Pertaruhan

1616 Kata
Presentasi hari ini rupanya cukup mengesankan, sampai saat Flo menyudahinya saja tepuk tangan masih terdengar. Flo adalah orang yang tidak pernah setengah-setengah dalam mengerjakan tugasnya. Apalagi ini menyangkut dengan dana yang tidak sedikit. Meski ini bukan kali pertamanya memberikan presentasi di depan investor, namun kali ini agak spesial. Beberapa bulan sebelum Flo mengerjakan presentasi dan mengumpulkan bahan-bahannya, Pak Andre tiba-tiba mendekatinya dan mengajaknya bicara. Sebagai orang yang terkenal pelit dengan hari libur dan jatah cuti, tentu tidak banyak yang bisa Flo harapkan dari bosnya tersebut. Namun, bosnya saat itu tiba-tiba menjanjikan sesuatu yang sangat dinantikan Flo, apabila investor menyetujui dengan kontrak penawaran mereka. “Pokoknya kalau sampai presentasi kamu lebih bagus dari yang tiga bulan lalu terus pihak investor menyetujui kontrak kita, kamu boleh ambil cuti kamu sekaligus.” Kalimat pertama ini sungguh membuat d**a Flo nyaris meledak kegirangan. Selama dia bekerja dan mengabdi di perusahaan ini, belum pernah Pak Andre semurah hati Buddha Julai seperti barusan. Namun yang mengejutkan adalah penutup kalimat Pak Andre yang nyaris membuat Flo berjingkrakan. “Selain itu, saya juga akan memberikan kamu bonus dua kali gaji kamu.” Bisa mendapatkan jatah cutinya saja sebenarnya Flo sudah bersyukur bukan kepalang. Tapi dengan ditambahkannya bonus yang melebihi ekspektasinya membuat Flo merasa proyek ini sungguh-sungguh penting bagi kantornya. Sampai Pak Andre bisa menjanjikan hal lain agar proyek ini lolos. Namun janji bosnya tersebut memang membuatnya jadi semakin termotivasi menghasilkan sebuah presentasi yang gemilang. Dan berhasil. Pihak investor cukup yakin dengan apa yang sudah disampaikan Flo dan kantor mereka pun mendapatkan sejumlah dukungan untuk memperluas jangkauannya.  Presentasi yang meyakinkan dengan menyertakan data akurat, sistematis dan dapat dipercaya tidak membuat investor tersebut lama-lama membuat keputusan. Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, pihak investor sudah memberi kabar. Saat itu, serta merta Pak Andre langsung mentransfer sejumlah uang yang nominalnya persis dua kali gaji Flo. Persis. Tidak kurang tidak lebih. Memang untuk urusan uang, Pak Andre ini cukup jeli dan teliti. “Buat jajan kalau mau bepergian,” ucap Pak Andre seperti seorang bapak yang membekali anaknya uang saku. Hal tersebut di luar kebiasaan Pak Andre tentu saja. Memberinya bonus saja sudah cukup membuat Flo melongo. Namun memberikan dua kali lipat dari upah bulanannya serta memberikan kata-kata diluar kebiasaan membuat Flo menyadari kinerjanya selama ini. Orang-orang ini telah menghargai apa yang sudah dicapainya. Yang lebih tak disangka oleh Flo adalah efek setelah kesepakatan tersebut dibuat. Hampir seluruh karyawan di perusahaan ini mengakui integritas dan kepiawaiannya dalam bidangnya tersebut. Apalagi saat Pak Andre menjanjikan promosi untuk kenaikan jabatan satu bulan kemudian, banyak yang menyarankan Flo untuk ikut dalam penilaian. “Pasti kepilih, Flo.” “Semangat, Flo.” “Lo deserve sih Flo kalau naik pangkat.” “Kinerja lo sungguh jempolan, Flo.” “Ternyata lo memang berintegritas, Flo.” “Good job, Flo!” Dan kalimat-kalimat penyemangat sejenis yang membuatnya akhirnya berjuang lebih keras untuk promosi itu. Pak Andre juga tidak bisa menyangkal akan kemampuan Flo tersebut. Makanya ketika lagi-lagi Flo membuat prestasi dan meningkatkan profit perusahaan atau membuat investor mereka puas dengan hasil laporan, tentu tidak berlebihan rasanya jika Pak Andre menjanjikan promosi kenaikan jabatan.  Flo tidak pernah jalan-jalan, bahkan semenjak SMP dan SMA saat semua orang ikut study tour Flo tidak ikut karena keterbatasan biaya. Mami nya tahu betul bahwa Flo menginginkan liburan yang layak untuk mengganti kerja kerasnya selama ini. Jadi, ketika Flo menyampaikan berita bahwa dia akan pergi liburan di waktu yang sudah ditentukan nanti, Mami ikut bersyukur dan senang. Akhirnya kerja keras Flo membuahkan hasil dan membuatnya bisa pergi ke tempat yang dia mau. “Lo mau liburan ke mana emangnya, Flo?” tanya Amanda yang saat itu sedang main ke apartemennya. “Ke mana nya tuh nggak begitu penting sekarang, Nda. Yang penting LIBURAN,” sahut Flo yang sibuk mencari referensi tempat liburan di laptopnya. Kegiatan Amanda mengikir kuku-kuku cantiknya terhenti. Dipandangnya sahabatnya itu dengan tatapan putus asa. “Ya, nggak bisa begitu dong. Lo harus tentuin mau ke mana nya. Jangan sampai nanti begitu udah mau menjelang akhir tahun, lo malah bingung soal tiket, akomodasi dan printilan lainnya. Salah-salah kagak jadi pergi liburan baru nyaho lo!” tukas Amanda kemudian melanjutkan lagi mengikir kukunya. Wajah Flo tampak berpikir dan tak lama dia mengiyakan apa yang diucapkan sahabatnya barusan. “Iya juga ya, Nda. Oke, kalau gitu gue buat daftar tempat yang sangat ingin gue kunjungi aja deh. Siapa tahu nanti setelah survei tiket, hotel dan lain-lain gue jadi makin tertarik.” Amanda lalu mengacungkan jempolnya. “Nah, gitu juga bagus.” Namun, setelah kedatangan Bima hari ini, masihkah segala rencana dan mimpi-mimpinya itu akan terjadi? Flo juga baru menyadari sebelum dia bertemu cowok ini, ada banyak rencana yang menanti untuk terealisasi. Apakah masih mungkin sekarang? Ditatapnya Bima dengan tajam, namun cowok itu bergeming. Sebelum Flo bicara, Pak Andre datang bersama beberapa tukang yang sudah membawakan kaca baru untuk digantikan di ruangan tersebut. “Wah, maaf ya, Pak. Saya agak lama. Tadi kontak tukang yang biasa ternyata sedang pulang kampung katanya. Makanya nyari tukang mendadak ini, Pak Bima,” ujar Pak Andre sangat sopan. Bima menoleh pada Pak Andre dan mengangguk. “Nggak apa, Pak. Tapi boleh nggak saya pinjam ruang meeting yang tidak ada kaca atau yang kedap suara?” Pak Andre terlihat agak bingung dengan permintaan Bima tersebut. Akan tetapi karena ini adalah bos dengan level tertinggi dan jumlah power yang tak bisa dia bayangkan besarnya, maka Pak Andre hanya bisa menyediakan ruangan yang dipesan tanpa bertanya. Flo sendiri sudah merasa tidak nyaman dengan berbagai permintaan-permintaan Bima tersebut. Tapi mau bagaimana lagi? Dirinya tidak mungkin melawan dan menghancurkan segala bentuk kerja kerasnya selama ini. Bisa ditertawakan Mami berhari-hari nanti. ‘Katanya mau jadi wanita karir yang independen, bertahan di dunia kerja dan tekanan yang segitu saja sudah nyerah?’. ‘Liburannya nggak jadi? Duh, Mami juga udah bilang jangan terlalu ngarep. Apalagi bos kamu itu ketahuan pelitnya’. Flo bahkan sudah bisa memperkirakan ekspresi kemenangan dan cibiran di wajah Mami. Jangan sampai keinginan untuk tetap teguh menjadi seorang perempuan independen yang percaya diri berdiri di atas pijakannya sendiri goyah dan hancur karena ulah satu orang ini. Tidak, itu tidak boleh terjadi. Bagaimanapun, Flo harus bertahan. “Sudah siap, Pak. Biar saya antar ke ruang meetingnya.” Pak Andre tampak selalu siap melayani Bima kapan saja. “Apa karyawan yang ini tahu di mana letak ruang meetingnya?” tanya Pak Andre sambil menunjuk ke arah Flo yang masih mematung. Pak Andre menatap Flo yang hanya menoleh pasrah kepadanya kemudian mengangguk satu kali. “Tahu, Pak. Florencia ini tahu semua hal tentang kantor ini. Tempat penyimpanan file, ruang meeting, tangga darurat pokoknya dia ngerti semua lah.”  Flo memandang tak percaya pada Pak Andre. Gadis itu merasa seperti Pak Andre terlalu berlebihan dalam mempromosikannya. Sebab yang Flo tahu, orang-orang yang mengerti letak tangga darurat yang tidak banyak orang lewat hanya beberapa saja di kantor ini. Itupun diketahui oleh mereka yang memang sudah lama ada di sini dan yang bertampang m***m tentunya. Yang tidak bisa Flo pikir, kenapa harus melakukannya di tangga darurat? Apa mereka tidak mampu menyewa kamar hotel?  “Kalau gitu saya pergi sama dia saja,” sahut Bima tegas.  Suara Bima barusan menyadarkan Flo dari lamunannya. Sudah bisa Flo duga. Sepertinya cowok ini memang ingin membuat dirinya sengsara.  Karena dilihatnya Flo diam saja, Bima pun berbicara. “Bisa antar saya ke sana, Florencia?” tanyanya sambil menekankan nama Flo di akhir kalimat. Flo sama sekali tidak suka dengan situasi ini. Tapi apa dia punya pilihan? Tentu tidak.  “Oke, Pak. Silakan ikut saya.” Flo kemudian berjalan mendahului Bima untuk menunjukkannya ruangan yang semula dipesan. Meski perasaannya tidak enak, Flo coba tetap cool dan tidak berpikiran jauh. Mungkin Bima tidak seburuk itu. Ya, bagaimanapun dia sepupu sahabatnya. Meski orangtua Amanda begitu horor, tapi Amanda tidak demikian. Jadi mungkin saja Bima sama baiknya seperti Amanda cuma tidak terlalu menonjol saja. Ruang meeting yang diminta Bima berada di lantai lima. Di mana untuk sampai ke sana, memerlukan satu kali naik lift dan berjalan agak jauh juga karena lokasinya memang berada di sekitar aula. Selama menuju ke sana, Flo tidak mengeluarkan suara sedikitpun dan dia pun tidak menoleh pada Bima sama sekali. Sebisa mungkin Flo untuk bersikap tidak berlebihan atau over react pada apapun yang akan dilakukan Bima padanya. Begitu sampai di ruang meeting yang dimaksud, Flo langsung menjaga jarak dan menunjukkan pintunya pada Bima. “Ini, Pak, ruangan yang tadi bapak minta.” Bima mengangguk kemudian masuk ke dalam dan melihat suasana ruangan. “Kita bisa merencanakan perampokan bank nih di sini. Senyap banget,” komen Bima dengan nada bicara informal. Dahi Flo mengernyit. Sejak tadi, Bima selalu bicara formal dan seolah-olah tidak mengenalnya. Tapi kenapa sekarang begini? Ah mungkin dia tidak sengaja.  “Maksud bapak?” tanya Flo seolah dia peduli dengan maksud Bima. Tentu tidak, itu hanya basa basi saja. “Maksudnya kalau kita buat sesuatu di sini, dan kita tutup pintunya, orang nggak akan notice juga.” Flo masih tidak bisa paham dengan kalimat Bima dan itu terlihat jelas dari raut wajahnya. Bima kemudian meminta Flo untuk masuk ke ruangan tersebut dengan gerakan tangannya yang seolah mempersilakan. Gadis itu tentu ragu. Kalau cowok ini memperlakukan dia seperti di ruangannya tadi bagaimana? Kalimat tidak punya pilihan kembali menggema di kepalanya. Karir yang sudah susah payah dibangun, jangan sampai runtuh karena hal konyol. Setelah menghela napas dalam, Flo pun melangkahkan kakinya ke dalam ruangan tersebut. “Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanyanya kemudian. Bima mengangguk. “Kalau saya minta kamu tutup pintu kamu pasti langsung mikir kalau saya bakal ngapa-ngapain kamu, kan?!” Flo memberanikan diri untuk membenarkan kalimat itu. “Bukannya memang begitu, ya?” Senyum Bima terulas lagi. Tapi kali ini Flo melihat sesuatu yang lain dari senyum itu. Bukan senyum m***m atau senyum melecehkan seperti yang sebelumnya dia lihat.  “Tampang saya ini memang lebih mudah untuk dicurigai ya ketimbang dicintai?” “Hmm… gimana ya, Pak?” Bima mengecilkan jarak antara mereka dan memandang Flo dengan tatapan yang tajam seolah akan menerkam. “Karena udah dicurigai, gimana kalau aku realisasikan aja sekalian? Biar nggak rugi di akunya?” “Hah?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN