kontan memerintahkan Flo untuk berhenti melakukan perlawanan. Gadis itu pun berhenti dan membiarkan Bima membuainya seperti malam itu.  Tangan kanan Bima yang bebas kemudian melepaskan dua kancing blus Flo dan sedikit mempertontonkan apa yang ada di baliknya. Tangan itu tidak berhenti dan terus menuruni lekukan tubuh Flo dan sempat meremas ujung blus. Setelah mencium bibir Flo dengan penuh hasrat, kini Bima menuruni leher gadis itu. Menjelajahinya dan memberikan kecupan-kecupan yang makin membuat Flo menggila. Tindakan Bima yang intens seperti itu membuat tubuh gadis dipelukannya menggelinjang hebat. Flo tak kuat dan mengeluarkan suara desahan nikmat. Flo menggigit bibirnya kuat-kuat dan kembali bertahan. Namun lidah, bibir dan tangan Bima berkolaborasi dengan sangat baik hingga sekali lagi saja Bima mengarah pada area sensitifnya, maka habislah Flo hari ini. “Aku selalu pengin ngulang momen bersama kamu setelah ketemu kamu tempo hari di pesta ulang tahun sepupuku. Aku nggak bisa mengendalikan kecanduanku sama kamu,” ucap Bima dengan suara terengah di sela-sela ciumannya. Mendengar suara Bima yang terengah-engah begitu, Flo malah makin mengerang. “Entah apa yang bikin aku sangat ketagihan dengan kamu.” Saat bibir Bima semakin merambah ke arah telinga dan tengkuk Flo, dengan cekatan Flo menghentikan tindakan itu. Dipegangnya wajah Bima agar berhenti menuju ke sensitive area nya tersebut.  “Please,” pintanya dengan tatapan sayu. Bima tersenyum dan meraih tangan Flo yang memegangi wajahnya. Kembali dikecupnya lagi bibir Flo dan lidahnya mulai menjulur di dalam sana. Permintaan Flo tidak akan bisa menghentikannya kali ini. * Flo terengah-engah setelah mencapai puncaknya yang ketiga. Bima di sampingnya juga sama. Senyum puas dan penuh dengan aura juara tak bisa disembunyikan dari wajah tampannya. Air conditioner di kamar Flo sepertinya hanya mampu membuat sejuk ruangan saja, tidak dengan kedua manusia itu.  Bima menoleh ke arah Flo yang juga otomatis memandang ke sebelahnya. Setelah menatapnya dengan tatapan penuh arti selama beberapa detik, Bima mengulas senyum manis. Bibir Flo spontan ikut melebarkan senyuman dan mendekatkan wajahnya pada lelaki itu. Dikecupnya kening Flo sekali dan dibelainya rambut gadis itu dengan lembut. Berbagai sensasi yang tak terkatakan dan rasa dari cinta yang sempat tak diingat tubuhnya seolah dikembalikan Bima dalam sekali waktu. Cowok itu tidak menggunakan banyak power dan usaha untuk bisa membuat Flo bertekuk lutut. Flo sudah bersedia datang dengan sukarela. Sebaliknya, Bima sama sekali tidak mengerti mantra apa yang Flo gunakan terhadapnya hingga seperti ini. Hanya satu pertemuan, itu pun dimulai dari hal yang tidak menyenangkan. Tapi pesona Flo sungguh telah membekukannya. Cara gadis itu memandang dengan sorot mata setajam itu, siapa juga yang tidak bersedia tertunduk pasrah? Sepanjang petualangannya menemukan hati yang tepat untuk dia singgahi, Bima tidak pernah sepenasaran dan geregetan seperti ini. Apalagi gadis-gadis yang ada di sekelilingnya terlalu mudah ditebak. Sangat mudah sekali dibaca. Tidak ada yang membuatnya tertantang untuk terus bisa berdekatan dengan gadis ini. “Tadi enak, kan?!” tanya Bima dengan suara ragu. Flo sengaja tidak langsung menjawab dan malah memejamkan matanya. Bima melirik Flo. “Kamu tidur?” tanyanya lagi. “Hmm,” gadis itu hanya berdehem. Bima berdehem juga dan kembali bertanya. “Hmm, performa aku oke kan?!” Flo menahan senyumnya, masih tidak menjawab. “Flo…?” panggil Bima. Karena tidak tega menyiksa cowok di sebelahnya ini lebih lama, Flo pun membuka matanya dan menghadapkan wajahnya pada Bima. “Saya lupa.” Kedua alis Bima mengerut bingung. “Gimana kalau kamu ingetin lagi? Tapi kalau bisa kali ini temponya dibikin medium aja nggak perlu fast. Bisa?” Namun satu kalimat lanjutannya itu membuat senyum cowok itu terkembang lagi dan mau tak menuruti apa yang diminta Flo. Satu jam sebelumnya. Bima berhasil mengendalikan dirinya untuk tidak menyerang Flo di kantor. Karena Flo juga sudah kelihatan tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Akhirnya masing-masing dari mereka izin pulang lebih awal. Pak Andre tidak menaruh curiga sedikitpun karena saat Bima pamit, Flo memang terlihat seperti orang linglung. “Mungkin harus ke dokter,” ucap Bima yang masih sadar saat memintakan izin juga untuk Flo. “Ya ampun, Florencia. Padahal kamu adalah karyawan saya yang punya daya tahan tubuh paling bagus lho. Kamu jarang sakit juga. Tapi pas sakit gini saya malah jadi nggak tega banget,” sahut Pak Andre menaruh iba. “Saya panggilkan taksi ya, Florencia. Kamu biasa ke rumah sakit mana?” tanya Pak Andre sambil mengeluarkan ponselnya siap menelepon taksi. Bima segera menahan. “Nggak usah, Pak. Biar saya yang antar. Lagian kalau kondisi kayak gini, saya juga nggak tega buat ngebiarin sendirian.” Alasan Bima sangat terdengar gentle sebagaimana atasan yang mengkhawatirkan karyawannya kenapa-kenapa. Tidak ada yang bisa menduga jika justru Bima yang bisa saja membuat Flo tidak bisa berjalan sama sekali. “Oh, iya juga, sih.” Pak Andre kemudian melirik Flo yang seperti orang sakau. “Florencia, kamu nggak takut disuntik, kan?! Nanti minta disuntik saja biar bisa sehat lebih cepat, ya.” Mendengar pesan Pak Andre, Bima tersenyum agak geli. Dirinya dan Flo bergegas pamit juga karena memang untuk tujuan itu. Tentu saja Bima tidak membawa Flo ke rumah sakit atau dokter seperti yang diucapkan pada Pak Andre di kantor tadi, melainkan langsung ke apartemen Flo. Di parkiran Flo sempat memberikan hal yang menyenangkan untuk Bima dengan tangan dan mulutnya. Karena sudah tidak sanggup menahan lebih lama, Bima akhirnya mencapai puncaknya. “Apa kita harus lakukan di sini?” tanya Bima saat Flo mengelap mulutnya dengan tisu. Gadis itu menggeleng. “Saya mau di kamar saya. Di sini terlalu sempit,” ucapnya kemudian keluar dari mobil. * Bersama Bima, Flo melanggar aturannya sendiri. Dia sempat berprinsip untuk tidak terlibat hubungan spesial dengan siapapun orang di kantornya. Tidak akan pernah. Meskipun ada yang se-yummy Jordan Fisher dan V BTS dijadikan satu. Flo ingin menjaga profesionalitasnya sampai akhir. Tapi Bima… lelaki b******k itu sepertinya tahu bagaimana membuat Flo tunduk dan ketagihan. Bahkan di sela-sela rapat saat tidak hanya ada mereka saja, Bima berani mengirimkan sinyal nakal yang membuat Flo serasa tampil polos di matanya. Bima adalah perpaduan sempurna dari Nam Joo-hyuk, Noah Centineo dan Nicholas Saputra yang membuat Flo nyaris gila. Gadis itu sampai harus membawa celana dalam ekstra karena perbuatan Bima padanya.  Hampir setiap hari Bima dan Flo melakukannya. Di kantor, di apartemen Flo bahkan di parkiran. Namun sudah sejak masih di kantor, Bima biasanya sudah mengirim kode dan clue yang menjurus ke sana. Memang kurang ajar si Bima ini. Meski begitu, Flo tidak bisa (tidak ingin, tepatnya) melarikan diri. Pernah sekali Flo mencoba menarik dirinya dari jeratan Bima dan bersikap tegas. Lelaki itu malah bertindak lebih ekstrem membuat pertahanannya jebol. Baru kali ini, ada cowok yang bisa membuat Flo berani bebas untuk mengekspresikan apa yang menyenangkannya.  Bima juga selalu kooperatif. Dia tidak melulu mendominasi. Kadang Flo juga diberikan kendali. Momen seperti itulah yang memberi Flo kesempatan untuk ‘membalas’ Bima dan membuat cowok itu tersiksa.  Tak disangka, ternyata posisinya memegang kendali adalah yang paling disukainya karena Flo bisa mengontrol tempo sesuka hati. Tindakan yang seringkali membuat Bima kewalahan dan melenguh keenakan. Ekspresi Bima yang begitu justru membuat Flo semakin naik dan enggan turun dari atas sana.  Sudah sebulan sejak Bima berada di kantornya dan mereka kerap menghabiskan waktu bersama. Meskipun tujuh puluh persen adegan yang terjadi selalu nyaris bahkan tanpa busana, namun ada banyak kegiatan di luar itu yang sudah mereka lakukan. Nonton film, masak, dan makan bareng. Entah sebelum, di tengah-tengah aktivitas tadi maupun setelahnya.  Hanya memakai pakaian tidurnya, Flo baru saja menyelesaikan mencuci piring dan Bima membantunya mengelap perabotan basah sebelum meletakkannya ke rak. Saat Flo masuk ke kamarnya, dia sempat menghela napas dalam dan bingung harus membereskan kasurnya dari mana dulu. Sampai akhirnya dia melepaskan sprei dan hendak menggantinya dengan yang baru.  Flo hendak memasang sprei barunya namun Bima menghalangi dengan meraih tangan gadis itu. Malam itu tiba-tiba Bima menanyakan sesuatu yang membuat Flo tertegun. “Aku boleh nginep di sini nggak?” Terakhir kali Bima menginap di apartemennya adalah saat mengantar pulang Flo sepulang dari ulang tahun Amanda. Meski mereka sudah sering melakukannya, tapi Bima selalu pulang meski sudah larut. Dia tidak pernah menginap sekalipun. Tapi malam itu, saat mendadak cowok itu bertanya, Flo sempat bingung harus memberi jawaban apa. “Aku pengin tidur di sebelah kamu malam ini,” lanjut Bima dengan tatapan memohon.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN