Sepertinya Flo melewati hari ini dengan susah payah. Energinya seakan sudah habis tak bersisa, padahal hari masih panjang. Waktu masih menunjukkan pukul satu siang. Entah makanan apa yang bisa dia santap nanti? Yang jelas, makanan yang tidak akan langsung membuatnya tersedak saat tiba-tiba mengingat sesuatu yang berkaitan dengan Bima. Pintu ruangannya diketuk. Flo mendongak. Maria melambaikan tangannya. “Masuk, Mar,” ucap Flo kemudian menghentikan kegiatannya memeriksa beberapa berkas perjanjian. “Lo nggak makan siang, bu manager?” tanyanya sambil menarik kursi di seberang Flo. Gadis itu menggeleng. “Belum laper tadi gue. Tapi sekarang gue rasa gue perlu makan. Jadi, setelah gue baca satu berkas ini kali, ya.” Flo kemudian menyadari. “Lah, lo sendiri kenapa nggak ke kantin?” “Mau bare

