"Kenapa nggak nikah lagi aja sih, Ren? Biar ada yang bantuin kamu buat jagain Janya juga kan?" Reno praktis menghentikan segala pergerakkannya yang tengah berusaha membereskan perkakas bekas makan Janya, demi dapat mendongak serta menemukan sosok sang Ibu yang berada tepat di seberang duduknya. Wanita berkulit kuning cerah tersebut tampak menanti responsnya dengan kening berkerut atau tidak, itu bukan lipatan-lipatan yang tercipta oleh sebab kernyitan, garis-garis itu memang mulai ada, muncul di sana pada tahun-tahun belakangan. Yang bahkan selama ini luput untuk Reno sadari, surai panjang sang Ibu pun terlihat kian memutih dari terakhir Reno ingat. Yah. Waktu seolah bergulir sesekejap itu. Pun, Reno mengerti apa yang sesungguhnya menjadi kegelisahan utama sang Ibu. Namun, tidak bisakah

